Ketua MPR Ingatkan Bahaya Radikalisme, Jangan Alpa Terhadap Pancasila

9
238
Keterangan: Zulkifli Hasan bersama Pimpinan dan ratusan anggota Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Alumni Resimen Mahasiswa Indonesia (DPP IARMI) DKI Jakarta peserta Focus Group Discussion (FGD) DPP IARMI DKI Jakarta bertema 'Menetralisasi Gerakan Radikalisme di Kampus', di Auditorium PT Pelni Pusat, Jakarta, Sabtu (30/6/). Foto TS

Jakarta, NAWACITA– Permasalahan radikalisme yang tumbuh subur di Indonesia menjadi topik yang dibahas oleh Ketua MPR RI Zulkifli Hasan (Zulhasan) saat membuka acara Focus Group Discussion (FGD) DPP IARMI DKI Jakarta bertema ‘Menetralisasi Gerakan Radikalisme di Kampus’, di Auditorium PT Pelni Pusat, Jakarta, Kemarin (30/6).

 

Dia mengungkapkan bahwa permasalahan radikalisme memang masih menjadi masalah bangsa yang serius yang harus ditangani dengan hati-hati. Radikalisme muncul dan makin subur karena selama dua puluh tahun era reformasi bangsa ini sempat alpa kepada Pancasila.

 

“Terus terang kita lalai. Banyak hal yang baik dan bagus di era orde baru kita hapus semua seperti penataran P4, manggala BP7 bubar, pendidikan pancasila hilang.  Praktis selama 20 tahun hal-hal baik itu hilang  sehingga bangsa ini tidak lagi ‘ngeh’ untuk melatih wawasan kebangsaan. Karena itu, masuklah berbagai macam pemahaman radikal. Pantas saja banyak anak-anak muda yang lahir setelah reformasi banyak menjadi sasaran paham radikal karena belum diajari soal wawasan kebangsaan,” ujarnya.

 

Melihat hal itu, lanjut Zulhasan, bangsa ini perlu gerakan dan upaya ekstra keras dan tepat untuk menumbuhkan kembali semangat memahami dan mengimplementasikan Pancasila.

 

“Pemahaman radikal perlu dilawan dengan upaya keras pula dari rakyat Indonesia menumbuhkan karakter Pancasila dalam diri dan perbuatan. Upaya keras dan tepat itu harus dan sangat diperlukan serta dilakukan bangsa Indonesia, sebab seluruh bangsa Indonesia wajib menjiwai Pancasila,” tegasnya.

 

Zulhasan menegaskan, sekali lagi kenapa perlawanan rakyat menggunakan Pancasila terhadap radikalisme sangat perlu, sebab negara Indonesia adalah negara kesepakatan, itu yang harus dicamkan. Pancasila adalah kesepakatan kolektif.

 

Semua perbedaan dan keberagaman disatukan dengan satu visi dan misi yakni kesatuan Indonesia dan menuju cita-cita bersama.  Masalah perbedaan Suku, Agama, Ras, Antargolongan sudah bukan masalah lagi. Semua sudah selesai diperdebatkan 70 tahun silam.

 

“Hal-hal itulah yang harus dipahami lagi dan dilatih kembali oleh rakyat Indonesia dan diperkenalkan secara baik kepada generasi muda yang lahir pasca reformasi,” tandasnya.

 

 

 

 

 

(Red: Hulu, sumber TS/Istimewa)

Comments are closed.