Agnes Mo dan Nasionalisme

54
389
Kalau saya perhatikan sampai utuh wawancara Agnes Mo, tidak ada bicara politik. Dia hanya berbicara tentang pilihan dia dalam menentukan aliran bermusik.
Agnes Mo dan Nasionalisme

Jakarta, NAWACITA – Kalau saya perhatikan sampai utuh wawancara Agnes Mo, tidak ada bicara politik. Dia hanya berbicara tentang pilihan dia dalam menentukan aliran bermusik. Dan itu dilatarbelakangi oleh persepsi dia yang sangat universal tentang kehidupan dan akhirnya menyimpulkan “ saya bukan seperti orang lain dan saya adalah saya. Orang suka tidak suka, itu engga ada masalah” kira kira begitu maksudnya.

Baca Juga: Jejak Nabi Sulaiman di Borobudur, Mungkinkah?

Saya hanya ini mengulas sikapnya soal “ Cause I actually dont have Indonesian blood whatsoever. Cause I’m actually german, japanese, chinese, I was just born in Indonesia. Artinya dengan tegas Agnes Mo mengakui bahwa dia bukan berdarah Indonesia, tapi bisa saja dari german, japanese, chinese. Menurut saya itu bukanlah berarti dia tidak mencintai Indonesia, tidak punya jiwa nasionalisme. Tetapi hanya berusaha jujur secara intelektual mengatakan siapa dia. Bahwa Indonesia adalah nama dari sebuah jiwa Pancasila. Tidak identik dengan suku, asal nenek moyang. Indonesia ya indonesia. Kalau kita anggap Indonesia berkaitan dengan asal usul kita, maka kita akan terjebak dengan istilah pribumi dan non pribumi.

Padahal kalau mengacu kepada KBBI maka yang dimaksud pribumi itu adalah penduduk yang asli lahir, tumbuh, dan berkembang berasal dari tempat negara tersebut berada. Jadi, siapapun anda yang lahir di Indonesia, besar di Indonesia maka anda adalah pribumi. Tidak peduli orang tua atau buyut anda berasal dari Arab, China, India , Jepang atau Eropa. Anda adalah pribumi ! Nah pertanyaan berikutnya, mengapa masalah Agnes Mo ini jadi heboh?, seakan membangkitkan nasionalisime? Saya rasa itu karena terjebak dengan narasi non pribumi dan pribumi. Ini sudah politik.

Baca Juga: Behind the Scene Politik Bisnis di Indonesia

Yang pertama kali mengenal berpolitik cara ini adalah kolonial Belanda. Politik diskriminasi. Belanda mengistilahkan pribumi dan pribumi untuk membedakan mana yang warga penjajah dan terjajah. Mengapa ? Agar isolasi politik, perlakuan sosial oleh penguasa terhadap rakyat jajahan dapat dilakukan secara efektif sehingga secara sosial dan budaya para kaum pribumi itu jadi terjajah. Tapi harus ingat , bahwa istilah pribumi dan non pribumi itu bukan berdasarkan definisi kelahiran, tapi berdasarkan status sosial orang. Orang etnis china atau Arab bahkan jawa atau melayu sekalipun yang masuk kelompok feodal, menganggap dirinya bukan pribumi agar status sosialnya berbeda dengan rakyat jelata. istilah mereka “ hitam hitam , belanda juga”.

Di era Soekarno, istilah Pribumi dan non pribumi masih dipakai bukan bertujuan diskriminasi tapi tak lebih cara Soekarno melakukan revolusi mental agar kaum kaya bangsawan yang masih menganggap dirinya berbeda dengan rakyat jelata mengubah sikapnya untuk memandang semua orang itu sama. Sampai Soekarno mengkampanyekan agar kaum pribumi diberi hak istimewa di bandingkan non pribumi. Yang dimaksud non pribumi itu bukan orang china, atau arab, barat tapi orang yang masih menganggap dirinya kaum bangsawan. Mental bangsawan itu memang mental penjajah, walau dia sendiri adalah orang Indonesia asli.

Baca Juga: Mens sana in Corpore sano

Di Era Soeharto , istilah pribumi dan non pribumi dipakai lagi. Tujuannya spesifik terhadap etnis china. Maklum ini berangkat dari politk Orba yang bangkit dari akibat kemenangan melawan PKI yang pro China. Diskriminasi terhadap etnis China tak lebih politik ingatan agar umat islam sebagai musuh utama PKI dapat terus mendukung Soeharto berkuasa. Sementara secara pribadi Soeharto sendiri sangat dekat dengan etnis China, Semua sahabat Soeharto yang menggerakan ekonomi indonesia adalah etnis China dan mereka berkembang berkat konsesi bisnis yang diberikan Soeharto secara KKN. Dan terbukti belakangan Soerhato melarang penyebutan istilah pribumi dan non pribumi. Di era Reformasi amandemen UUD 45 tidak lagi menyebut istilah pribumi tapi penduduk asli indonesia dan mereka disebut WNI.

Anies waktu pelantikan sebagai Gubernur DKI, dia kembali berbicara soal pribumi dan non pribumi. Ingatan orang langsung tertuju kepada politik diskriminasi ala Soeharto yang menggunakan emosi umat islam membenci China agar berkuasa. Dan partai Gerindra juga menggunakan istilah pribumi agar dapat meraih kekuasaan dengan mudah. Mengapa ? Karena memang sebagian besar umat islam di Indonesia secara ekonomi tidak mendapatkan keadilan. Bagi Anies yang phd ilmu politik dan Gerindra yang memang basisnya idiologi Soeharto, tahu percis menggunakan issue pribumi untuk memancing emosi umat islam mendukung mereka berkuasa di Negeri ini.

Padahal ketidak adilan ekonomi itu ada bukan karena negara menciptakan diskriminasi sosial dan politik terhadap umat islam tapi memang secara mental sebagian umat islam masih terjajah oleh pemikiran mereka sendiri, sehingga sulit bersosialisasi dan berkembang karena waktu. Apalagi sebagian ulama semakin memperbodoh mereka agar menjadi haters demi tujuan politik dan uang. Benarkah ? Lah itu etnis china yang jelas di diskriminasi oleh Soeharto, kok mereka tetap bisa berkembang karena waktu. Dan sukses secara ekonomi. Mengapa ? Merdeka atau tidak merdeka negara, secara pribadi mereka sudah merdeka, baik dari segi pemikiran maupun budaya.

Baca Juga: Rasio yang Kerdil, Melahirkan Baper yang tak Terhingga

Jadi masalah ketidak adilan sosial dan ekonomi bukan karena politik negara tapi karena mental. Perbaikilah mental, jangan ada lagi istilah pribumi dan non pribumi. Semua kita adalah Indonesia darimanapun asal nenek moyangnya. Nasionalisme ? itu kalau anda bayar pajak, taat hukum, tidak korup, mandiri, dan tidak ada niat mengubah dasar negara dan cinta persatuan dan kesatuan.

Erizeli Jely Bandaro (Pecinta Kebijaksanaan)

Comments are closed.