Pertama di Indonesia, Presiden Jokowi Resmikan Keramba Jaring Apung Offshore

10
217
Keterangan: Menaiki speed boat, Presiden menuju lokasi keramba jaring apung offshore di PPI Cikidang, Desa Babakan, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, Selasa (24/4). (Foto: Humas)

Pangandaran, NAWACITA– Presiden Joko Widodo (Jokowi) meresmikan Keramba Jaring Apung Offshore di lepas pantai sebagai terobosan dalam memajukan perikanan Nasional.

 

Bertempat di Pelabuhan Pendaratan Ikan (PPI) Cikidang, Desa Babakan, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat. Presiden menyampaikan bahwa Keramba Jaring Apung Offshore  merupakan yang pertama di Indonesia.

 

Ini kita harapkan menjadi cikal bakal berlipat gandanya nilai tambah dari budi daya perikanan Indonesia,” tegas Presiden Jokowi, Selasa (24/4).

 

Sebagai negara dengan 2/3 merupakan air, hampir 70 persen dari luas Indonesia bukan daratan merupakan hamparan air yang mengelilingi berbagai pulau dari Sabang hingga Merauke. Maka potensi laut harus bisa dimanfaatkan dengan baik.

 

“Dan di sini, tadi Ibu Menteri KKP juga sudah menyampaikan bahwa KUD-KUD yang ada di sini nanti dilibatkan dalam keramba jaring apung offshore. Saya tadi diberitahu bahwa keramba jaring apung ini melibatkan KUD nelayan sebanyak 50 orang yang memasok pakan sebagai pakan tambahan,” tutur Kepala Negara.

 

Total jumlah orang yang terlibat langsung dalam keramba jaring apung offshore ini, tambah Presiden, antara 215 sampai 250 orang. “Yang tidak langsung, yang terlibat kurang lebih 220 orang. Ini baru satu yang dibangun di sini, nanti akan dikembangkan 2 lagi. Yang 2 juga sudah dikerjakan di Sabang dan di Karimun Jawa,” tambah Presiden.

 

Hasil Lebih Banyak 

Kepala Negara juga mengajak untuk melihat hasil dari keramba jaring apung offshore yang penebaran benih per tahun bisa lebih banyak, yaitu sekitar 1,2 juta. Hasilnya, lanjut Presiden, produksinya bisa lebih tinggi, yaitu kurang lebih 816 ton per tahun per unit dengan delapan lubang.

 

“Ini gambarnya seperti itu. Coba bandingkan dengan keramba jaring apung yang biasa yang produksinya hanya 5,4 ton per tahun per unit, ini 816 ton. Lipat berapa coba?Inilah hal-hal yang harus dipelajari oleh nelayan sehingga ada peningkatan kesejahteraan di situ,” tambah Presiden.

 

Ini, menurut Presiden, lompatannya akan tinggi sekali. Untuk itu, Presiden meminta betul-betul para nelayan mengikuti perkembangan-perkembangan seperti ini dan harapannya semakin banyak yang terlibat dalam keramba jaring apung offshore ini.

 

Mengenai pemasaran, Presiden berharap ikan tersebut dapat diekspor ke Timur Tengah, Australia, Eropa, Jepang karena harga ekspor sekarang ini pada posisi yang baik. “Negara-negara yang lain itu sudah kehabisan ikan, negara kita ini masih memiliki peluang untuk meningkatkan produksinya lagi,” ujar Presiden.

 

Dalam kesempatan itu, Presiden juga menggarisbawahi yang disampaikan Menteri Kelautan dan Perikanan yang mengajak untuk menggunakan jaring-jaring yang ramah pada lingkungan.

 

 

 

(Red: Bee, sumber setkab)

 

Comments are closed.