Menteri Koperasi & UMKM Dialog Bersama IKAL Jatim dan Apindo, Bangkitkan Pelaku Usaha Perekonomian

0
134
Foto : Menteri Koperasi dan UMKM Teten Masduki

Surabaya, NAWACITAPOST-  Menteri Koperasi dan UKM RI, Teten Masduki, mengajak pelaku usaha bangkit dan meningkatkan perekonomian Indonesia di tengah pandemi Covid-19.

“Menghadapi tantangan yang cukup berat di tengah pandemi ini, pertumbuhan ekonomi Indonesia mengalami kontraksi, di triwulan kedua minus hingga 5,32% dan kemungkinan berkontraksi di kuartal ketiga kisaran minus 2,9% sampai minus 1%,” kata Teten Masduki saat Dialog Interaktif dan Webinar Nasional bertema Mencetak Pahlawan Ekonomi UMKM Berkarakter Kebangsaan Diera Adaptasi Kebiasaan Baru hasil kerjasama dengan Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Rabu (14/10/2020).

Baca Juga : AHY SBY bersama Demokrat Bagai Air di Daun Talas

Teten pun mengungkapkan bahwa, akibat Pandemi angka pengangguran sekarang bertambah lebih dari 3,02 juta orang, dan skenario paling berat sampai dengan 5,71 juta orang. Sektor pertanian, perikanan, dan kehutanan tergolong cukup, namun jika melihat di kuartal yang sama ditahun sebelumnya, maka tahun ini mengalami pertambatan. Sektor UMKM survei menunjukkan hampir 50% pelaku usaha di Indonesia  menutup usahanya.
“Mereka yang tutup karena tidak memiliki tabungan modal,  sedangkan yang bisa bertahan itu melakukan pengurangan karyawan,” jelasnya.

Dia menyebutkan. Penting bagaimana melewati tantangan berat ini, yang sangat ditentukan oleh upaya pemulihan dan transformasi UMKM dan koperasi di tanah air. Mengapa karena hal pemulihan ekonomi nasional tidak mungkin bisa dilakukan kalau kalau tidak menyelamatkan UMK, data terakhir menyebutkan, pelaku usaha di Indonesia itu 99,9% itu adalah pelaku UMKM. Usaha besar hanya, 0,01% dan dalam 10 tahun terakhir dari 2010 sampai 2018 tidak mengalami pertumbuhan. “UMKM dan usaha besar mengalami stagnan tapi kalau kita lihat datanya yang paling menarik usaha mikro atau kita golongkan sektor informal mendominasi sampai 98,8% artinya industrialisasi atau sektor formal tidak bisa menyediakan lapangan kerja,” imbuhnya.

Tanda bahwa kewirausahaan meningkat adalah gemuknya sektor mikro meski demikian, pendapatan. rata-rata masih di bawah Upah Minimum Regional (UMR). Saat ini Kementerian Koperasi dan UMKM sedang mencari upaya bagaimana terjadi pertumbuhan ekonomi di sektor kecil menjadi menengah dan menengah menjadi besar. Selain itu, pemerintah saat ini juga sedang mencoba membangkitkan sektor-sektor unggulan seperti kelautan, perikanan, pertanian menjadi semakin berkembang, sehingga jika mampu mengurangi beban UMKM dalam mengangkat sektor ekonomi nasional.

Saat ini persaingan usaha di kelas bawah atau UMKM di Indonesia sudah sangat ketat di mana d daerah-daerah padat seperti Jakarta dari satu RW dengan 200- 100 rumah, terdapat 25 warung. “Jadi setiap empat rumah ada satu warung, dan ini akan semakin bertambah di tengah pandemi,” ucapnya.

UMKM di tengah pandemi mengalami permasalahan di dua sisi, supply dan dari sisi diman. Dari supply  karena kegiatan usaha terganggu banyak yang mengalami penurunan pendapatan, sehingga banyak yang gagal bayar pinjaman dan banyak juga modal dari pelaku usaha tergerus untuk kebutuhan konsumsi.

Dari supply saat ini pemerintah berupaya membantu dari segi pembiayaan dalam program restrukturisasi selama enam bulan subsidi bunga 6% sampai bulan Desember 2020. “Kita juga menyediakan pinjaman murah dengan bunga 3% yang juga masuk dalam program restrukturisasi,” jelasnya.

Pemerintah juga meluncurkan KUR ultra mikro dengan bunga 0% untuk pinjaman modal di bawah Rp10 juta.  Untuk yang usaha mikro yang belum punya pinjaman bank, memerintah memberikan bantuan modal kerja sebesar Rp24 juta untuk 12 juta pelaku usaha dalam bentuk hibah. “Kami menyadari jika skema program untuk membantu pelaku usaha ini belum bisa memenuhi seluruhnya, mudah-mudahan jika ada sisa anggaran kami akan mengajukan kembali, ” harapnya. (YW)