Kamis, 4 Juni 2026

Tragis, Anak SD di Tasikmalaya Meninggal Dunia Usai Dipaksa Setubuhi Kucing

Photo Author
Vanessa, Nawacita Post
- Jumat, 22 Juli 2022 | 15:33 WIB
Seorang bocah lelaki usia 11 tahun di Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat meninggal dunia setelah mengalami depresi akibat perundungan oleh teman-temannya. 
Seorang bocah lelaki usia 11 tahun di Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat meninggal dunia setelah mengalami depresi akibat perundungan oleh teman-temannya. 

Jakarta, NAWACITAPOST.COM - Seorang bocah lelaki usia 11 tahun di Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat meninggal dunia setelah mengalami depresi akibat perundungan oleh teman-temannya.

Polres Tasikmalaya telah menyelidiki kasus perundungan yang menimpa anak SD di Tasikmalaya hingga Depresi dan meninggal dunia.

"Yang jelas kita sudah turun tangan, kita sudah bekerja sama dengan para pihak insya Allah kita atensi terkait penanganan ini," kata Kepala Satuan Reskrim Polres Tasikmalaya AKP Dian Pornomo, Kamis.

BACA JUGA : Ruben Onsu Ternyata Idap Empty Sella Syndrome, Penyakit Apa Itu? 

Polres Tasikmalaya sudah mendapatkan informasi dan laporan adanya kasus perundungan, berupa pemaksaan untuk setubuhi kucing, korbannya anak usia 11 tahun warga Kecamatan Singaparna hingga anak tersebut diduga depresi dan akhirnya meninggal dunia.

Polres Tasikmalaya, kata dia, dalam kasus tersebut akan dilakukan secara profesional dan melibatkan semua pihak yakni tokoh masyarakat, tokoh agama, maupun Komisi Perlindungan Anak Indonesia Daerah (KPAID), dan Pusat Pelayanan Terpadu Perlindungan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Tasikmalaya.

Bocah itu diketahui dipaksa bersetubuh dengan kucing sambil direkam menggunakan ponsel. Video perundungan itu pun tersebar ke media sosial. Bocah tersebut sempat depresi hingga meninggal dunia saat menjalani perawatan di rumah sakit.

Ibu korban, Ti (39) mengatakan anaknya sakit keras seminggu sebelum meninggal. Anaknya mengeluh sakit tenggorokan yang membuatnya enggan makan dan minum. Korban lebih banyak melamun dan murung.

Ti akhirnya menyaksikan video perundungan yang menimpa anaknya. Ia sempat bertanya kepada anaknya, kenapa mau melakukan aksi tersebut. Korban menjawab mendapatkan paksaan dan pemukulan dari teman sebayanya.

"Anak saya sering ngaku dipukul sama temannya. Tapi mungkin candaan. Anak saya mainnya jauh, Pak. Saya kan ada anak empat jadi susah ngawasinya. Saya juga hancur, Pak, pas lihat videonya," ujar Ti.

Komisi Perlindungan Anak Indonesia Daerah (KPAID) mengidentifikasi pelaku bully yang membuat bocah itu meninggal dunia berjumlah sebanyak empat orang.

Editor: Vanessa

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Terkini