Para narkobawan yang menjadi kaki tangan Toge / Foto: detik.com

Nawacitapost.com – Terpidana mati bandar narkoba Togiman alias Toge alias Toni  sem­pat mencoba menyuap Kepala BNN Budi Waseso dengan uang sebesar Rp 8 miliar pada 2016. Namun, usaha tersebut tidak berhasil.

“Toge ini waktu ditangkap April 2016 ingin menyuap saya Rp 8 miliar, dan untuk para anggota BNN. Memang gak ke saya langsung, tapi lewat orang. Tapi tetep aja saya gak tergiur,” cerita Kepala BNN, Budi Waseso saat jumpa pers terkait penangkapan Toge di Cawang, Senin (22/5/2017) kemarin.

Penang­kapan terhadap Toge merupakan bukti masih lemahnya penga­manan dan pengawaaan di da­lam lapas. Termasuk lemahnya sistem hukum dalam penegakan hukum, yang kemudian diman­faatkan para bandit untuk men­jalankan bisnis haramnya dari dalam lapas.

“Jadi gak perlu heran ka­lau narkoba di Indonesia su­lit diberantas. Pengawasan di dalam lapas aja lemah, belum lagi dari sisi sistem hukum juga lemah. Makanya, masih ada aja ‘permainan’ di dalam lapas,” kata Buwas.

Toge tercatat seba­gai residivis kasus narkoba kam­buhan karena sudah beberapa kali dipenjara. Toge pertama kali ditangkap pada 2005, 2007, dan 2010 dia kem­bali ditangkap dengan barang bukti dua ribu butir pil ekstasi.

Di 2010, Toge dihukum 10 tahun dan dijalankan di (LP) Tanjung Gusta. Tapi kemudian pada 1 April 2016, Toge kembali ditangkap BNN atas keterlibatannya dalam jaringan narkotika Aceh-Medan-Malaysia pada pertengahan Mei 2017. Dia diduga kuat mengendalikan jaringan narkotika dari balik LP Tanjung Gusta, Medan, Sumatera Utara.

Dari tiga anak buahnya, BNN menyita 25 Kilogram sabu yang diselundupkan di dalam boks ikan. Toge, kata Buwas, memesan sabu dari Malaysia.

Terungkapnya kasus ini berkat kerja sama BNN dengan pihak intelijen dan kepolisian serta Bea dan Cukai. Buwas meyakini tidak hanya Toge, tapi ada bandar narkoba lain yang masih menjalankan bisnis di Lapas.

Baca juga :  Penyaluran Bansos Dikebut Hingga Akhir Februari

Kasus Toge ini juga sem­pat menggemparkan institusi Polri karena menyeret seorang perwira, AKP Ichwan Lubis. Perwira menengah yang saat itu menjabat sebagai Kasat Narkoba Polres Pelabuhan Belawan itu menerima uang Rp 2,3 miliiar dari Tony yang diduga untuk mengamankan kasus yang me­libatkan jaringannya. (fajar)

Comments are closed.