Keluarga adalah Prioritas

1
129
akarta, NAWACITA - Di ruang rapat Lender Group. Saya bersama direksi tetap tenang menanti kehadiran team lender. Mungkin sebentar lagi saya akan kehilangan perusahaan.
Keluarga adalah Prioritas

Jakarta, NAWACITA – Di ruang rapat Lender Group. Saya bersama direksi tetap tenang menanti kehadiran team lender. Mungkin sebentar lagi saya akan kehilangan perusahaan. Karena gagal bayar utang. Tidak ada perasaan kawatir dan takut. Apalah saya. Setamat SMA saya gagal diterima di semua universitas. Mau kerja tidak diterima dimanapun. Akhirnya saya terpaksa bekerja apa adanya dan akhirnya mengiring saya berwiraswasta. Tanpa modal , tanpa relasi. Karena saya terlahir dari keluarga miskin. Saya melangkah dengan tanpa pilihan banyak.

Ketika remaja, dalam percintaan saya selalu gagal. Bukan karena saya menolak tapi semua wanita menghindar dari saya. Saya menikah diusia dini karena pilihan orang tua dan saya terima dengan rasa syukur. Mungkin satu satunya keputusan bagus yang pernah saya buat dalam hidup adalah menikah. Teringat ketika menikahi istri, saya malu menyampaikan cita cita saya berumah tangga. Saya hanya berterimakasih masih ada wanita yang mau menemani saya dalam kekurangan saya.

Baca Juga: Mungkin Lebih Baik Move On

Saya pernah terkena sakit radang tengah otak sehingga membuat pendengaran saya hilang. Saya juga pernah kena penyakit pengurangan fungsi lever. Berkali kali saya jatuh ketika berada di luar negeri. Namun saya tetap tahan. Tanpa ingin membuat orang sekitar saya bersedih atau prihatin. Saya pernah kena jantung coroner. Berkali kali saya harus berhenti berjalan karena dada saya sesak. Penyakit itu saya tahan dengan wajah tetap ceria.Saya malu bercerita betapa menderitanya karena penyakit itu. Saya tahan sakit itu sendirian. Mungkin Tuhan kasihan dengan saya sehingga penyakit itu sembuh begitu saja.

Saya tidak punya pendidikan hebat, tidak terlahir dengan harta berlebih, tidak punya kemampuan menghafal dan mengingat seperti orang lain, tidak punya jabatan bergengsi di pemerintahan dan tidak punya keberanian culas. Tidak pernah mampu menepuk dada karena apapun. Sepanjang hidup saya hanya ingin membuat orang terdekat saya senang dan bahagia. Ingin orang lain senang. Walau kadang karena itu saya tidak dihargai. Saya tidak peduli karena mungkin memang saya tidak pantas dihargai.

“ Pak, kami sudah keluar uang tidak sedikit di proyek Ginzo. Awalnya anda utang dengan basis venture. Setelah proyek jadi kami maklumi usulan anda membayar dengan bond backed Sblc. Dan sekarang jatuh tempo, anda minta extend lagi atau tukar dengan preferred stock. Kenapa engga terima usulan kami masuk dengan private placement? Jadi urusannya selesai” Kata team lender mengawali rapat.
“ Saya setuju dengan private placement. Tapi harganya 2 kali book value”
“ itu engga mungkin. 50% investasi anda berasal dari kami dan sekarang anda minta 2 kali book value. Itu sama aja anda engga bayar. Bijak lah”
“ Masalahnya 10% saham sudah saya lepas secara private placement. Harganya ya 2 kali book value. Dan anda sebagai pemegang surat utang senior menyetujui ketika itu. Kalau saya ikuti mau anda, saya akan dituntut oleh pemegang saham lain”

Baca Juga: Profit or Value?

Mereka terdiam saling pandang. Ini rapat paling panas. Sudah tiga kali ditunda rapat. Saya didampingi asset Manager dan dua direktur.

