Posisi Tawar Pekerja dihadapan Pemegang Saham

1
208
Dulu setiap lembaga punya Serikat kerja. Kalau PNS namanya KORPRI. Orientasinya adalah menyembah kepada penguasa. Tapi sejak reformasi, PNS punya hak kebebasan menentukan pilihan.
Posisi Tawar Pekerja dihadapan Pemegang Saham

Jakarta, NAWACITA – Mengapa gaji PNS kecil? Karena sejak awalnya PNS itu hanya di design sebagai alat kekuasaan, bukan sebagai alat melayani rakyat. Makanya walau mereka digaji ala kadarnya mereka tetap loyal kepada pemerintah. Tapi pada waktu bersamaan mereka menjadikan dirinya sebagai penguasa terhadap rakyat. Gaji kecil tapi uang dari menindas lebih besar dari gaji. PNS pun menjadi kebanggaan bagi calon mertua dan harapan bagi setiap orang tua untuk putra putrinya. Jangan kaget bila design seperti ini bila mereka bekerja tidak pernah menganggap rakyat sebagai penguasa. Mereka menjilat keatas dan menindas ke bawah. Begitulah model pegawai pemerintah yang ada di lembaga maupun di BUMN.

Baca Juga: Mega Skandal Pertamina yang Tidak Tersentuh Hukum

Dulu setiap lembaga punya Serikat kerja. Kalau PNS namanya KORPRI. Orientasinya adalah menyembah kepada penguasa. Tapi sejak reformasi, PNS punya hak kebebasan menentukan pilihan. Di sini sebagian mereka mulai berfantasi ingin menjadi bagian dari sebuah sistem kekuasan feodal bernama khilafah, yang memberikan kekuasaan lebih kepada kaum terpelajar. Dengan alasan menegakan syariah Islam memakmurkan bumi. Tapi alasan itu hanya sebuah fantasi. Faktanya mereka ingin menjadi bagian kekuasaan, bukan subordinasi dari kekuasaan. Di Serikat Pekerja mereka menemukan legitimasi untuk memperjuangkan fantasinya. Menjadi bagian penguasa tanpa perlu ada demokrasi.

Dulu memang Serikat pekerja punya nilai posisi tawar yang besar. Pabrik mobil, alas kaki, tekstil, baja, tambang, yang mengandalkan buruh secara massal untuk proses produksi memang tidak berdaya dihadapan buruh atau pekerja. Tetapi berlalunya waktu, perubahan terjadi. Tekhnologi robot sudah ditemukan. Sistem outsourcing diperkenalkan. Posisi pekerja tidak lagi menentukan. Serikat pekerja hanya jadi paguyupan membicarakan derita upah yang kalah balap dengan harga kebutuhan. Tapi apa daya. Itu hanya keluhan yang tak bisa membuat pabrik atau bisnis berhenti. Mengapa ? Karena peran pekerja hanya 10% dari seluruh prosss produksi. Artinya, kalau mereka demo dan mogok, tidak ada pengaruhnya. Karena akan selalu ada yang mau menggantikan.

Baca Juga: Ahok jadi Dirut Pertamina?

Pertamina adalah BUMN yang sama dengan BUMN lainnya. Dimana bisnis BUMN itu tidak diperlukan kreatifitas pasar karena pasar terjamin. Tidak perlu kreatifitas produksi dan jasa, karena sudah diatur dalam UU. Tidak perlu cari modal karena negara sediakan modal. Apa artinya? Sebetulnya para pekerja BUMN tidak ada posisi tawar terhadap eksistensinya. Kalau mereka mogok tidak akan terhenti operasional BUMN. Karena ada berlipat orang yang siap menggantikan mereka. Dan lagi peran mereka dalam proses produksi tidak signifikan. Yang diperlukan SDM BUMN itu adalah kejujuran dan amanah terhadap tugasnya. Semua sumber daya untuk mereka berprestasi tersedia semua. Beda sekali dengan swasta. Jadi bersyukurlah dan amanah lah dengan tugasnya. Engga usah berpolitik. Apalagi jadi kadrun.

Kalau Ahok jadi dirut BUMN, dia paham sekali profile bisnis BUMN. Karyawan yang ngeyel dan sok suci tapi maling pasti dia libas. Mau demo? Dia ketawain. Karena dia tahu siapa dibelakang yang demo dan tahu siapa yang dihadapinya. Negeri ini butuh orang yang seperti Ahok untuk meyampaikan kebenaran walau kadang menyakitkan dengan kata kata kasar. Mengapa ? Kerena demi uang dan kekuasaan budaya malupun mengabur. Makanya perlu Ahok untuk membuat terang “ Emang BUMN ini punya nenek lo..”

Erizeli Jely Bandaro (Pecinta Kebijaksanaan)

Comments are closed.