Sebagian besar kita masih terjebak dengan budaya perasaan. Atau istilah kekinian, disebut baper. Artinya cara berpikir kita kalah dengan perasaan.
Rasio yang Kerdil, Melahirkan Baper yang tak Terhingga

Jakarta, NAWACITA – Sebagian besar kita masih terjebak dengan budaya perasaan. Atau istilah kekinian, disebut baper. Artinya cara berpikir kita kalah dengan perasaan. Logika dibuang ke tong sampah. Perasaan mendapat tempat terhormat dalam dialektika. Akibatnya mudah bertengkar, tanpa ada solusi, dan ingin menang sendiri. Wanita dibatasi ruang gerak dalam tatakrama. Alasanya agar laki laki terhindar dari zina mata. Wanita sebagai subject yang disalahkan. Padahal yang salah adalah mindset. Kalau wanita itu identik dengan sex, maka baper yang melahirkan fantasi sex itulah yang harus diubah. Bukan wanitanya yang harus diubah pakaiannya agar jiwa pria sehat.

Baca Juga: MUI (di) Dalam Arus Politik Tanah Air

Kita selalu menyimpulkan kebebasan wanita seperti Barat adalah contoh rusaknya moral agama. Referensinya adalah film Bokep yang diproduksi barat. Itu Film coyy…! bukan realita. Itu seni hiburan orang dewasa. Engga ada hubungannya dengan fakta dan realita. Engga bisa film dijadikan kesimpulan realita. Realita, bagi orang Barat dan negara maju , sex itu berhubungan dengan akal dan perasaan. Tetapi akal lebih dominan. Kalau ada wanita berpakaian seronok, sikap mereka“ Memang indah. Tetapi urusan apa dengan saya? dia bukan istri atau pacar saya. Biarin aja. Hak dia dengan pakaianya.” Bagi orang barat atau mereka yang berpikir maju, itu engga dibaperin. Fantasi mereka terhenti ketika akalnya bekerja.

Berbeda dengan kita. Kalau ada wanita berpakaian seronok, yang bekerja pertama kali adalah fantasinya, dan langsung akalnya dibuang. Kalaulah akalnya sedikit bekerja, dia tidak perlu berfantasi. Itu wanita bukan istrinya, bukan pula pacarnya. Urusan apa dengan dia. Sampe tiang bendera naik segala. Kan bego kalau sampai ngeres karena fantasi. Agama itu dimaknainya dengan perasaan, bukan dengan akal. Sorga jadi incaran. Mulailah berfantasi tentang sorga. Kalaulah akal sedikit bekerja, tidak mungkin agama mendatangkan fantasi. Tuhan kan bukan service provider yang mendelivery sorga karena disembah. Kalau agama lebih utama tentang sorga, itu artinya Tuhan jualan kaveling sorga. Tentu ada yang berhak jadi agent. Lah apa beda dengan bisnis property ?

Baca juga :  Hidup ini Keras Kawan!

Kita selalu melihat orang kalau sudah bicara agama dengan piawai berbahasa Arab, langsung menyimpulkan itu adalah ulama, ustadz. Kalaulah sedikit akal dipakai, kita tahu di Arab, orang kristen, yahudi, dan bahkan orang china yang lama di Arab menggunakan bahasa Arab untuk komunikasi. Orang bicara diatas panggung, belum tentu ulama atau ustadz. Bisa saja dia aktor panggung yang menggunakan narasi agama sebagai tema untuk menarik audience. Tapi karena akal tidak dipakai, tidak bisa bedakan mana seleb dan mana ulama. Kalaulah sedikit akal dipakai, akan mudah paham bahwa , ulama itu tidak ada sertifikasi formal. Ia adalah pengakuan masyarakat karena keilmuannya dan kemampuannya mencerahkan orang secara terpelajar untuk saling mengasihi. Kalau lain dari itu, itu namanya pedagang atau politisi.

Baca Juga: Behind the Scene Politik Bisnis di Indonesia

Kita selalu percaya dengan pigur. Akal kita terkaburkan dengan pigur seseorang. Perasaan lebih menentukan dalam bersikap. Kitapun terjebak dalam dimensi patron dan clients. Kalau ada orang mengaku Habib, apapun dia omong kita percaya dan taati, Kalau ada profesor atau doktor bicara, kita akui kebenarannya. Kalau orang kaya berpenampilan keren dan mewah kita idolakan. Kalau ada artis cantik atau gagah, kita idolakan. Akibat terjebak patron clients ini, kita jadi follower buta. Akibatnya jadi korban investasi bodong. Jadi korban kosmetik kawe kawe. Jadi korban iklan sabun. Jadi korban caleg kaleng kaleng. Tertipu retorika Abas.

Makanya agama itu hanya untuk orang berakal. Orang gila tidak perlu agama. Demokrasi itu untuk orang terpelajar. Orang baperan engga bisa hidup dalam demokrasi. Apapun profesi, itu hanya untuk orang yang mau berpikir. Karenanya kompetisi bukan dikutuki dan dikeluhkan, tetapi dihormati. Sex hanya untuk orang berakal, bukan untuk orang baperan. Makanya tidak ada cinta yang melahirkan sesal. Selagi akal berfungsi, semua biasa biasa saja. Engga perlu diseriusin apalagi sensi dan parno. Paham ya sayang.

Baca juga :  Permintaan Kader : Moeldoko Tepat Pimpin Demokrat

Erizeli Jely Bandaro (Pecinta Kebijaksanaan)

Comments are closed.