Napi di Penjara Ini Harus Tidur Miring Tiap Malam

62
155
BIAR TAK APEK: Mumpung cuaca panas, para penghuni Lapas Kelas II-A Sidoarjo menjemur alas tidurnya pada Jumat (23/6). (Hanung Hambara/Jawa Pos)

Nawacitapost.com – Sebagian penjara di Jawa Timur mengalami overkapasitas. Tidak terkecuali, Lapas Kelas II-A Sidoarjo. Permasalahan lama itu hingga kini belum teratasi.

LEBIH dari setahun Benny Ismail mendekam di penjara. Dia sudah terbiasa tidur berdesakan. Berbagi tempat dengan tahanan dan narapidana (napi) lain. Bahkan, napi kasus narkoba itu berkali-kali merasakan tidur berimpitan dengan posisi miring sepanjang malam.

’’Kalau tidur telentang, tempatnya pasti kurang,’’ kata Benny, dilansir Jawa Pos.

Tak jarang, mereka harus pintar-pintar mencari celah di antara tubuh penghuni lain agar bisa tidur. Termasuk tidur di bawah pantat temannya. Risikonya sangat tak enak. Yakni, diterpa kentut. Tapi, hal itu tidak membuat mereka ribut. Justru menjadi bahan tertawaan dan guyonan antar penghuni.

’’Di sini kami memang harus saling memahami dan menghormati,’’ ujar napi yang divonis penjara lima tahun itu.

Sel kamar yang ditempati pria 24 tahun tersebut sebenarnya cukup luas. Ukurannya sekitar 6 x 4 meter. Namun, kamar itu selalu terasa sesak. Maklum, rata-rata tiap hari isinya lebih dari 30 orang.

Sel dengan satu kamar mandi tersebut makin terasa sumpek karena tidak memiliki tempat menyimpan baju atau lemari. Rak mini pun tidak ada. Sebagai ganti, tersedia puluhan kardus yang berfungsi sebagai ’’lemari mobile’’. Di sanalah masing-masing tahanan dan napi menyimpan pakaian. Biasanya kardus diletakkan di dekat mereka tidur. Baju-baju lain digantung begitu saja di tembok. ’’Kalau tempat tidurnya pindah, ya kardusnya ikut pindah,’’ kata Benny.

Saat ini jumlah tahanan dan napi di Lapas Delta mencapai 1.031 orang. Padahal, kapasitas hunian idealnya hanya 343 orang. Kelebihan penghuni tersebut sudah lama terjadi. Namun, akhir-akhir ini jumlahnya sangat banyak. ’’Dulu tidak sampai seribu (penghuni),’’ ujar Kasi Pembinaan Narapidana dan Anak Didik Lapas Kelas II-A Sidoarjo Fathorrosi. Bahkan, jumlah tahanan yang dititipkan di lapas saat ini tidak jauh berbeda dengan napi (lihat grafis).

Menurut Fathorrosi, kondisi penjara yang penuh tersebut tidak ideal. Bukan hanya dari segi kelayakan hidup yang manusiawi bagi para penghuni, aspek pembinaan pun menjadi tidak maksimal. Dengan lahan yang terbatas, pihak lapas tidak bisa membuat beragam kegiatan. Misalnya, kegiatan pertanian. Lahan yang tersedia hanya berada di areal brandgang. Lapangan olahraga pun tidak begitu luas. Satu-satunya lapangan harus digunakan bergantian.

Risiko keamanan juga menjadi masalah tersendiri. ’’Jika terjadi keributan, akan berbahaya,’’ ujar Kepala Kesatuan Pengamanan Lapas Kelas II-A Sidoarjo Alip Purnomo. Apalagi, jarak kantor petugas dan kamar warga binaan sangat dekat. Batasnya hanya dipisahkan pagar biasa yang di atasnya dipasangi kawat berduri. (may/JP/pri/c7)

Comments are closed.