Jakarta, NAWACITApost.com - Setiap tanggal 2 Mei, diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Dalam sejarahnya, pemerintah pertama kali menetapkan 2 Mei sebagai Hardiknas pada 16 Desember 1959.
Artinya, Hari Pendidikan Nasional 2023 adalah peringatan yang ke-64 tahun sejak pertama kali diperingati pada 1959. Tanggal 2 Mei dipilih menjadi Hardiknas karena merupakan tanggal lahir Ki Hadjar Dewantara sebagai Bapak Pendidikan Nasional.
Kepala Kantor Staf Kepresidenan (KSP) Moeldoko mengucapkan selamat Hari Pendidikan yang ke-64 pada tahun ini. Ia juga mengajak untuk menghargai pentingnya pendidikan sebagai fondasi keberhasilan di masa depan.
"Mari terus berkomitmen untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia, sehingga setiap anak Indonesia memiliki kesempatan yang sama untuk belajar dan berkembang. Selamat Hari Pendidikan Nasional!" kata Moeldoko, Rabu (3/5/2023).
Namun, pada peringatan Hardiknas yang usianya lebih dari setengah abad pada tahun ini, masih menyisakan sejumlah pekerjaan rumah (PR). Menurut data Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil), penduduk Indonesia berjumlah 275,36 juta jiwa pada Juni 2022. Dari jumlah tersebut hanya 6,41% yang sudah mengenyam pendidikan sampai perguruan tinggi.
Rinciannya, yang berpendidikan D1 dan D2 proporsinya 0,41%, kemudian D3 sejumlah 1,28%, S1 sejumlah 4,39%, S2 sejumlah 0,31%, dan hanya 0,02% penduduk yang sudah mengenyam pendidikan jenjang S3. Sampai Juni 2022 penduduk Indonesia yang berpendidikan hingga Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) ada sebanyak 20,89%. Kemudian yang berpendidikan hingga Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) sebanyak 14,54%.
Sementara itu 23,4% penduduk Indonesia merupakan tamatan Sekolah Dasar (SD). Ada pula 11,14% yang belum tamat SD, dan penduduk yang tidak sekolah/belum sekolah mencapai 23,61%.
Moeldoko sendiri memiliki perhatian yang sangat besar terhadap pendidikan. Ia pernah memberikan motivasi kepada siswa-siswi di SD Negeri Selaawi, Cianjur, Jawa Barat. Melalui Yayasan Koes Moeldoko dan Yayasan Sakuranesia Society, diserahkan pula bantuan pendidikan senilai Rp200 juta kepada sekolah tersebut.
"Saya dulu waktu kecil lebih susah dari kalian. Sekolah sering banjir, belajarnya ngungsi di balai desa. Tapi semangat untuk sekolah terus saya lakukan," ujar Moeldoko