AHOK mungkin “Kelas Glodok”, Tapi Tidak “Segoblok RR”

69
11039
Ahok itu secara pendidikan, dia mumpuni. Dia insinyur geologi. Mendapatkan master dibidang Management. Punya pengalaman sebagai pengusaha dan profesional.
AHOK mungkin "Kelas Glodok", Tapi Tidak "Segoblok RR"

Jakarta, NAWACITA – Rizal Ramli sebagai mantan Menteri dan pengamat ekonomi kawakan, tidak seharusnya tendesius terhadap Ahok dengan menyebut “ Ahok cuma kelas Glodok”., sehingga tidak pantas memimpin BUMN sekelas Pertamina. Satu satunya yang saya tidak suka adalah apabila ada orang menyerang secara personal, apalagi dikaitkan dengan rasis dan bersifat pembunuhan karakter. Saya ingin membuka gambar utuh terhadap satire merendahkan dengan sebutan “ kelas Glodok”.

Baca Juga: Alasan Mengapa Ahok Harus Memimpin Pertamina

Ok. Semua tahu kalau glodok itu identik dengan etnis China. Apa salahnya kelas Glodok. Rendah? Pastinya tidak. Mereka pedagang ulet yang tidak dapat fasilitas dari pemerintah. Mereka berdagang di kios yang harganya mahal. Mereka tidak dapat fasilitas lapak kaki lima di trotoar atau bahu jalan, yang bayar ala kadarnya. Mereka bayar pajak dan tidak hidup dari subsidi. Mereka tidak berbisnis rente yang menguras APBN lewat proyek fiktif atau mark up. Mereka tidak terlibat mafia komoditas yang mengontrol stok dan harga, yang mengakibatkan ekonomi nasional tidak efisien. Mereka terbiasa berkompetisi dan mengambil resiko karena itu.

Namun apakah kehidupan “ kelas Glodok” itu lebih rendah dari kelas pejabat dan atau ekonom? Tidak. Mereka yang berdagang di GLodok itu punya standar penghasilan kelas menengah atas. Sebagian besar putra putri mereka sekolah di Amerika. Tinggal di real estate. Liburan di pusat wisata kelas dunia. Mereka bukan komunitas kaleng kaleng yang ngeluh rumahnya digusur. Yang mengeluh pasar sepi pengunjung. Mereka tangguh dan kreatif mengatasi masalah yang tidak ramah. Mental mereka bukan mental KW yang doyan nasi bungkus dan uang lendir.

Apakah kehidupan seperti “kelas glodok “ itu mudah? tidak! Pastinya butuh kecerdasan luar biasa untuk survival. Tapi pastinya lebih mudah hidup sebagai Rizal Ramli. Pengamat ekonomi, modal cuma congor dapat uang. Modal retorika dapat fee. Modal kasak kusuk dapat jabatan Menteri dan hasilnya hanya cerita tanpa bukti , dan pantas dipecat. Modal gaya intelek dapat istri artis yang janda. Tentu dengan kemudahan dan kemelimpahan pujian itu memabuat RR dengan mudah pula merendahkan orang lain. Tapi pada waktu bersamaan jusru merendahkan dirinya sendiri.

Baca Juga: Pegawai BUMN Tersandera Radikalisme dan Politik Pragmatis

Ahok itu secara pendidikan, dia mumpuni. Dia insinyur geologi. Mendapatkan master dibidang Management. Punya pengalaman sebagai pengusaha dan profesional. Punya pengalaman sebagai politisi dan berkantor di Senayan, dengan track record bersih. Jadi bupati terbaik. Menurut Sri Mulyani, semasa kepemimpinan Ahok, terjadi penghematan APBD DKI yang sangat luar biasa. Dengan modal sekecil-kecilnya ahok mampu membangun dengan maksimal. Ahok juga berhasil membongkar Dana Siluman di Jakarta sebesar Rp.12T. Dari hasil audit terbukti dari pendapatan APBD DKI yang spektakuler.

Bagaimana pendapat Jokowi ? Pujian diberikan Jokowi karena Ahok dan jajarannya di DKI dinilai cerdas mencari sumber pendanaan pembangunan di luar APBD. Atau AHok jago mengelola APBD berdasarkan kinerja. Sebagai contoh konkrit adalah Simpang Susun Semanggi alias Semanggi Interchange tanpa menggunakan dana APBD. Semua pembiayaan di luar APBD itu didukung dengan legalitas yang kuat dan transfarance. Jadi kalau Rizal Ramli bilang Ahok mendapatkan dana non budgeter itu ilegal, jelas salah total. RR tidak paham aturan pengelolaan keuangan daerah berdasarkan kinerja.

Kalau sampai AHok jadi Preskom atau Dirut Pertamina, itu jelas bukanlah politik balas budi. Itu murni karena alasan kompetensi dan kapabilitas serta trust. Secara hukum tidak ada yang dilanggar bila Ahok terpilih jadi boss pertamina. Saya tidak mengerti, mengapa selalu menilai orang dengan cara merendahkan profesi dan etnis. Apakah kehilangan alasan rasional untuk menjegal Ahok jadi pejabat BUMN. Kalau memang tidak bisa cerdas berargumen, sebaiknya diam.

Erizeli Jely Bandaro (Pecinta Kebijaksanaan)

69 KOMENTAR

  1. Pak RR byk cuap2lah toh kinerja dia wkt di menko tdk bkin perubahan yg hebat spt oerjbahan yg dibuat pa ahok wkt jd gub dki, inti nya pa ahok msh lbh kompeten dr pa RR, jd kl pa jd bos pertamina sgt2 pantas dan punya kompetensi utk, bhkan jd meneg bumn pun lbh dr pantas, kl ada penolakan dr serikat pertamina kita smua maklum knp mrk menolak dgn alasan abal2, pa ahok ngomong nya kasar lah, bkin rusuh suasanalah ini suatu aladan konyol yg menggelikan….
    Kl pa ahok di pertamina sy yakin tikus2 gemuk disana akan tertangkap dan pertamina bs bersajng dgn petronas yg gk ada apa2nya dr segala aspek kecuali sdm mrk jauh lbh unggul dr pertamina trtm mslh kejunuran dan etos kerja

  2. Peter Mulyadi’s opinion is very good n very objectly n real life in indonesian country, where dilligent, ability n smart are second case. It’s important case : Ahok is Diffrent religion n etnise calture

  3. Seandainya saya pejabat .saya dukung Ahok jadi boss di Pertamina..susah mencari seperti Ahok orangnya nyeplas nyeplos tapi meyakinkan .terbukti waktu dia hub.dki.jkt bersih.orang yg tidak suka Ahok berarti dia tidak mau negara ini maju maju.kalau masaalah pembawaan itu sudah lumrah.namanya dia keturunan Tionghoa.ratarata keturunan Tionghoa memang nyeplas nyeplos tapi.boleh dipakai.thanks and regards.

  4. Nasib Ahok bikin mewekk yg lihat n dengar, jd kaum minor bisa mati berdiri kl g tahan banting.. dan g akan pernah ada benarnya. Kl bersih pasti akan dicari2 sesuatu yg dibenci masyarakat spy dia jlungup dejlungup2nya

Comments are closed.