Behind the Scene Politik Bisnis di Indonesia

33
178
ahun 2006 saya sempat bertemu dengan dia untuk urusan bisnis pengambil alihan ladang minyak di Libia. Saya tidak mengenal dekat dia. Saya mengenalnya dari sahabat saya, yang juga konglomerat di Indonesia.
Behind the Scene Politik Bisnis di Indonesia

Jakarta, NAWACITA – Tahun 2006 saya sempat bertemu dengan dia untuk urusan bisnis pengambil alihan ladang minyak di Libia. Saya tidak mengenal dekat dia. Saya mengenalnya dari sahabat saya, yang juga konglomerat di Indonesia. Kemudian, saya berusaha mencari tahu profile dia. Bisnisnya bergerak di bidang oil and gas. Juga dia punya lembaga keuangan khusus pembiayaan infrastruktur. Dia lahir di China, namun masa kecilnya di Hong Kong. Walau dia warga negara China, namun dia punya passport negara di Afrika. Koneksi internationalnya luas sekali. Hampir semua presiden negara berkembang dia kenal baik. “ Lobynya memang luar biasa” kata teman saya.

Salah seorang pejabat China yang saya kenal di Beijing, menyarankan agar saya tidak berhubungan dengan dia. Saya percaya. Dan lagi kebetulan relasi saya yang tinggal di London , keluarga Kerajaan Arab mau menjadi investor saya melalui skema hedge fund dengan underlying akuisisi blok minyak di Libia itu. Sejak itu saya tidak pernah lagi bertemu dengan dia.

Tahun 2010 saya bertemu lagi dengan dia pada acara wine party di konsulat Jepang , Hong Kong. Dia memeluk saya dengan ramah. Hebatnya dia tidak pernah lupa nama saya. Sepertinya antara saya dan dia saling mengesankan diri. Walau kami hanya sekali bertemu, kami tetap saling mengenal. Saat itu dia perkenalkan beberapa pengusaha asal Indonesia kepada saya. Kebetulan saya sudah mengenal nama mereka. Hanya saja tidak pernah saling berhubungan dalam bisnis. Saya memang engga berminat berbisnis yang dekat dengan penguasa. “ Kapan kita minun teh lagi ? katanya. Saya hanya mengangguk dan tersenyum.

Tahun 2012 saya bertemu lagi dengan dia pada waktu makan siang di Singapore. Kembali pertemuan itu tidak direncanakan pada tempat yang tak terterduga di sebuah resto high class. Dia tetap ramah kepada saya. Saya berdiri dari tempat duduk saya. Seperti biasa saya membungkukan setengah tubuh saya kepada dia. Sebagai ujud rasa hormat saya kepadanya yang lebih tua 5 tahun dari saya. Dia menepuk bahu saya. “ Sehat selalu ya, Mr. B. Silahkan teruskan..” katanya mempersilahkan saya melanjutkan makan malam dengan relasi saya.

Di penghujung tahun 2012, bulan desember. Saya stuck di Beijing selama 25 hari. Tidak bisa pulang ke Jakarta untuk tahun baru. Karena ada masalah yang harus saya selesaikan sebelum berakhir bulan. Saya diundang oleh sahabat saya Chairman lembaga keuangan makan malam di Panninsula Beijing. Kami bicara santai. Saat itu sahabat saya bercerita soal temannya yang punya koneksi kuat dengan partai di Indonesia. Yang katanya sedang mempersiapkan suksesi kekuasaan paska SBY. Saya hanya jadi pendengar yang baik. Tetapi yang membuat saya terkejut sahabat saya itu menyebut nama seseorang yang tak asing bagi saya. Dia yang kali pertama bertemu tahun 2006.

Sahabat saya itu bercerita skema hedge fund berskala gigantik sedang dirancang oleh temannya itu. Tapi, untuk bisa sukses bisnis itu, mereka akan berjuang menjadikan calon presiden agar terpilih dalam pemilu di Indonesia. Memangnya bisnis apa ? tanya saya. Trade financing untuk kepentingan export dan import, oil dan gas. Namun sebetulnya bisnis itu mengontrol sumber daya oil and gas dan sekaligus sebagai media fee yang legal bagi para politisi di Indonesia. Hebat kan. Saya menggeleng gelengkan kepala. Saya katakan bahwa arus perubahan sedang terjadi di Indonesia. Walau senyap, namun kelas menengah indonesia sudah muak dengan bisnis rente. Sahabat saya hanya tersenyum.

Tahun 2014 Jokowi terpilih sebagai presiden. Publik ribut karena Petral dibubarkan, namun akan menujuk perusahaan asing yang bermitra dengan salah satu pimpinan partai pendukung Jokowi. Perusahaan itu akan dapat long term contract untuk eksport dan import. Ini sama saja mengganti baju Petral, yang sejatinya tidak ada perubahan. Tahun 2014 saya bertemu dengan pejabat bank di Shanghai. Dia berharap Jokowi berhati hati dengan proposal yang disampaikan oleh salah satu konglomerat Minyak asal China. Walau mungkin MOU ditanda tangani nanti, sebaiknya tidak perlu dilanjutkan.

Untunglah Jokowi cepat menyadari bahaya mengancam dari sang srigala. Jokowi tetap bersikeras tidak memberikan fasilitas long term contract untuk menggantikan Petral. Skema pengadaan BBM menerapkan Integrated Supply Chain (ISC) yaitu melalui lelang terbuka. Saya lega. Namun hubungan Jokowi dan Elite partai yang bermitra dengan konglomerat asal China tetap baik, atau mungkin dia tetap berharap suatu saat Jokowi lemah. Bulan Mei 2015, Jokowi hadir meresmikan peletakan batu pertama proyek Gedung Indonesia 1, yang akan jadi gedung tertinggi di Jakarta.

Namun lima bulan setelah itu ketika dia sedang dalam perjalanan dari China ke Pyong yang, pesawatnya dicegat di udara oleh pesawat jet tempur China. Pesawatnya dipaksa mendarat di Beijing. Tepat tanggal 8 oktober 2015 dia resmi ditangkap karena kasus korupsi dan penggelapan, pencucian uang, yang melibatkan elite partai Komunis China dan direktur BUMN China. Berakhir lah petualangannya.

Sebetulnya tidak ada yang tahu apa sebetulnya bisnis dia. Dia tidak terdaftar sebagai pemegang saham atau direktur dari setiap perusahaan. Tapi dia berkuasa penuh terhadap perusahaan perusahaan itu dan dipercaya mewakili perusahaan dalam pertemuan dengan presiden, syekh, dan konglomerat. Dia seperti Ghost. Walau dia di penjara namun pengadilan China tidak menghukum mati dia. Dan kini saya membaca gelagat elite partai di Indonesia yang sangat dekat dengan dia sedang mempersiapkan capres pengganti Jokowi di tahun 2024. Karena orangnya gagal menempati pos mengontrol MIGAS dan Minerba. Saya tidak tahu apakan pengganti itu, Elite partai itu sendiri atau hanya menjadi king maker untuk seorang Abas. Entahlah. Semoga Indonesia baik baik saja.

Erizeli Jely Bandaro (Pecinta Kebijaksanaan)

Comments are closed.