DPR RI : Perjuangan Resolusi Perdamaian dan Rohingnya pada Sidang AIPA

0
1640

JAKARTA, NAWACITAPOST.COM – Ketua Badan Kerja Sama Antar Parlemen (BKSAP) DPR RI Fadli Zon memimpin delegasi Indonesia dalam sidang Komisi Politik di General Assembly Asean Inter-Parliamentary Assembly (AIPA) ke 41 yang diselenggarakan secara daring, Rabu (9/9/2020). Sidang Umum AIPA yang berlangsung pada 8-10 September 2020 ini, untuk pertama kalinya digelar virtual di bawah koordinasi Vietnam, selaku Ketua ASEAN tahun ini.

Dalam sidang Komisi Politik, Fadli memperjuangkan dua draf resolusi, antara lain mengenai pentingnya stabilitas kawasan di masa pandemi khususnya dalam konteks isu Laut China Selatan (LCS) dan bantuan kemanusiaan bagi pengungsi Rohingya di Rakhine. Ia menekankan pentingnya perdamaian, keamanan dan stabilitas kawasan ASEAN, termasuk dinamika yang terjadi di perairan Laut China Selatan.

Kesolidan dan kolektivitas ASEAN dibutuhkan dalam mengurangi penyebaran Covid-19 dan dampak sosial ekonomi yang ditimbulkan. Selain itu, ASEAN diharapkan dapat menyelesaikan isu-isu internal kawasan secara mandiri, termasuk isu kemanusiaan bagi pengungsi Rohingya.

Menyangkut isu Rohingya, Fadli menyesalkan Parlemen Myanmar yang menolak usulan DPR RI mengenai perlunya penguatan dari parlemen, sebagaimana disepakati Pemerintah Negara ASEAN, agar Pemerintah Myanmar memberikan bantuan kemanusiaan, menjamin proses repatriasi yang aman dan bermartabat bagi pengungsi Rohingya. Terlebih, ketika masalah di Rakhine tersebut telah menciptakan efek “spillover” di kawasan.

“Efek spillover yang dimaksud mengarah kepada manusia perahu dari Rakhine yang menjadi perhatian tidak hanya Indonesia, tetapi juga sebenarnya negara lain di kawasan, terutama pada masa pandemi ini,” ujar Fadli. Menurut politisi F-Gerindra ini, ASEAN perlu menyelesaikan masalah bagi sekitar satu juta pengungsi Rohingya terutama terkait kesepakatan repatriasi.

“Karena itu, DPR RI menegaskan posisinya terkait isu kemanusiaan di Rakhine. Bahwa apabila Komisi Politik tidak dapat mencapai konsensus atau usulan Indonesia, maka Sidang Komisi Politik pada AIPA General Assembly tahun ini, tidak bisa menghasilkan resolusi apapun,” tandas Fadli yang dalam kesempatan ini didampingi Wakil Ketua BKSAP Putu Supadma Rudana dan Anggota BKSAP Didi Irawady Samsudin.

SIUM AIPA ke-41 ini diikuti 10 parlemen dari kawasan ASEAN, yakni Brunei Darussalam, Kamboja, Indonesia, Republik Demokratik Rakyat Laos, Malaysia, Myanmar, Filipina, Singapura, Thailand, dan Vietnam) dan beberapa pengamat. Delegasi secara daring mengikuti rangkaian SIUM ke-41 AIPA yang akan membahas pelbagai hal terkait isu politik, ekonomi, sosial, perempuan, parlemen muda, dan keorganisasian yang diharapkan dapat mengadopsi sejumlah resolusi.