Jakarta, NAWACITAPOST Kasus Djoko Sugiarto Tjandra soal pembuatan surat jalan palsu menjadi sorotan beberapa waktu lalu. Berkat surat jalan palsu yang dibuatnya, Djoko berhasil keluar-masuk Indonesia meski berstatus sebagai buron.

Pada tahun lalu yakni 2020, Djoko sempat mengajukan permohonan peninjauan kembali (PK) ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan sampai membuat e-KTP dan paspor. Diduga, surat jalan palsu tersebut yang memuluskan perjalanan Djoko Tjandra keluar-masuk Indonesia.

Mahkamah Agung menolak kasasi Djoko Sugiarto Tjandra tersebut. Djoko Tjandra tetap menjalani masa hukuman selama 2,5 tahun sesuai vonis Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Timur atas penolakan tersebut.

Dalam amar putusannya, MA sekaligus menolak permohonan kasasi yang diajukan jaksa penuntut umum (JPU), agar masa hukuman Djoktjan menjadi empat tahun.

“Amar putusannya, menolak permohonan kasasi Penuntut Umum dan terdakwa,” ujar Juru Bicara MA, Andi Samsan Nganro dalam keterangannya, Kamis (08/07/2021).

Andi mengatakan Djoko Tjandra menggunakan identitas lain dan mengaku sebagai konsultan Bareskrim Polri untuk membuat surat jalan palsu pada awal 2020 lalu. Identitas yang digunakan tak lain adalah kuasa hukummya sendiri, yakni Anita Dewi A Kolopaking.

Pembuatan surat jalan itu melibatkan mantan Pengawasan PPNS Mabes Polri, Bigjend Pol Prasetijo Utomo, yang memerintahkan kepada pegawainya Dodi Jaya dalam pembuatan surat jalan palsu, dan Etty Wachyuni dalam pembuatan surat bebas Covid-19 yang diterbitkan oleh Pusdokes Polri.

“Surat jalan tersebut isinya tidak benar,

“Padahal terdakwa tidak pernah melakukan pemeriksaan bebas covid,” tambah Andi.

Menurut majelis hakim surat jalan itu tidak benar karena Djoktjan diketahui tidak pernah melakukan pemeriksaan Covid-19, kemudian alamat Anita Dewi A Kolopaking seperti disebutkan bukan berada di Jalan Trunojoyo Nomor tiga Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Baca juga :  Direktur Eksekutif Nawacita Institut Faigiziduhu Ndruru Optimis Pemimpin Berikutnya di Kepulauan Nias Sukses Dibawah 60 Tahun

Selanjutnya, Prasetijo dan Anita diketahui pernah menjemput Djoktjan di Bandara Supadio Pontianak pada 6 Juni 2020 untuk melakukan perjalanan ke Bandara Halim Perdanakusuma dengan pesawat charter.

Selama di Jakarta Djoko mengurus Peninjauan Kembali atas kasusnya di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.

Setelah dua hari di Jakarta, Prasetijo mendampingi perjalanan Djoktjan dan Anita kembali ke Pontianak. Prasetijo mendampingi Djoktjan sebab saat itu posisinya adalah buron atas kasus Cessie Bank Bali (sekarang Permata) dari 2009.