Impotensi BUMN

10
416
Hampir semua BUMN sekarang neracanya mengalami tekanan hutang. Itu karena penugasan yang begitu besar diberikan kepada BUMN untuk mempercepat 243 proyek strategis yang ditetapkan Jokowi.
Impotensi BUMN

Jakarta, NAWACITA – Hampir semua BUMN sekarang neracanya mengalami tekanan hutang. Itu karena penugasan yang begitu besar diberikan kepada BUMN untuk mempercepat 243 proyek strategis yang ditetapkan Jokowi. Memang proyek itu semua selesai dikerjakan dalam periode pertama Jokowi. Tetapi menimbulkan dampak terhadap kekuatan BUMN untuk tumbuh berkelanjutan. Bagaimana bisa tumbuh lagi kalau neraca keuangan perusahaan sudah tidak bisa lagi di leverage?.

Baca Juga: Taktik Jokowi, Tidak Sekadar Tik-Tok

Lantas apa penyebabnya? Sebelum saya jawab. Sebaiknya saya jelaskan secara ringkas apa itu leverage? Leverage adalah seni penggunaan hutang untuk melakukan investasi atas proyek. Hasilnya adalah melipatgandakan potensi pengembalian dari suatu proyek. Pada saat yang sama, leverage juga akan meminimize resiko jika investasi tidak berjalan dengan baik. Artinya apapun yang terjadi perusahaan tetap aman dari potensi kerugian yang besar. Jadi sebetulnya leverage itu bertujuan menghindari resiko tekanan hutang pada neraca. Untuk lebih jelas nya saya analogi sebagai berikut.

Contoh, saya mau investasi proyek Toll. Saya menunjuk SPV (perusahaan kaleng kaleng) sebagai investor. Nah SPV inilah yang melakukan pinjaman. Apakah ada yang mau? Tentu ada. Karena saya memberikan jaminan resiko. Tapi resiko itu hanya 10% dari nilai investasi. Artinya kalau seandainya proyek itu tidak berjalan sesuai rencana, resiko saya bayar dan proyek atas nama SPV menjadi pemilik kreditur. Kalaupun proyek itu dijual , kreditur tidak akan rugi. Sementara kerugian saya hanya 10%. Tetapi kalau proyek berjalan sesuai rencana, saya bisa memiliki proyek senilai 100% tanpa ada resiko hutang secara langsung. Dengan demikian saya tetap terus bebas me leverage neraca saya untuk ekspansi.

Baca Juga: Hutang BUMN dan Resiko Kebangkrutan Negara

Masih banyak lagi contoh leverage yang tidak punya resiko besar dan justru semakin meningkatkan kemampuan perusahaan melakukan ekspansi bisnis. Tetapi mengapa justru sekarang BUMN mengalami tekanan hutang? Sebagai catatan, data PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo), total obligasi dan sukuk BUMN hingga Agustus tahun ini, sudah mencapai Rp 251,8 triliun. Nilai ini sudah setara dengan 50,4% dari total outstanding obligasi korporasi yang beredar saat ini Rp 499,9 triliun. Padahal, di 2013 nilainya baru Rp 71,5 triliun atau setara 33% dari total obligasi korporasi. Padahal pembiayaan itu untuk proyek yang tergolong captive market dan secure. Pemerintah pun memberikan tambahan modal ( PMN) yang begitu besar dari APBN agar neraca mudah di leverage.

Jawabnya sederhana…

Pertama, sebagian besar leverage itu didanai dari pinjaman bank. Dan sebagian besar bank BUMN juga. Artinya kantong kiri kering pinjam ke kantong kanan. Dampaknya hutang perbankan BUMN juga meningkat untuk membiayai proyek BUMN. Kedua, adalah sumber pembiayaan diluar perbankan jauh lebih kecil dibandingkan pinjaman bank. Padahal pinjaman diluar perbankan meningkat 3 kali lipat selama era Jokowi. Artinya minat pasar uang dan modal memang tinggi terhadap surat utang BUMN. Mengapa itu tidak di perbesar porsinya? Ya lagi lagi pembeli surat utang juga sebagian besar adalah Dana kelola negara seperti Danapensiun, BPJS tenaga kerja, dana haji. Kalaupun ada yang berhasil menerbitkan global Bond, itupun sifatnya senior Bond, yang berdampak langsung dengan resiko neraca perusahaan. Ada juga obligasi yang dijamin APBN yang beresiko terhadap kekuatan fiskal.

Ketiga, mental direksi BUMN masih dominan belanja atau berorientasi kepada proyek, bukan peningkatan value perusahaan. Terbukti sejak era Jokowi masing masing BUMN berlomba lomba membentuk anak perusahaan yang permanen. Ini semakin meningkatkan resiko management. Karena anak perusahaan tidak didirikan dengan tujuan leverage tetapi untuk belanja. Sehingga semakin membebani cash flow BUMN.

Baca Juga: BUMN Mau Maju, Belajarlah ke China

Apa solusinya? BUMN harus berhenti mendapatkan sumber pembiayaan konvensional. BUMN harus mulai berani melirik private investor dengan skema hedge Fund melalui berbagai instrument. Caranya? Direksi BUMN jangan lagi berburu investor di kebun binatang. Tetapi harus mau masuk ke rimba belantara keuangan dunia yang 90% dikuasai pemain hedge Fund. Mereka tidak nampak terang benderang tetapi mereka mengontrol Sophisticated Fund. Mereka ada di bunker keuangan dunia dan membungkus dirinya dengan rapi. Selagi proyek bagus dan aman serta dikelola dengan transfaran, mereka akan muncul dengan cara bersahaja namun menyelesaikan dengan cepat. Kemudian segera lakukan penjualan anak perusahaan. Dan bentuk sebanyak mungkin SPV untuk meleverage neraca melalui pembiayaan non konvensional.

Erizeli Jely Bandaro (Pecinta Kebijaksanaan)

Comments are closed.