Jejak Nabi Sulaiman di Borobudur, Mungkinkah?

42
341
Saya baca ada postingan anak anak pondok pesantren pergi wisata ke Borobudur untuk melihat keagungan bangunan buah karya nabi Sulaiman.
Jejak Nabi Sulaiman di Borobudur, Mungkinkah?

Jakarta, NAWACITA – Saya baca ada postingan anak anak pondok pesantren pergi wisata ke Borobudur untuk melihat keagungan bangunan buah karya nabi Sulaiman. Kabar bahwa Borobudur itu diciptakan oleh Nabi Sulaiman melalui kekuatan Jin. Alasannya, bagaimana bisa menyusun batu besar besar dalam susunan yang simetris dan akurat. Ketika itu tidak ada alat angkut berat yang bisa mengangkut batu sebesar itu. Saya tersenyum. Borobudur dibangun abad 8 atau kira kira tahun 750 Masehi. Sementara nabi Sulaiman itu lahir di era sebelum Masehi. Jadi jauh sekali jaraknya untuk dicocokkan. Tapi kalau begitu, bagaimana caranya membangun Borobudur itu?.

Baca Juga: Mens sana in Corpore sano

Saya berteori secara logika. Bahwa ketika Borobudur dibangun, di China sedang berkuasa dinasti Tang. Saat itu peradaban budaya dan teknologi china sedang berada di puncak. Salah satunya adalah teknologi tembikar. Nenek moyang kita terutama agama Budha sudah menguasai tekhnologi tembikar itu. Di Jawa itu banyak terdapat Gunung Merapi. Lava gunung merapi itu bisa dijadikan material teknik yang unik untuk membuat bahan bangunan. Saat sekarang, bahan bangunan dari lava gunung merapi disebut geopolimer anorganik. Lebih hebat dari material semen bertekhnologi Portland, yang membutuhkan unsur kalsium (Ca), sebaliknya geopolimer anorganik tidak memerlukan pembentukan kalsium–silika–hydrates (CSH) dalam pembentukan matrik dan kekuatannya. Bahan gunung Merapi ini sangat baik untuk bahan membuat tembikar.

Baca Juga: Belajar dari Tukang Cukur Orang China

Jadi bayangkan, nenek moyang kita ketika membuat borobudur tidak membawa batu besar untuk disusun jadi candi. Tetapi membawa pasir dan tanah liat, yang kemudian dicetak jadi seperti batako berukuran besar. Sebelum kering, tentu mudah untuk dipahat jadi patung dan ukiran dinding. Kelebihan lava gunung merapi ini adalah dia lebih mudah kering. Kalau sudah kering akan sangat keras seperti batu. Tekhnologi ini, sampai kini masiih dipakai di China dan Afrika untuk membangun jalan dan jembatan. Anehnya dikita, yang paling banyak sumber material gunung merapi, tetapi tergantung kepada semen portland.

Baca Juga: MUI (di) Dalam Arus Politik Tanah Air

Saat sekarang sedang ada upaya mengislamkan semua situs kuno. Sampai Sriwijaya dibilang fiksi. Bahkan dibilang kumpulan bajak laut. Para walisongo semua berasal dari Arab dan Persia, tidak ada yang berasal dari China. Padahal faktanya sebagian besar berasal dari china. Singkatnya kisah dan fakta sejarah yang sudah disusun oleh para ahli sejarah, ahli arkeologi dengan pendekatan tekhnologi mutakhir, dikaburkan begitu saja oleh mereka yang tidak jelas kompetensinya. Anehnya, dipercaya oleh kaum bigot.

Benarlah kata, Marx , agama itu seperti candu yang bisa membuat orang bego dan dungu bila disampaikan dengan nafsu. Itulah yang kini melanda indonesia, yang sebagian umat kecanduan agama yang membuat mereka irasional, pengeluh dan pembenci. Membuat mereka menelan begitu saja kebenaran dari ustadz yang dengan mudah menjadikan China yang jauh sebagai ancaman, sementara AS yang mengepung Indonesia dengan banyak pangkalan militer, tidak dianggap ancaman. Ya, Agama itu akan menjadi sumber kecerdasaran intelektual dan spiritual bila disampaikan dengan hati dan cinta, dan diterima dengan akal yang sehat.

Erizeli Jely Bandaro (Pecinta Kebijaksanaan)

Comments are closed.