“ Kami akan lakukan legal action” Kata mereka. Saya tetap tenang.
“ Bro, kita berbisnis sudah 8 tahun bersama sama. Proyek dibangun di negara anda. Hitunglah berapa manfaat negara anda atas proyek ini? Ada lebih 2000 industri dari Jepang, Korea , Taiwan yang bergabung dalam kawasan industri itu. Berapa devisa masuk untuk china. Dan sekarang, ini yang saya terima. Anda akan gugat saya. Saya tidak tahu harus bersikap apa?” Kata saya dengan menggeleng gelengkan kepala.

Mereka diam. Semua diam.

“ Pak, “ kata salah satu yang lebih senior “ Maafkan kami. Apakah anda bisa hubungi pejabat ini” kata nya seraya menyerahkan kartu nama. “ Tolong jelaskan sikap anda kepada dia. Please. Kami hanya menjalankan tugas”
“ Telp nomor ini” kata saya kepada direksi saya. Tak berapalama dia menyerahkan HP nya kesaya.
“ MR.B, ada apa?
“ Masalah potensi gagal bayar utang saya. “
“ Ok. Jelaskan ke saya“
Saya menjelaskan secara singkat kegagalan saya masuk ke bursa Hongkong untuk refinancing hutang. Tapi kondisi keuangan perusahaan sehat kalau tidak ada cash out bayar utang.

“ Bro, Masalah utang engga usah dipikirkan. Ingat kita sahabat. Tetapi…. “ dia diam sebentar
“ Silahkan .. apa?
“ Saya ingin kamu pimpin kembali holding kamu. Hanya itu solusi nya agar kami merasa aman”
“ Saya sudah komit sejak awal tahun. Masalahnya saya masih butuh izin dari istri saya. Beri waktu saya sampai bulan depan”
“ Ok Bro. prioritaskan keluarga, Ya”
Saya menghela nafas. Tak berapa lama, salah satu mereka terima telp hanya dua menit selesai. “ Baik Pak. Kita Anggap selesai masalahnya. Mohon maafkan kami”

Baca Juga: Bukan Sistem tetapi Mental

Usai meeting “ Anda sabar sekali dan luar biasa tenang. “ kata direksi saya.
“ Apalah saya. Saya bukan siapa siapa. Mungkin bukan orang yang pantas diteladani. Sedari kecil saya berusaha untuk menjadi murid terpintar tapi selalu gagal. Jangankan juara kelas ,rangking 10 pun tidak bisa. Apalagi seluruh sekolah. Saya tidak paham gramer bahasa inggeris dan juga tata bahasa Indonesia. Karena kelemahan daya ingat saya. Jadi kalau sampai mereka sita semua saham saya, itu juga biasa saja. Kegagalan dalam bisnis tak terbilang sehingga sangking seringnya gagal adik adik saya menganggap saya tak butuh uang. Teman teman saya bilang, saya memang engga ada urat kaya. Akhirnya sayapun tidak pernah berpikir lagi soal uang dan harta. Kegagalan bukan sesuatu yang asing dan tidak pernah jadi kejutan”

“ Jangan bicara begitulah Pak. Semua kami mencintai anda. Engga ada alasan lender merampas saham anda, apa lagi singkirkan Anda. Perusahan dikelola sangat profesional dan pengorbanan anda luar biasa. Semua untuk menjaga komitment kepada stakeholder”

Saya hanya diam.

“ Kami jadi terharu, begitu tingginya rasa hormat anda kepada istri sehingga lebih utamakan ibu di rumah dalam setiap keputusan bisnis”

“ Saya pria beristri. Keluarga adalah prioritas “ Kata saya dengan tersenyum.
“ Saya paham, karena saya juga wanita, namun tidak mendapatkan pria seperti itu. “ Airmatanya berlinang.

Erizeli JB (Pecinta Kebijaksanaan)

Comments are closed.