Foto: Net

Nawacitapost.com – Dirjen Pemasyarakatan (PAS) I Wayan Dusak menyebut ada 50 persen narapidana di lapas terlibat kasus narkoba. Dusak mengatakan masalah narkoba memang menjadi tantangan Ditjen PAS.

“Narkoba bukan masalah pemasyarakatan tapi masalah semuanya. Siapa saja bisa kena, siapa saja bisa masuk penjara. Narkoba ini kalau kita hitung lebih dari 50 persen itu terkait narkoba,” kata Dusak saat Buka-bukaan tentang Pemasyarakatan di Ditjen PAS, Jl Veteran, Gambir, Jakarta Pusat, Rabu (25/4/2017).

Wayan mengatakan, pihaknya sebenarnya sudah melakukan berbagai upaya untuk mencegah narkoba masuk dan beredar di lapas.

Salah satunya dengan menggunakan anjing pelacak saat memeriksa barang bawaan pengunjung.

“Tapi ada yang pingsan, ada yang protes makanannya di endus. Ini kan bisa timbulkan chaos,” ucapnya.

Wayan menambahkan, kondisi diperparah dengan modus penyelundupan narkoba yang dilakukan dengan berbagai cara. Misalnya, penyelundupan narkoba yang diselipkan dalam gigi palsu.

“Masa setiap pengunjung yang pakai gigi palsu mau kita periksa?” ujar dia.

Modus lain, narkoba dimasukkan ke dalam makanan yang dibawa oleh pengunjung.

“Ada yang bawa kue semprong yang di dalamnya coklat itu ada 300. Kalau mau periksa kan harus dicolok. Ini yang memungkinkan barang itu lolos,” kata dia.

Dia juga menyebut sudah mencoba untuk menambah petugas lapas dengan bantuan tentara untuk memperkuat pengamanan. Hanya saja usulan itu tidak disetujui.

“Memang persoalan SDM kurang, kita mau pakai tentara dibilangnya orang sipil dijaga tentara itu sadis. Selalu ada tantangannya,” kata dia.

Tak hanya itu persoalan anggaran juga menjadi hambatan penambahan personel pengawas lapas. Pertimbangan mempekerjakan pekerja lepas (outsourching) terkendala biaya.

“Banyak yang bertanya kenapa tidak memakai outsourching karena anggarannya baru yen bukan dollar. Yen ana duite (jika ada uangnya), itu persoalan juga,” paparnya. (rian)

Baca juga :  Peringati Nuzulul Qur’an, Warga Binaan Rutan Cipinang Kanwil Kumham DKI Khatam Al Qur’an