Menlu Retno: Tiongkok Harus Kooperatif Tuntaskan Masalah CoC-SCS

0
51
Ket: Penjagaan Kapal Perang di Perbatasan Konflik Perairan Laut China Selatan

Jakarta, NAWACITA- Menteri Luar Negeri RI, Retno Marsudi berharap agar Tiongkok bersikap kooperatif dalam proses pembahasan aturan kesepakatan berperilaku antar negara yang terlibat dalam sengketa di Laut China Selatan.

 

Sikap kooperatif itu, menurut Retno, dianggap mampu berkontribusi dalam mempercepat proses penyelesaian kesepakatan tersebut pada akhir tahun 2018 nanti.

 

Hal itu disampaikan Retno usai para negara yang terlibat dalam pembahasan kerangka kerja Code of Conduct on South China Sea (CoC-SCS) melaksanakan negosiasi awal pada Maret 2018 lalu.

 

Negosiasi awal CoC-SCS yang dilaksanakan pada Maret 2018 itu sendiri dilaksanakan empat bulan ketika ASEAN dan Tiongkok menyepakati kerangka kerja tersebut dalam dalam KTT ASEAN di Manila pada November 2017 silam.

 

Kini, Retno berharap agar negosiasi awal pada Maret 2018 lalu dapat menjadi pondasi positif untuk menyelesaikan CoC-SCS sesegera mungkin. Ia pribadi optimis memproyeksikan bahwa kesepakatan itu dapat rampung pada akhir tahun ini.

 

“Indonesia berharap, lebih cepat selesai, lebih baik. Karena, dengan rampungnya CoC, kesepakatan itu akan berkontribusi bagi keamanan dan stabilitas di Laut China Selatan,” kata Retno dalam sebuah diskusi publik yang dimoderatori pendiri think-tank Foreign Policy Community Indonesia (FPCI) Dino Patti Djalal, Senin 14 Mei 2018.

 

Menlu RI juga berharap agar Tiongkok mampu bersikap kooperatif dalam proses perampungan Code of Conduct. Sikap kooperatif dari China, kata Retno, dianggap dapat berkontribusi mempercepat penyelesaian negosiasi kesepakatan tersebut.

 

“Kami sungguh berharap bahwa China juga akan bersikap kooperatif dan ikut bekerja sama dalam merampungkan CoC, yang jika memungkinkan akan selesai tahun (2018) ini,” kata Retno.

 

“Tapi, Anda tahu bagaimana negosiasi terjadi, dan pada satu titik, hal itu bisa berlangsung sulit. Meski demikian, rasa percaya harus tetap dibangun terus menerus. Karena tanpa kepercayaan, negosiasi tidak bisa dilakukan,” tambahnya.

 

 

 

(Red: Bee, Liputan 6)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here