Arab Saudi mulai tahun 2018 mencanangkan Pariwisata sebagai sumber utama pendapatan negara. Itu sejalan dengan VISI Saudi 2030.
Menangkap Peluang Pariwisata, Belajar dari Arab Saudi

Jakarta, NAWACITA – Arab Saudi mulai tahun 2018 mencanangkan Pariwisata sebagai sumber utama pendapatan negara. Itu sejalan dengan VISI Saudi 2030. Gimana caranya? yang pertama kali dilakukan oleh Arab Saudi adalah membuat aturan perubahan tentang identitas Islam yang harus dipatuhi oleh rakyat. Masalah agama, menjadi ruang privat. Seperti halnya secara gradual Saudi mulai membolehkan wanita keluar rumah tanpa cadar. Boleh setir mobil. Tidak melarang wanita menggunakan bikini di pantai. Mengizinkan tempat hiburan malam berdiri di luar dua Kota Suci.

Baca Juga: Petral Ditengah Pusaran Politik Indonesia

Saat ini, sektor pariwisata telah menyumbang 9,4 persen dari total PDB Arab Saudi. Menurut data dari World Travel and Tourism Council, sektor perjalanan dan pariwisata Saudi memiliki potensi yang lebih besar dan dapat berkontribusi sebanyak $ 70,9 miliar terhadap PDB pada tahun 2019. Oleh karena itu, pada skala yang belum pernah terjadi sebelumnya, megaproyek seperti proyek megapitalisasi Neom senilai $ 500 miliar dan proyek pengembangan Laut Merah telah diluncurkan sebagai tujuan wisata elit bagi pengunjung internasional. Ini jadi kota kosmopolitan yang menawarkan modernisasi dan keterbukaan.

Untuk mencapai visi Saudi 2030 itu, pemerintah menghapus pembatasan perjalanan dan memodifikasi peraturan, visa elektronik untuk 49 negara telah diperkenalkan oleh pemerintah Saudi baru-baru ini. Untuk pertama kalinya, non-Muslim diizinkan mengunjungi seluruh wilayah Arab Saudi sebagai turis, kecuali untuk dua kota suci Mekah dan Madinah. Menariknya, sejak diperkenalkannya e-visa, Arab Saudi telah menerima sebanyak 24.000 pengunjung dalam sepuluh hari pertama. Kebanyakan dari mereka adalah orang Cina yang mengunjungi Dubai dan Abu Dhabi, sekarang menggunakan opsi untuk singgah di Arab Saudi juga.

Baca juga :  Presiden Minta Kementerian Kesehatan Buat Desain Perencanaan ‘Testing’ Komprehensif

Saudi menggunakan ahli promosi dari London, yang merupakan Top Advertising kelas dunia semacam Abbott Mead Vickers BBDO. Juga menggunakan ahli marketing design Yahudi untuk memastikan bisnis pariwisata bisa berkelanjutan, lingkungan yang kondusif dan nyaman bagi wisata dari seluruh dunia. Yang utama dilakukan ke depan dalam mendesign wisata Saudi adalah bertumpu kepada potesi market dan keuniqan Saudi. Untuk Makkah dan Madinah, itu akan terus dikembangkan sebagai wisata Agama. Tidak akan berubah. Mengubahnya adalah konyol. Itu off take market nya jelas. Namun daerah lain, akan menjadi tempat wisata, yang menawarkan kebebasan, bukan karena identitas agama tetapi kebebasan financial.

Baca Juga: Belajar dari Tukang Cukur Orang China

Di Indonesia, seharusnya potensi wisata seperti Bali dan Toba yang sudah punya ke-unique-an nya engga usah diubah dengan segala konsep sok hebat. Sebaiknya ke-unique-an itu dikembangkan agar lebih menarik mendatangkan wisata. Pasar wisata itu hanya untuk orang yang ingin bebas menikmati waktu santainya. Kalau diatur dengan segala konsep idealis, ya hancurlah. Mengapa? kalau orang sudah punya hobi piknik, itu artinya secara spiritual dia sudah kaya. Engga usah diatur segala. Yang penting, pastikan mereka nyaman. itu saja. Masak kita kalah sama Saudi, yang baru belajar mengembangkan parisiwata secara business oriented. Saudi berubah, kita malah mundur. Aneh..

Erizeli Jeli Bandaro (Pecinta Kebijaksanaan)