Gaya 69, Menggelitik tapi Meluruskan Cara Berpikir

2
1345
Gaya 69 dalam hal ini, lebih kepada bagaimana melihat kebenaran secara jernih dan komprehensif dalam pelbagai sudut pandang. Angka 6 dan 9 secara teks dan konteks, memiliki makna yang berbeda.
Gaya 69, Menggelitik tapi Meluruskan Cara Berpikir

Jakarta, NAWACITA – Pada hakekatnya, pola dan konstruksi berpikir, sangat menentukan tindakan setiap pribadi dalam mengambil keputusan dan melihat diri. Gaya 69, untuk sebagian orang akan diingatkan dengan sosok Sugiono dari Jepang yang sarat dengan peran romantika dewasa.

Gaya 69 dalam hal ini, lebih kepada bagaimana melihat kebenaran secara jernih dan komprehensif dalam pelbagai sudut pandang. Angka 6 dan 9 secara teks dan konteks, memiliki makna yang berbeda. Tetapi bila diperhatikan sekilas, akan terkesan sama dan tidak ada bedanya, tergantung dari sisi mana kita melihatnya.

6 bisa menjadi 9 dan 9 bisa menjadi 6. Angka ini memuat dua sisi ambigiutas, bila tidak ditempatkan secara tepat.

Baca Juga: Bolivia yang Perkasa kini jadi Loyo

Dialektika kebenaran menurut seorang bijak, tergantung peneguhan sikap atas kesepakatan yang diamini. Kebenaran itu universal, tidak parsial. Kebenaran itu berlaku untuk semua dan menjangkau semua yang ada. Secara filosofis, konsep kebenaran tidak hanya sebatas apa yang tersurat, tetapi juga tersirat.

Saat ini, bangsa kita sedang dilanda demam konsep kebenaran versi subyektif. Setiap kelompok bahkan pribadi, berusaha menunjukkan bahwa konsep kebenaran yang diyakininya dalam pikiran, menjadi mutlak berhadapan dengan kebenaran universal. Dan inilah awal mula benturan yang menggiring pada chaos.

Bigot dan bagot adalah sahabat baik. Mereka adalah dua orang murid yang sangat menonjol di pelajaran matematika. Dalam satu waktu yang tak disangka, mereka terlibat perkelahian sengit yang membuat tubuh keduanya harus lebam dan berdarah-darah di sekujur tubuhnya. Hubungan persahabatan menjadi hancur, komunikasi keduanya menjadi putus.

Disinyalir bahwa, awal mula dari semua kejadian tersebut, hanyalah masalah sepele saja. Bigot dikenal idealis. Sebab selama ini, ia merasa bahwa apapun yang ia kerjakan bersama bagot selalu benar dan mendapat pujian dari guru-gurunya di kelas. Sementara bagot, dikenal dengan sikapnya yang agak egois, selalu bersikukuh bahwa yang ia kerjakan bersama dengan bagot, benar karena sumbangan idenya.

Suatu siang, pada saat jam istrahat di kelas, bigot dan bagot terlibat dalam sebuah permainan tebak angka. Posisi keduanya saling berhadapan. Awalnya, bigot mengajak bagot untuk menebak angka yang dia tuliskan di atas meja, tepat di depan bagot. Bigot menulis angka 6 dan menyuruh bagot menebak, itu angka berapa.  Dengan cepat bagot menjawab, Bi kamu bodoh banget yah, itu sudah pasti angka 9 lah. Dengan cepat, bigot menyambar dan menjawab, Ba, kamu yang paling blo’on, itu angka 6. Kedua saling bersikukuh, dan itulah awal petaka yang membuat hubungan keduanya menjadi renggang sampai saat ini.

Hal yang senada juga menjadi catatan yang senada dengan kondisi kebangsaan kita saat ini. Bigot vs Bagot dan Idealisme vs Egoisme. Semua merasa benar dengan cara pandang sendiri, tanpa memberi kesempatan untuk mencari alasan yang tepat mengapa pihak yang lain memberi jawaban yang berbeda untuk setiap peristiwa dan subyek yang sama.

Baca Juga: Taktik Jokowi, Tidak Sekadar Tik-Tok

Kontestasi demokrasi yang digelar beberapa waktu yang lalu, telah melahirkan kubu pengklaim kebenaran mutlak ala bigot bagot. “yang ini mantap, yang itu mantan, yang ini OK yang itu KO”. Bentuk-bentuk pernyataan persuasif bernada primordial, menunjukkan sebuah degradasi dalam cara berpikir di era industri 4.0.

Itulah mengapa, Thomas Aquinas dalam sebuah dalil di abad pertengahan mencetuskan sebuah konsensus antara fides et ratio (iman dan akal). Thomas mengatakan bahwa tidak ada determinasi antara keduanya. Yang ada adalah iman dan akal terlalu memutlakkan kebenarannya sendiri, layaknya bigot dan bagot yang tetap bersikukuh dengan angka 6 dan 9-nya.

Akibatnya, ilusi jalan pikir iman dan radikalitas rasionalitas saling mengklaim independensi. Yang muncul kemudian adalah rasionalitas melahirkan skeptis dan agnostik, sementara ilusi iman mengagungkan bayang-bayang ala ‘Gua Plato’.

Terlepas dari dalil dan analogi filosofis tersebut di atas, gaya 69, yang cukup menggelitik itu menjadi nyata dalam hal ini. Terkadang, konsep kebenaran tunggal menjadi bumerang berhadapan dengan kelompok dan keyakinan yang plural. Seperti halnya bigot dan bagot yang tetap ngotot dengan kebenarannya masing-masing.

Kebenaran memiliki banyak wajah, tergantung kita mengintipnya dari sisi timur atau barat, atas atau dari bawah.

Wajah kebhinekaan dalam inklusifitas, hendaknya jangan diciderai oleh aroma tak sedap karena pemaksaan kebenaran tunggal. Keterbukaan dan kerendahan hati untuk ‘angkat pantat” melihat dari sisi yang berbeda, membuat semua pihak akan menyadari betapa kebenaran itu hadir meresapi setiap aliran nadi yang hidup dan bergerak.

Tidak perlu  hanya fokus pada 6 atau 9 nya, out of the box. Lihat dengan mata dan peran yang berbeda disisi yang lain. Niscaya, kita akan menikmatinya dengan sensasi yang membuai jiwa. Kita boleh sesekali jadi bigot dan bagot, tapi jangan keseringan, karena akan jadi bandot benaran hehehe…. oh 69

Comments are closed.