Ngeri! Anak-anak Nyanyikan ‘bunuh si Ahok’ di pawai obor

10
289
Saat ini provokator dan penyebar hoax lewat media sosial bagaikan api yang bisa membakar dan menghancurkan NKRI / Foto: jogja.co

Nawacitapost.com – Miris! Pawai obor yang biasa dilakukan jelang ramadhan ternyata diisi dengan hal mengerikan. Entah siapa yang mengajari, anak-anak memelesetkan syair “cangkul, cangkul, cangkul yang dalam’ dari lagu  Menanam Jagung di Kebun Kita menjadi ‘bunuh, bunuh, bunuh si Ahok”.

Pawai obor menyambut Ramadan dilakukan di sejumlah tempat di Jakarta, pada Rabu (24/05). Di malam yang sama terjadi bom bunuh diri di Terminal Kampung Melayu.

Teriakan “bunuh-bunuh si Ahok” dengan melodi lagu anak-anak Menanam Jagung di Kebun Kita, saat pawai obor pun terdengar dalam video pendek yang beredar di media sosial.

“Ada foto2 (foto-foto) & video korban teror bom bunuh diri di Kp Melayu, tp yg (tapi yang) lebih menakutkan bg (bagi) saya: video anak2 yg (anak-anak yang) diajarkan & diperalat teriak2 bunuh2 (teriak-teriak bunuh-bunuh),” tulis penulis dan aktivis, Mohamad Guntur Romli, melalui akun Twitternya.

“Sampai kapan dibiarkan anak2 itu diajarkan teriak2 bunuh2, apakah smpai nanti mrk menjadi pelaku bom bunuh diri?” tambahnya dengan puluhan komentar.

Salah seorang pengguna, Dian, menanggapi dengan menyatakan, “Saya sebagai ibu miris mendengar anak2 kecil teriak2 bunuh2 di acara pawai obor yg seharusnya menyenangkan.”

“Pihak @komnas_anak dan @Itjen_Kemdikbud hrs turun tangan!! Jangan diam saja ketika anak2 Indonesia di ajarkan yel2 bunuh orang!!” tulis pengguna lain Bennicio‏ @benny_ibra.”

Pakar psikologi anak Universitas Indonesia, Rini Hildayani, mengatakan bila hal seperti ini dibiarkan dapat berbahaya.

“Pesan itu bisa tercatat bahwa hal itu memang benar untuk dilakukan, ketika perilaku itu dibiarkan terjadi dan tidak ada konsekuensi untuk anak justru mungkin direwarddengan perilaku mereka itu. Anak anak bisa melihat bahwa perilaku itu wajar dan tidak salah,” kata Rini.

“Kalau internalisasi (dari rumah tangga) bisa berbahaya, kalau dari usia kecil anak-anak sudah terpapar oleh sikap yang mentolerir atau membolehkan tanpa ada konsekuensi atas hal-hal yang agresif dan secara moral itu tak bisa dibenarkan meneriakkan hal-hal yang harmful (membahayakan) buat orang lain.

Kayaknya ringan saja ngomongnya kan, kayak kita mau bilang mau beli permen. Padahal ucapan itu ada muatan agresivitas dengan mengatakan bunuh dan mengatakan hal-hal yang semacam itu. Bila itu ditolerir kata-kata seperti itu bisa dianggap benar dan hal-hal yang lebih jauh lagi mungkin saja terjadi di masa-masa yang akan datang,” tambahnya.

Teriakan “bunuh-bunuh si Ahok” diangkat Rizieq Shihab pada saat demo menentang mantan gubernur DKI Jakarta itu November lalu.

Rizieq sendiri tak jelas keberadaannya setelah tidak hadir dalam pemanggilan polisi terkait dugaan pelanggaran Undang-undang Pornografi menyangkut Firza Husein. (valerian/bbcindonesia)

Comments are closed.