Rakyat Indonesia tidak Merasa Krisis

1
524
Di masa depan semua orang pasti mati. Ngapain mikir. Yang penting nikmati hari ini selagi bisa dan syukuri
Rakyat Indonesia tidak Merasa Krisis

Jakarta, NAWACITA – Ketika bertemu dengan teman dari Eropa dan AS dalam salah satu rapat bisnis tahun 2013, kami sempat membicarakan soal krisis yang sedang melanda AS dan Zona Eropa itu. Teman ini semakin pesimis dengan keadaan negaranya masing masing. Nampak mereka kehilangan kepintaran sebagaimana selama ini menjadi kebanggaannya untuk mengatakan ASIA bodoh.

Baca Juga: Indonesia Memang Unik, Baperan?

“Bagaimana dengan Indonesia?. tanya mereka.
“Indonesia tidak pernah krisis. Yang krisis itu adalah pemerintah. ” Saya jawab dengan enteng. Mereka nampak bingung dengan ungkapan saya itu. “Kami rakyat sejak merdeka sampai kini tidak merasakan kehadiran pemerintah di dalam kehidupan kami. Kami baru menyadari Negara itu ada ketika mau Pemilu atau ngurus Izin atau perlu Passport.” Sambung saya. Mereka bengong lagi.

“Coba perhatikan. lanjut saya ” ketika tahun 1998 saat krisis ekonomi ASIA , kami Negara yang terpukul paling keras. Ketika itu, rasio utang terhadap PDB bahkan sudah mendekati 100 persen, tak beda dengan situasi Eropa dan Amerika Serikat saat ini. Ditambah lagi ketika itu, kami juga sedang menghadapi krisis politik dengan jatuhnya Soeharto. Ditengah situasi itu, kamipun terkena bencana alam Tsunami dengan korban diatas 300,000 jiwa.

Bayangkanlah, bila ini terjadi di Eropa atau AS, krisis ekonomi datang, krisis politik juga mendera, bencana alam terburuk menimpa. Saya yakin Negara kalian akan hancur.” Kata saya dengan santai. Mereka bengong. Mungkin mereka baru menyadari bahwa pernah ada prahara lebih berat dibandingkan mereka kini.

“Lantas bagaimana negara anda bisa keluar dari situasi terburuk itu ? Kata mereka dengan antusias ingin mengetahui lebih jauh.

“Yang krisis itu pemerintah bukan rakyat. Rakyat justru diuntungkan karena kurs rupiah jatuh, harga jual produk pertanian juga melambung naik. Banyak petani di daerah kaya mendadak. Makanya mereka hanya tahu krisis dari media massa namun tidak merasakannya dalam kehidupan sehari hari. Akibatnya para elite politik bisa berdamai satu sama lain untuk mengambil kebijakan yang cepat melalui penyelamatan perbankan dan dunia usaha sekaligus. Pemerintah atas dasar keputusan politisi menanggung semua hutang perbankan dan swasta itu dan selanjutnya akan menjadi beban rakyat selama lamanya lewat APBN. ”

“Apakah itu semuanya ditanggung ? bagaimana dengan mereka yang menjarah perbankan? Tanya mereka beruntun.

” Ada yang diadili dan tak banyak yang di penjara. Apa peduli kami?.

Mereka geleng geleng kepala.

” Mengapa rakyat Indonesia tidak marah? Tanya mereka bingung.

” Apa peduli kami? Jawab saya singkat. ” Namun lihatlah hasilnya kini, dunia usaha bangkit, perbankan tumbuh dengan percaya diri, kelompok menengah tumbuh cepat. APBN meningkat ratusan persen dibandingkan sebelum krisis, rasio hutang tinggal 20%. Hebat kan.

Baca Juga: Salip Kuda, Pakai Kuda. Cara Jokowi taklukkan Rente

“ Apakah dengan situasi sekarang ini rakyat Indonesia mendapatkan kemakmuran? Tanya mereka.
“Apa peduli kami soal kemakmuran.” Jawab saya santai.
“Dengan data yang anda berikan itu sudah cukup bukti bahwa rakyat Indonesia makmur.” Kata mereka.
“ Siapa yang peduli dengan angka statistic itu.?
“ Jadi apa yang rakyat Indonesia pedulikan?
“ Kami juga tidak tahu apa yang kami pedulikan. Kami hanya berpikir hari ini dan bersyukur bahwa kami masih bisa bernafas menghirup udara pemberian Tuhan dan manikmati sinar matahari sepanjang tahun, yang keduanya gratis dari Tuhan. Soal makan , sedikit disyukuri, banyak berbagi. Itu saja. “

“ Bagaimana soal masa depan ? Tanya mereka dengan cepat.

“ Di masa depan semua orang pasti mati. Ngapain mikir. Yang penting nikmati hari ini selagi bisa dan syukuri.”

Mereka bengong dan saya tersenyum sambil menyeruput kopi, nyengir…

Erizeli Jely Bandaro (Pecinta Kebijaksanaan)

Comments are closed.