Hidup saya adalah cara saya menuju ke Tuhan. Hanya Tuhan ukuran saya dalam berbuat dan berpikir.
Mens sana in Corpore sano

Jakarta, NAWACITAMens sana in Corpore sano. Usia diatas 42 tahun saya masuk ke bisnis Hedge Fund. Sayapun bergaul dengan kalangan yang punya gaya hidup dengan standar kesehatan tinggi. Olahraga sebelum berakitifitas adalah menu wajib. Setiap pagi di Hong Kong setelah sholat subuh saya lari pagi sedikitnya 5 Km, dan biasanya dilanjutkan dengan berenang tiga putaran di kolam ukuran olimpik. Setelah itu saya akan mandi. Sarapan pagi dengan menu kaya serat. Saya tidak makan daging merah. Kesibukan saya begitu banyak, dan makan siang dan malam ditempat yang berkelas. Tentu dengan menu yang sehat dan higines. Sayapun tidak merokok dan tidak minum kopi.

Baca Juga: Belajar dari Tukang Cukur Orang China

Tetapi apakah karena itu kesehatan saya terjamin? Tidak. Dari tahun 2004 sampai tahun 2012 saya kena penyakit pengurangan fungsi lever, jantung koroner, dan peradangan otak tengah yang membuat telinga saya tuli. Apakah penyakit itu membuat saya keluar masuk rumah sakit? Tidak. Justru karena penyakit itu mendatangkan hikmah, bahwa saya harus merestorasi diri. Semua penyakit itu sembuh lewat kekuatan pikiran dan secara berangsur angsur mengubah gaya hidup saya. Saya tidak lagi mau diatur dengan standar gaya hidup lingkungan dimana saya berada.

Saya putra ibu saya, dan dari kecil saya terbiasa makan dengan selera yang saya suka. Itulah yang harus saya nikmati. Mengapa saya harus makan pakai sendok? kalau saya nyaman makan pakai tangan. Mengapa saya harus jadi vegetarian, bila dari kecil saya makan apa saja. Mengapa saya harus bangun pagi pagi sekali untuk olah raga, kalau saya nyaman bersantai baca al Quran dan menulis. Mengapa saya harus berhenti merokok dan ngopi, kalau itu membuat saya nyaman.

Baca juga :  Rapat Terkait Nawacita Awards dengan Wakil Ketum KADIN Sarman Simanjorang, Komisaris Utama Faigiziduhu Ndruru PT MNI : Dilaksanakan 28 Oktober 2022

Mengapa saya terlalu berpikir soal target dan kawatir gagal, kalau dari kecil saya nyaman dengan kegagalan dan keprihatinan. Mengapa saya harus diatur oleh sekretaris dan berpenampian jaim dengan standar kelas middel up kalau saya nyaman dengan kebebasan personal. Mengapa saya kawatirkan penyakit, kalau kematian itu bukan hal yang menakutkan dan setiap orang pasti mati. Ya saya merevolusi diri saya sendiri. Revolusi internal terjadi lewat penyakit mendera silih berganti. Sayapun berubah, bukan menjadi orang lain tetapi menjadi diri saya sendiri. Melakukan dan berpikir tentang hal hal yang membuat saya nyaman.

Baca Juga: Rasio yang Kerdil, Melahirkan Baper yang tak Terhingga

Apa yang terjadi? Sekarang diusia 57 tahun, kalau tidur pules, makan lahap dan BAB lancar. Apakah ada nikmat selain itu? Alhamdulillah. Rasa syukur saya justru ada ketika saya melewati hidup dengan standar nyaman sesuai ukuran saya. Dengan cara itu saya telah berbuat baik terhadap diri saya sendiri. Tidak menyiksa diri dengan standar yang ditentukan orang lain. Saya tidak terganggu dengan penilaian orang lain selagi saya tidak merugikan mereka. Dipuji saya tidak melambung dan dihina saya tidak rugi. Biasa saja.

Hidup saya adalah cara saya menuju ke Tuhan. Hanya Tuhan ukuran saya dalam berbuat dan berpikir. Dan itu ternyata caranya sangat mudah. Hiduplah dengan cara sederhana dalam segala hal. Engga usah berlebihan. Itu menyehatkan lahir batin. Karena tidak ada manusia yang bisa melewati bayangannya sendiri. Apa hikmah dari ini semua. ‘ Look at me, I am old, but I’m happy. Kata saya kepada kedua anak saya.

Pahamkan sayang.

Erizeli Jely Bandaro (Pecinta Kebijaksanaan)

Comments are closed.