Hutang BUMN dan Resiko Kebangkrutan Negara

9
284
Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir buka suara tentang utang perusahaan plat merah yang menggunung. Berdasarkan data pada semester I-2019, utang BUMN mencapai Rp3.776,2 triliun.
Hutang BUMN dan Resiko Kebangkrutan Negara

Jakarta, NAWACITA – Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir buka suara tentang utang perusahaan plat merah yang menggunung. Berdasarkan data pada semester I-2019, utang BUMN mencapai Rp3.776,2 triliun. Menurut informasi dari teman teman pengusaha, saat sekarang masalah terbesar sebagian BUMN adalah kelangkaan sumber daya keuangan untuk berhutang. Masalahya bukan hanya karena investor menahan diri akibat krisis global tetapi juga karena secara akuntasi DER udah tinggi. DER merupakan indikator yang menunjukkan kemampuan membayar utang suatu perusahaan. Semakin rendah nilai DER, menunjukkan suatu perusahaan memiliki kemampuan baik mengembalikan pinjaman.

Baca Juga: BUMN Mau Maju, Belajarlah ke China

Sebagai contoh, nilai DER BUMN sektor properti dan konstruksi pada 2017 mencapai 2,99, sementara rata-rata industri berada di kisaran 1,03. Jika dibandingkan dengan sektor lain, misalnya transportasi, nilai DER BUMN relatif rendah di angka 1,59, sedangkan nilai DER rata-rata industri mencapai 1,96. Nilai DER tertinggi pada 2017 dicatat oleh BUMN pada sektor bank sebanyak 6,00. Angka itu sedikit lebih besar dari DER rata-rata industri yang mencapai 5,66. Apakah itu salah? tidak juga. Karena BUMN itu berhutang untuk produksi. Itu sebagai indikasi mereka selama era Jokowi melakukan ekspansi.

Berbeda dengan sektor energi dan telekomunikasi nilai DER BUMN tergolong rendah, masing-masing berada di angka 0,71 dan 0,77. Artinya BUMN ini secara financial sehat tetapi secara bisnis tidak melakukan ekspansi. Padahal bisnis mereka mendapat proteksi dari negera seperti TELKOM, PLN dan Pertamina. Anehnya, kalah bersaing dengan BUMN yang free market dalam melakukan ekspansi bisnis. Padahal gaji direksi di BUMN energi dan Telkom sangat besar bila dibandingkan dengan BUMN karya dan Perbankan.

Tugas Eric adalah bagaimana mendorong perusahaan plat merah terus melakukan ekspansi sesuai dengan program pemerintah. Karena disituasi ekonomi krisis dan menuju resesi seperti sekarang ini, tidak ada kekuatan swasta yang bisa jadi tulang punggung menyelematkan negara dari lubang krisis. Dalam situasi krisis, apapun bisnis swasta engga lagi menarik. Hanya BUMN yang mampu. Dan saya tidak yakin direksi BUMN mampu mendapatkan sumber dana alternatif dalam situasi negara seperti sekarang ini.

Baca Juga: BUMN dalam Cengkraman Elite Politik

Kini saatnya pemerintah atau Menteri BUMN sendiri membantu direksi BUMN melobi investor institusi dalam dan luar negeri. Perlunya koodinasi dengan Menteri Keuangan dan OJK agar memberikan kelonggaran portfolio bagi DAPEN dan Dana Haji, sehingga bisa lebih banyak disalurkan ke BUMN lewat SUKUK maupun Obligasi. Menteri BUMN juga harus memanfaatkan secara maksimal Wamen nya yang jago financial engineering dan cross border financial transaction untuk membantu direksi BUMN mendapatkan solusi pembiayaan dan menarik dana dari investor asing lewat pasar uang.

Mengapa? defisit APBN tahun depan pasti akan melebar karena kemungkinan besar target penerimaan pajak tidak tercapai tahun ini. Ini akan berdampak kepada pengurangan anggaran yang tidak masuk skala prioritas, temasuk dana PMN ( Penyertaaan Modal Negara) untuk BUMN tidak akan ada lagi dalam pos APBN seperti tahun tahun sebelumnya. Artinya kalau direksi BUMN tidak bisa mendapatkan solusi pembiayaan diluar perbankan, maka program ekspansi akan stuck dan pertumbuhan ekonomi nasional juga akan drop. Maklum 2/3 ekonomi nasional adalah BUMN. Kita akan benar benar resesi.

Nah, dikarenakan negara sedang berharap trust tinggi dari investor maka kondisi politik harus kondusif dan pemerintah kuat terhadap segala goncangan politik. Bayangkan, apa yang terjadi bila SP Pertamina demo hanya karena alasan Ahok, dan pemerintah kalah karenanya. Yakinlah tidak akan ada investor yang percaya bila pemegang saham dikalahkan oleh karyawan. itu akan semakin cepat membuat negara jatuh kejurang resesi. Dampaknya luas sekali terhadap BUMN lainnya. Mengapa? Investor tidak suka dengan perusahaan dan pemerintah yang mudah diserang demo, apalagi oleh karyawan bermental preman dan kadrun.

Erizeli Jely Bandaro (Pecinta Kebijaksanaan)

Comments are closed.