Mengenang 13 Tahun Bencana Alam di Kepulaun Nias, 28 Maret 2005

1
806
Keterangan: Kondisi Masyarakat Pasca Gempa Nias Pada Tanggal 28 Maret 2005

 

 

Jakarta, NAWACITA- Tidak terasa waktu berjalan begitu cepat. Tiga belas (13) tahun lalu tragedi besar terjadi di Pulau Nias tepat pada tanggal 28 Maret 2005. Gempa Dahsyat ini mengguncang pulau Sumatera dan pusatnya di Kepulauan Nias.

 

Bila diingat kembali, Bencana alam di Pulau Nias ini menewaskan kurang lebih  1.000 korban  jiwa dan 2.391 orang luka-luka berat dan ringan. Belum lagi mereka yang  kehilangan harta benda, bangunan tempat tinggal dan usaha hancur barantakan.

 

Akibat bencana ini pula, tatanan kehidupan masyarakat menjadi rusak. Warga yang berada dipulau Nias merasakan bagaimana penderitaan jiwa dan raga yang terjadi. Begitu besarnya guncanganya satu pulau berguncang dengan kekuatan gempa sebesar 8,7 Skala Richter.

 

Tidak sedikit air mata yang tertumpah mulai dari orang tua yang kehilangan anaknya, air mata anak yang kehilangan ayah ibunya, air mata istri yang kehilangan suami dan air mata suami yang kehilangan istri dalam sekecap mata tanpa pesan.

 

Salah satu saksi hidup, Otoli Zebua menceritakan penderitaan yang dialami saat gempa di Pulau Nias. Saat itu, dirinya sedang berada di Jakarta untuk pendidikan. Dirinya langsung pulang kampung tiga hari setelah kejadian.

 

Berikut kutipan dari tulisannya, saya tidak menyangka kalau rumah yang kami bangun dengan keringat harus rusak. Kaki ibu tercinta kami yang sedang tidur di kamar patah karena tertimpa bangunan.

 

Saat saya menginjakkan kaki dikampung tercinta, sungguh memprihatinkan kondisi masyarakat Nias. Mereka sangat ketakutan sekali karena setiap hari mereka merasakan guncangan hingga puluhan kali.

 

Pulau Nias seakan mati. Bila malam hari maka gelap gulita. Penerangan dari PLN tidak bisa beroperasi. Sehingga masyarakat saat itu tidak memperdulikan harta benda. Mereka lebih mementingkan keselamatan nyawa.

 

Saat peristiwa ini terjadi, penulis melihat ada perubahan yang terjadi, bagaimana orang  mulai mendekatkan diri kepada TUHAN, sudah lama penulis tidak melihat dan mendengar setiap pagi dan malam ada DOA dan NYANYI dalam setiap rumah rumah penduduk, namun saat peristiwa ini terjadi mulai terdengar NYANYIAN PUJIAN dan DOA dari setiap rumah, ini pertanda masyarakat NIAS sangat PERCAYA KEPADA TUHAN bahwa DIA  sanggup memberikan mereka kekuatan melewati hari hari yang sulit dan menakutkan bahkan percaya dibalik bencana yang dialami ada RENCANA TUHAN.

 

Masa depan kepulauan NIAS ada ditangan TUHAN, pengharapan PADA-NYA tidak pernah mengecewakan, bersama dengan berjalannya  waktu kepulauan NIAS terus membenahi diri, mulai bangkit dari kerterpurukan PELAN TAPI PASTI kesulitan hidup mulai diatasi banyak uluran tangan yang membantu dari luar dan dalam Negeri, pemerintah pusat maupun daerah terus mengupayakan perbaikan perbaikan baik fisik jalan jalan jalan yang rusak, bangunan bangunan pemerintah bahkan rumah rumah penduduk dengan memberikan bantuan.

 

Mengenang peristiwa ini ada makna dan hal positif yang bisa kita ambil :

  1. Bencana alam bisa datang kapan saja tanpa pemberitahuan, karena hingga kini belum ada teknologi dan tak ada seorangpun yang mampu untuk meramalkan kejadian gempa dengan tepat baik waktu, lokasi maupun kekuatan gempa, oleh karena itu masyarakat  harus selalu WASPADA.
  2. Sebagai orang yang percaya kita harus BERSERAH kepada TUHAN yang mengatur Alam Raya ini tidak berhenti untuk BERHARAP dan BERDOA padanya.
  3. Pemerintah bersama masyarakat terus melakukan upaya MITIGASI (pembelajaran)  yang bertujuan mencegah agar bahaya gempa yang mungkin terjadi di kemudian hari tidak menyebabkan jatuh korban jiwa atau risiko gempa dan tsunami dapat diminimalkan. Masyarakat  harus sadar dan meningkatkan kemampuan dalam menghadapi ancaman bencana.

 

Tulisan yang sangat sederhana ini semoga berguna bagi kita yang membaca, minimal mengingatkan kita bahwa BENCANA bisa datang kapan saja dan melanda siapa saja, kita doakan KEPULAUAN NIAS agar di berkati oleh TUHAN, baik pemerintah, masyarakat dan TANAH KEPULAUAN NIAS diberi kesuburan.

 

YAAHOWU,

Otoli Zebua

Penulis

Comments are closed.