5 Pebulu Tangkis Jebolan PB Djarum di Tingkat Dunia

0
103
5 Pebulu Tangkis Jebolan PB Djarum di Tingkat Dunia
5 Pebulu Tangkis Jebolan PB Djarum di Tingkat Dunia

Jakarta, NAWACITA – Kabar buruk menimpa dunia bulu tangkis Indonesia. PB Djarum, yang kerap menelurkan bintang-bintang bulu tangkis Tanah Air akhirnya memutuskan tak lagi mengadakan audisi terbuka untuk beasiswa atlet untuk sementara waktu, Minggu (8/919), dan hal itu akan dimulai tahun depan.

Keputusan tersebut terkait dengan problematika yang terjadi antara PB Djarum dengan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI). KPAI melihat adanya potensi eksploitasi anak pada kegiatan PB Djarum. Pembicaraan telah dilakukan kedua belah pihak, namun urung menemukan titik temu.

Hal ini jelas sangat disayangkan, mengingat PB Djarum kerap mengorbitkan bintang-bintang besar yang bahkan bersinar di tingkat dunia. Selain menjadi juara dunia, bintang-bintang PB Djarum ini bahkan ada yang menjadi peraih medali emas Olimpiade.

Tak bisa dibayangkan jika akhirnya PB Djarum memutuskan penghentian audisi ini akan dilakukan untuk waktu yang lama. Hal itu jelas akan menohok dunia bulu tangkis Indonesia, yang tengah berusaha mempertahankan eksistensi di tengah serbuan kekuatan dari China, Korea Selatan, Jepang, India dan Thailand.

Berikut ini, 5 pebulu tangkis jebolan PB Djarum yang namanya tak hanya besar di Indonesia, tapi juga di tingkat dunia yang dari berbagai sumber.

Kevin Sanjaya

Kevin Sanjaya
Kevin Sanjaya

Tak bisa dipungkiri Kevin Sanjaya Sukamuljo saat ini merupakan ganda putra terbaik dunia, bersama pasangannya Marcus Fernaldi Gideon. Kevin lolos audisi PB Djarum pada 2007, dan penampilannya dengan klub tersebut membuat dia ditarik ke Pelatnas Cipayung.

Kini bersama Marcus, Kevin menjadi ganda putra nomor satu dunia. Usai meraih medali emas pada Asian Games 2018, tahun ini Kevin sudah membukukan kemenangan di Malaysia Masters, Indonesia Masters, Indonesia Open dan Japan Open.

Mohammad Ahsan

Mohammad Ahsan
Mohammad Ahsan

Meski tak lagi muda, duet ganda putra Indonesia, Mohammad Ahsan dan Hendra Setiawan tak boleh diremehkan. Pasangan berjulukan The Daddies itu sukses menjadi juara All England dan New Zealand Open di tahun ini. Mereka juga sukses ke final Singapore Open, Indonesia Open dan Japan Open.

Ahsan bergabung dengan PB Djarum sejak 2007. Klub tersebut yang akhirnya membuat namanya bersinar. Setelah menjadi duet Bona Septano, kini Ahsan terus merajut prestasi dengan Hendra. Mereka saat ini menduduki peringkat kedua dunia.

Alan Budikusuma

Alan Budikusuma
Alan Budikusuma

Alan Budikusuma merupakan jebolan PB Djarum yang sukses di tingkat dunia. Alan berhasil mempersembahkan medali emas tunggal putra Olimpiade 1992. Kala itu, dia mengalahkan kompatriotnya Ardy B. Wiranata 15-12 dan 18-13.

Setahun kemudian, Alan menjuarai Kejuaraan Dunia 1993 dan membawa Indoneisa meraih titel Thomas Cup pada 1994 dan 1996. Selain memulai kariernya bersama PB Djarum, pria yang kini berusia 49 tahun tersebut juga menjadi pencari bakat di klub tersebut.

Hariyanto Arbi

Hariyanto Arbi
Hariyanto Arbi

Hariyanto Arbi merupakan salah satu sosok yang turut membuat tunggal putra Indonesia diwaspadai pada era 1990-an. Dia sempat menjadi pebulu tangkis tunggal putra nomor satu dunia pada tahun 1995. Dia menjadi kampiun Kejuaraan Dunia pada 1995.

Juga menjadi peraih medali emas Asian Games 1994. Hariyanto juga menjadi bagian dari kesuksesan tim Indonesia menjadi juara Thomas Cup 1994, 1996 dan 1998. Selain pernah membela PB Djarum sebagai pemain, Hariyanto juga menjadi pencari bakat untuk klub itu pada 2018 lalu.

Liem Swie King

Liem Swie King
Liem Swie King

Liem Swie King merupakan salah satu legendaris bulu tangkis Indonesia. Bersama Rudy Hartono dan Svend Pri, Liem membuat tunggal putra menjadi kategori yang selalu menarik disaksikan pada era 1970-an. Liem bergabung dengan PB Djarum sejak 14 tahun.

Pria yang kini berusia 63 tahun itu ditemukan langsung oleh pemilik PB Djarum, Budi Hartono. Dia menjadi juara All England tiga kali, serta ikut memberikan tiga gelar Thomas Cup untuk Indonesia pada 1976, 1979 dan 1984.