Apa Kabar Swasembada Daging Sapi?

0
490

Jakarta, NAWACITAPOST – Mogok jualan pedagang sapi sangat beralasan. Harga potong lebih tinggi dari harga jual,  menjadi penyebabnya. Ini yang membuat pedagang menjerit. Akibatnya  penjual merugi. Itulah renteten yang terjadi harga daging sapi meroket, tapi tak ada di pasar.

Baca Juga : Harga Daging Sapi Meroket Tinggi Hingga Rp180 Ribu per Kg

Keluhan pedagang ini sudah terasa satu minggu terakhir, dan memuncak pada Rabu –Kamis (20 – 21 Januari 2021). Bukan untung, malah merugi, jika berjualan. Sehingga para  pedagang memutuskan mogok berjualan daging sapi di Jabodetabek.

Mengutip Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPS) per 20 Januari 2021, harga daging sapi untuk wilayah DKI Jakarta sebesar Rp 129.150 per kilogram dan di Jawa Barat Rp 124.950 per kilogram.

Terkait hal tersebut, Sekretaris Jenderal Kementerian Perdagangan Suhanto seperti dilansir ayojakarta.com menyebut, harga daging sapi sampai menggila di tingkat pedagang, sehingga memicu mogok massal para penjual di beberapa daerah.

Terkait mahalnya harga daging sapi, Kementerian Perdagangan (Kemendag) membeberkan penyebab naiknya harga daging sapi di tingkat pedagang. Dalam hal ini, kenaikan harga karkas di Rumah Potong Hewan (RPH) dipicu oleh kenaikan harga sapi bakalan asal Australia selama satu semester terakhir, yang pada Juni 2020 masih berada di kisaran 2,8 dolar AS per kg berat hidup dan kini pada Januari 2021 menjadi 3,78 dolar AS per kg berat hidup.

Sementara itu Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Asosiasi Pedagang Daging Indonesia (APDI) Asnawi meneyatakan, penyebab tingginya harga sapi karena kenaikan yang memang sudah terjadi pada negara produsen. “Pihak importir sapi mendapatkan harga yang sudah sangat tinggi dari negara produsen, seperti Australia,” ujar Asnawi se[erti dilansir Kompas.com, Selasa (19/1/2021).

Asnawi melanjutkan, kenaikan harga sapi bakalan hidup dari Australia sudah terjadi sejak Juli 2020, di mana hingga Januari 2021 kenaikan harga sudah mencapai Rp 13.000 per kilogram. Ia menjelaskan, pada Juli 2020, harga sapi bakalan hidup dari Australia sudah di level 3,6 dollar AS per kilogram. Harga itu berlanjut naik hingga per Januari-Februari 2021 di level 3,9 dollar AS per kilogram untuk sapi bakalan hidup. Itu belum biaya-biaya bongkar muat di pelabuhan dan transportasi angkutan, tegas Asnawi.

Hal senada disampaikan Sekretaris Dewan Pengurus Daerah APDI DKI Jakarta Tb Mufti Bangkit mengatakan, aksi mogok dipicu lonjakan harga daging sapi di tingkat rumah pemotongan hewan. Ia menjelaskan, saat ini harga daging sapi yang belum dipisah antara tulang dan kulitnya atau karkas mencapai Rp 95.000 per kilogram. Harga itu dinilai terlalu tinggi untuk dijual kembali ke pasar. “Ditambah ongkos produksi dan ekspedisi total sudah Rp 120.000-lah. Sedangkan harga eceran tertinggi ditetapkan pemerintah Rp 120.000. Belum karyawan, belum pelaku pemotong sendiri kan harus (memberi uang) anak istri di rumah,” jelas Mufti.

Menurut Mufti, kenaikan harga daging sapi merugikan pedagang. Pasalnya, telah melebihi harga eceran tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah. Akibatnya, masyarakat enggan untuk membeli daging sapi lagi. Ia mengatakan, kenaikan harga daging sapi diperkirakan terus berlanjut hingga Maret-April 2021 dengan harga tertinggi Rp 105.000 per kilogram untuk karkas. “Diprediksi masih akan naik terus sampai dengan bulan Maret atau April,” pungkas Mufti.

Para pedagang menginginkan pemerintah menstabilkan harga daging sapi di sisi hulu. Sebab, dengan harga yang saat ini tinggi, pedagang kesulitan menjualnya ke konsumen.

Jika menilik dari aksi mogok pedagang daging sapi, karena persoalan harga di pemotongan hewan tinggi daripada harga jual. Lalu keterkaitannya dengan swasembada daging sapi. Dengan pengertian swa- sembada daging sapi di sini merupakan swasembada on-trend, yaitu minimal 90 persen kebutuhan daging sapi dipenuhi dari produksi domestik, sementara 10 persen sisanya dipenuhi dari impor, termasuk yang berasal dari impor sapi bakalan. Lalu, apakah hal ini bisa terpenuhi?

Jadi bagaimana Kementrian Pertanian mempersiapkan Swasembada daging sapi?  Jika ini tersedia, tidak ada lagi jeritan mogok masal pedagang sapi.