Mahasiswa Gunadarma ini Memborong Krupuk Si Kakek.Alasannya Sungguh Mengejutkan

0
311

Bekasi,NAWACITA-Di usianya yang sudah menginjak 80 tahun, Kakek Wasmad nampak kebingungan,ketika seorang mahasiswa bernama Dimas memintanya menghitung semua harga kerupuknya. Bolak-balik ia salah ucap,hingga Dimas membantunya. Selasa (2/7) siang itu, Kakek Wasmad memang baru mangkal di komplek pertokoan Duta Permai,Bekasi.

“Biasanya keliling mas”kata Wasmad,melihat Nawacita yang jongkok di sampingnya.

“Jadi total berapa kek? Satu lima ribu ya? Pas 265 ribu ya?”kata Dimas,mahasiswa semester 6 juruan IT Universitas Gunadarma, Bekasi.

Wasmad mengangguk. Uang 265 ribu kemudian berpindah tangan. Saat ditanya Nawacita, Dimas mengaku memborong kerupuk si kakek agar si kakek bisa cepat pulang. Kerupuk dua plastik besar itu rencananya akan dibagi-bagikan ke teman-teman kuliahnya. Sayang, Dimas langsung menolak diwawancara lebih lanjut, setelah tahu Nawacita.

“Nggak enak mas. Nanti dibilang riya,”katanya sambil tersenyum membawa kerupuk.

Kakek Wasmad mengaku sudah  berjualan kerupuk sejak tahun 1965. Dia mengingatnya ketika peristiwa G-30S/PKI meletus. Zaman Gestapu,katanya. Namun sejak zaman Jepang, dia sudah mulai membantu orang tuanya berjualan. Waktu itu Wasmad bocah jualan tahu di  kampungnya,Pekalongan, Jawa Tengah. Wasmad masih ingat,karena tiap hari ia harus pakai baju dari karung. Nasi juga tidak ada.

“Setelah merantau ke Jakarta tahun 1973 bawa istri,saya jualan kerupuk sampai sekarang. Nggak pernah kerja yang lain,”tuturnya.

Istrinya, Giyem, pernah membantunya kerja jadi pembantu rumah tangga. Tapi setelah sakit, kini istrinya hanya bisa duduk-duduk di kontrakan mereka di daerah Kampung Dua, Bekasi, yang ia sewa sebulan Rp 700 ribu. Untuk bayar kontrakan, Wasmad dibantu tiga anaknya yang sudah menikah dan bekerja.

“Kalau yang perempuan jadi pembantu, yang laki-laki kerja bangunan,”kata Wasmad.

Wasmad dan istrinya kini hanya tinggal dengan anak keempatnya, yang masih duduk dibangku sekolah dasar. Ia mengaku tidak punya rumah.”Buat makan saja susah mas. Jadi boro-boro mikir beli rumah,”Wasmad beralasan.

Meski sudah uzur, Wasmad bertekad ingin tetap jualan. Karena kalau nganggur badannya jadi pegal-pegal. Ia pun mengaku berjalan kaki bolak-balik dari kontrakan  ke Duta Permai. Biasanya pukul 09.00 sudah berangkat. Kalau dagangannya habis,ia bisa mengantongi untung Rp 50 ribu.

Agar staminanya tetap terjaga, Wasmad sesekali minum jamu campur telor. Jika dagangnya cepat habis seperti saat ini diborong Dimas,Wasmad mengaku akan pulang sebentar ke kontrakan, sebelum pergi belanja kerupuk dan berkeliling lagi, sampai akhirnya mangkal di Duta Permai saat para mahasiswa Gunadarma istirahat siang usai kuliah.