BI Rilis Perkembangan Indikator Stabilitas Nilai Rupiah per-11 Juni 2021

0
144

Surabaya NAWACITAPOST – Sebagai bentuk pertanggung jawaban sekaligus memberikan informasi terkait perkembangan perekonomian Indonesia disaat pandemi Covid-19, secara periodik Bank Indonesia menyampaikan perkembangan indikator stabilitas nilai Rupiah. Indikator dimaksud adalah nilai tukar dan inflasi, sebagai berikut

Kepala Departemen Komunikasi Erwin Haryono Bank Indonesia, melaporkan Periode perkembangan Nilai Tukar pada 7 —11 Juni 202.

Pada akhir hari Kamis 10 Juni 2021 lalu, nilai tukar Rupiah ditutup pada level (bid) Rp 14.245 per dolar. Yield SBN (Surat Berharga Negara) 10 tahun turun ke level 6,35%. DXY (Indeks dolar) melemah terbatas ke level 90,08. Sedangkan Yield UST (US Treasury) Note 10 tahun juga turun ke level 1,432%.

Sementara pada Jumat pagi 11 Juni 2021 kemarin, Rupiah dibuka pada level (bid) 200 per dolar AS. Sedangkan Yield SBN 10 tahun turun ke level 6,32%

Melaporkan Aliran Modal Asing, di Minggu ke II bulan Juni 2021, Premi CDS Indonesia 5 tahun turun ke level 73,52 bps per 10 Juni 2021 dari 75,21 bps per 4 Juni 2021. Berdasarkan data transaksi 7 — 10 Juni 2021, nonresiden di pasar keuangan domestik beli neto Rp10,54 triliun terdiri dari beli neto di pasar SBN sebesar Rp10,49 triliun, dan beli neto di pasar saham sebesar Rp0,05. Sementara berdasarkan data setelmen selama 2021 (ytd), nonresiden beli neto Rp 14,65 triliun.

Pada kesempatan ini, Bank Indonesia sebagai penetap dan pelaksana kebijakan moneter, memastikan Inflasi masih berada pada level yang rendah dan terkendali.

Berdasarkan Survei Pemantauan Harga pada minggu II Juni 2021, perkembangan harga pada minggu II Juni 2021 masih relatif terkendali dan diperkirakan deflasi 0,09% (mtm). Dengan perkembangan tersebut, perkiraan inflasi Juni 2021 secara tahun kalender sebesar 0,81 % (ytd), dan secara tahunan sebesar 1,40% (yoy).

Dijelaskan, penyumbang utama deflasi Juni 2021 sampai dengan minggu kedua yaitu komoditas daging ayam ras dan cabai merah masing-masing sebesar -0,09% (mtm), tarif angkutan antarkota -0,06% (mtm), cabai rawit -0,04% (mtm), bawang merah -0,02% (mtm), kelapa, tomat dan daging sapi masing-masing sebesar -0,01 % (mtm). Sementara itu, beberapa komoditas mengalami inflasi, antara lain telur ayam ras sebesar 0,04% (mtm) emas perhiasan sebesar 0,03 % (mtm) minyak goreng, sawi hijau, kacang panjang, nasi dengan lauk dan rokok kretek filter masing-masing sebesar 0,01% (mtm).

Menyikapi hal ini, bersama otoritas terkait, Bank Indonesia akan terus memperkuat koordinasi dengan Pemerintah untuk memonitor secara cermat dinamika penyebaran Covid-19 dan dampaknya terhadap perekonomian Indonesia dari waktu ke waktu, serta langkah-langkah koordinasi kebijakan lanjutan yang perlu ditempuh untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan, serta menopang pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap baik dan berdaya tahan. (BNW)