Menang Dalam Kelemahan, Mungkinkah?

1
99
Perang dagang yang dilancarkan AS kepada China tak lain adalah pengakuan kekalahan AS terhadap China.
Menang Dalam Kelemahan, Mungkinkah?

Jakarta, NAWACITA – Perang dagang yang dilancarkan AS kepada China tak lain adalah pengakuan kekalahan AS terhadap China. Kata teman saya dalam kesempatan makan malam kemarin. Mengapa? Tahun 70an kami memang lemah. Namun kami tidak menampakkan kelemahan kami di hadapan asing. Mereka kami hormati dengan memberikan segala kemudahan. Kami tempatkan diri kami begitu mudah dikalahkan dan dikuasai. Tetapi berlalunya waktu, kami bisa punya industri apa saja dengan tekhnologi dan pasar dari AS dan Eropa. Semua itu tidak dengan kami mengorbankan sumber daya alam tetapi dengan pengorbanan kerja keras berupah murah. Karena itu ongkos produksi jadi murah dan modal sebagai kekuatan kapitalis mengalir deras ke China. Kami bisa membangun dengan cepat yang hampir tidak mungkin bisa dilakukan oleh negara manapun. Itu karena kami belajar bijak dari keariban budaya.

Baca Juga: BUMN Mau Maju, Belajarlah ke China

Ada cerita zaman dulu. Kira kira 208 Masehi. Tersebutlah ada seorang Jenderal yang cerdas dan bijaksana. Namanya adalah Zhuge Liang. Dia dipercaya oleh koalisi negara Shu dan Wu untuk menghadapi serangan besar dari negara Wei bagian Utara. Secara logistik hampir tidak mungkin negara Shu dan Wu bisa menghadapi kekuatan negara Wei. Namun mereka punya jenderal cerdas, Zhuge Liang. Kepada dialah semua bersandar untuk bisa menang menghadapi pasukan dari negara Wei. Disinilah jeniusnya strategi Zhuge Liang. Dia tidak malawan secara langsung. Tetapi membiarkan pasukannya terbuka untuk diserang dengan mudah. Ratusan kapal nya menyeberangi sungai. Cara ini jadi bulan bulanan lawan, yang segera menghujani dengan anak panah. Sedikitnya 100.000 anak panah diarahkan ke pasukan Shu dan Wu.

Lantas apa yang terjadi ? Tidak ada pasukan Shu dan Wu yang kena anak panah. Karena memang yang ada di dalam kapal itu bukan manusia tetapi hanya patung manusia yang terbuat dari jerami. Lantas mengapa pasukan lawan tidak mengetahui? Karena cuaca buruk sehingga menghalangi jarak pandang pasukan lawan kearah mereka. “ Seorang jenderal harus benar-benar ahli bukan hanya dalam strategi perang, tapi juga dalam astronomi, geografi, ramalan, serta prinsip yin dan yang,” jawab Zhuge ketika ditanya oleh kaisarnya “Saya sudah melihat kabut tebal akan turun tiga hari lagi, jadi saya merancang rencana saya.”

Apa yang terjadi dengan AS adalah sama dengan yang terjadi pada negara Wei. Deng sebagai bapak pembaharuan China, punya cara. Cara terbaik mendapatkan kebaikan dari lawan. Ketika itu perang dingin. China bersekutu dengan Unisoviet tapi merendah kepada AS dan barat. Deng sangat paham kehebatan AS namun pada waktu bersamaan sangat paham kelemahan AS. Apa kelebihan AS ? Kapitalis. Lantas apa kelemahan AS? Ya kapitalis. China memberikan tanah subur bagi kapitalisme AS dan barat agar semua kekuatan modal dan tekhnologi pindah ke China. AS baru menyadari betapa bodohnya mereka ketika IBM diakuisisi oleh Lenovo. Ketika Bank of America diambil alih oleh China contruction bank, dan terakhir HSBC diambil alih oleh Ping An Bank. Tidak ada lagi kebanggaan AS. Dan kini AS merupakan negara penghutang terbesar dan itu hutangnya ke China.

Baca Juga: BTP atau HMP? Eloklah kau cari kawan nak!

Di tengah perang dagang, Index manufacture China kini membaik. Index kepuasan rumah tangga juga meningkat. Pertumbuhan ekonomi 6 % jauh lebih tinggi dari AS dan UE serta Indonesia. Mengapa Cina begitu lentur di tengah krisis global? Tahun 2008 oktober, atau dua bulan setelah Lehman jatuh, saya bertemu dengan rekan yang berkerja di Biro economy reform China. Saya mengenalnya waktu sama sama peserta kursus financial engineering tahun 1996 di world bank. “ MR.B, kami akan alihkan anggaran ke desa dan memperkuat Ekonomi domestik lewat pemberdayaan usaha kecil dan menengah. Saatnya mendistribusikan kemakmuran secara efektif. Dana stimulus sebesar USD 350 miliar akan di pompa.” katanya.

“Mengapa tidak membantu dunia usaha yang oleng? kata saya.
“Tujuan kami membangun dari awal adalah rakyat, sementara asing itu hanya intermezo aja. Kalau perusahaan asing bangkrut disini atau hengkang, pengusaha china siap ambil alih.”

Krisis ekonomi ini memang membuat banyak industri di kota bangkrut namun pengangguran tidak terjadi. Yang terjadi adalah pendistribusian kesempatan kerja. Pemerintah juga menjaga dengan ketat disparitas harga per wilayah agar UMR rendah satu wilayah tidak memenggal penghasilan pekerja karena harga tidak terjangkau. Contoh buruh pabrik saya di Shenzhen upahnya RMB 4500 atau Rp.7 juta sebulan. Buruh pabrik saya di Ginzo (Guangxie ) hanya RMB 800 atau Rp 1.600.000 sebulan. Tetapi dengan gaji Rp. 1.600.000 daya belinya sama dengan penghasilan Rp. 7 juta sebulan di Shenzhen. Sehingga selama krisis itu, negara lain sibuk berbenah sektor moneter tetapi china menggunakan moment itu untuk distribusi keadilan. Darimana uangnya? Cina menarik utang dari orang kaya dengan insentip pajak rendah.

Erizeli Jely Bandaro (Pecinta Kebijaksanaan)

Comments are closed.