Trade War dan Paradoks Ekonomi

1
269
China tidak sepenuhnya sosialis dan cenderung kapalitas. Sementara AS tidak sepenuhnya kapitalis tapi cenderung sosialis
Trade War dan Paradoks Ekonomi

Jakarta, NAWACITA – Mengapa terjadi perang dagang antara China dan AS? tanya nitizen. Saya kesulitan menjelaskan secara akademis. Karena rumit sekali. Tapi saya berusaha menjelaskan secara sederhana. Trade war, bukan perang dalam arti phisik, tetapi perang idiologi antara sosialis dengan kapitalis. Sebetulnya kalau dua idiologi itu konsisten dengan prinsip ekonominya , penyelesaiannya sederhana. Karena walau teori masing masing idiologi itu berbeda namun prinsipnya sama. Jadi akan ada solusi kalau kedua belah pihak bisa duduk bersama.

Baca Juga: MUI (di) Dalam Arus Politik Tanah Air

Namun yang jadi masalah adalah, China tidak sepenuhnya sosialis dan cenderung kapalitas. Sementara AS tidak sepenuhnya kapitalis tapi cenderung sosialis. Inilah yang membuat keadaan bertambah rumit (paradoks). Itu sama saja satu Gay, dan satunya lagi lesby. Kan engga mungkin keduanya bersatu. Yang ada adalah bertikai tanpa solusi, karena berangkat dari perbedaan yang tidak normal. Untuk lebih jelasnya, saya akan analogikan dengan ilustri sebagai berikut.

Satu unit Oral-b ( sikat gigi electric) seharga USD 30 dijual di Walmart ( AS). Oral-b ini diproduksi di China dengan harga export ke AS USD 3 per unit. Ketika sampai di AS, maka harga ini bergerak naik untuk memberikan stimulus ekonomi dalam negeri AS kepada perusahaan expedisi, distributor, agent, biro iklan, dan WallMart. Hingga harga mencapai USD 30 per unit.

Perhatikanlah, China yang berproduksi dan Amerika yang berkosumsi? Siapakah yang mendapatkan manfaat lebih?. Akibat china menjual harga murah, setiap hari ada saja pabrik sikat gigi di Amerika yang bankrut karena para pabrikan lebih memilih impor daripada produksi. Bagi mereka lebih untung impor. Dan lagi untuk apa berproduksi tapi kalah bersaing dengan China. Pemerintah Amerika senang karena efisiensi terjadi.

Lambat laun banyak Pabrik di Amerika tutup dan sementara Pabrik di China tumbuh pesat. Ratusan juta angkatan kerja china terserap dan kemakmuran ditapaki. Sementara Amerika ribuan pabrik tutup dan jutaan orang kehilangan pekerjaan, ribuan perusahaan ter-jerat hutang tak terbayar, puluhan juta orang tak mampu bayar tagihan credit card dan angsuran rumah,prahara pun terjadi.

Baca Juga: Behind the Scene Politik Bisnis di Indonesia

Apa bedanya Amerika dan China. Bukankah dua duanya menggunakan kapitalisme? Keduanya tidak konsisten menerapkan kapitalisme. Kedua negara ini menggunakan konsep sosialis secara tidak langsung. Amerika memberikan subsidi konsumsi dalam bentuk bunga pinjaman kosumsi yang rendah dengan skema yang fleksibel. Sementara China memberikan subsidi ke sektor produksi. Misal dalam hal sikat gigi. China mensubsidi industri hulu Polypropylene carbonate (PPC) sebagai bahan utama pembuat sikat gigii. Karena bahan baku berupa PPC murah maka produk sikat gigi juga murah.

Bukan itu saja. Seluruh industri hilir china yang berbahan baku PPC seperti tektil sintetik, kaos kaki sandal, dashboard kendaraan dll menjadi murah. Walau di hulu pemerintah rugi namun di hilir pemerintah untung dalam bentuk penerimaan pajak melimpah dari jutaan industri hilir. Apa yang terjadi ? Subsidi konsumsi di AS sukses menciptakan kelas menengah dan menghasilkan ekonomi rente. Yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin miskin. Sementara subsidi produksi di China menciptakan kesempatan berusaha bagi siapa saja, tetapi tetap saja hanya pemodal yang bisa memanfaatkan peluang itu. Rasio GINi semakin melebar.

Nah sampailah kita pada kesimpulan, mengapa perang dagang? AS tetap pada kebijakan market regulated lewat tarif. Sementara China, tetap pada kebijakan production regulated lewat tarif juga. Solusinya ? Solusinya hanya satu, yaitu melalui kebudayaan atau perubahan mindset. Bisakah Industri hulu China tumbuh tanpa subsidi?. Dan pada waktu bersamaan, bisakah konsumen AS belanja tanpa subsidi bunga kredit konsumsi? Kalau tidak bisa, maka AS dan China menghadapi paradox ekonomi. Dah gitu aja.

Erizeli Jely Bandaro (Pencinta Kebijaksanaan)

1 KOMENTAR

Comments are closed.