Jakarta, NAWACITA – Menurut Sekretaris Umum DPP Indonesia National Shipowners Association (INSA) Budhi Halim, harga marine fuel oil dengan kandungan sulfur tidak lebih dari 5 persen berpotensi merangkak karena lonjakan permintaan di tengah keterbatasan pasokan.

“Perbedaan harga cukup signifikan. Yang sebelumnya US$60 per kiloliter, dengan penerapan pembatasan sulfur, harga naik dua kali lipat,” ujarnya pada Senin (10/6/2019).

Udhi mengatakan, MFO dengan kandungan sulfur di bawah 5 persen selama ini diproduksi hanya oleh sedikit kilang Pertamina, a.l. kilang Plaju. Kekurangan pasokan dari dalam negeri kemungkinan akan dipenuhi pelayaran dengan mengimpor dari atau mengisi BBM di Singapura. Sejauh ini, Negeri Merlion sudah memproduksi besar-besaran MFO dengan kandungan sulfur di bawah 5 persen.

Kenaikan harga BBM akan mengerek drastis ongkos produksi mengingat komponen itu selama ini menyumbang 60 persen biaya operasional kapal.

Dampak lainnya, potensi peredaran BBM akan berkurang dan angkutan BBM via kapal tanker juga berkurang.

Meskipun demikian, sambung Budhi, Indonesia tidak dapat menghindar dari aturan Organisasi Maritim Dunia (IMO) itu jika negara sudah meratifikasi. Menurut dia, tidak ada pilihan selain mengimpor BBM dari Singapura atau mempercepat produksi Pertamina.

Selama produksi BBM dengan sulfur di bawah 5 persen dapat digenjot, pengangkutan BBM via kapal tanker bisa pulih.

“Tentunya ini hanya temporary saja dan lambat-laun diharapkan tentu akan kembali normal,” tutur Budhi. Dikutip dari Bisni,com

Selain, kenaikan harga yang mungkin signifikan, dari segi teknis, pelayaran di Indonesia dan Asia sebetulnya tidak keberatan dengan penerapan BBM sulfur rendah karena akan lebih baik untuk mesin kapal. Optimisme untuk mencapai ekuilibrium baru itu tecermin pada kesepakatan yang dicapai dalam the 28th Asian Shipowners Association (ASA) Annual General Meeting yang digelar di Bangkok akhir Mei lalu.

Baca juga :  Perang Laut China Selatan, Indonesia Siaga Penuh

 (ANT)

Comments are closed.