Berikut Fakta, Erick Jual Obat Avigan Rp20.000

0
130
Berikut Fakta, Erick Jual Obat Avigan Rp20.000

Jakarta, Pemerintah tengah berkoordinasi dengan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) terkait izin edar obat Avigan jenis favipiravir. Proses pembuatan obat itu dikerjakan oleh salah satu BUMN yang bergerak di bidang farmasi, yaitu PT Bio Farma. Beberapa fakta tentang Obat Avigan. Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir memastikan agar obat yang bisa digunakan oleh pasien Covid-19 ini, mampu dijamah kalangan luas. Ia mengatakan di Jakarta, Minggu (27/9/2020). Pemerintah mengupayakan agar harga Avigan lebih murah. Bahkan disesuaikan dengan harga pasar yakni Rp20.000. Kalau yang avigan tentu favipiravir sudah bisa lebih murah, kurang lebih Rp20.000-an.

Baca Juga : Mahfud Md : Tidak Ada yang Larang Menonton Film G30S/PKI

Erick menyebutkan. Pihaknya baru bisa memproduksi obat tersebut pada tahun 2021. Sekarang sudah bisa memproduksi paracetamol sendiri dan itu menjadi harapan tahun depan bisa terjadi pabriknya. Nilainya sendiri seperti yang sudah disampaikan bagaimana bahan obat yang diperlukan pada Covid-19 ini seperti favipiravir yang dulu ngetopnya avigan, sekarang kita bisa produksi sendiri.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengatakan. Pemerintah sudah mendatangkan 5 ribu avigan dan sedang proses pemesanan sebanyak 2 juta. Sedangkan chloroquin sudah disiapkan 3 juta. Namun, tak diketahui obat itu berasal dari negara mana. Sudah siap 3 juta, kecepatan ini yang ingin di sampaikan, tidak hayanya diam, tapi mencari hal, informasi-inforamsi apa yang bisa menyelesaikan Covid ini.

Baca Juga : Menteri BUMN Rombak Direksi PLN, Suahasil Nazara Jadi Wakil Komisaris Utama

Di tengah pandemi virus COVID-19 yang mendunia, ilmuwan dan dokter dari berbagai negara berusaha mencari obatnya. Salah satunya, perusahaan Jepang Fujifilm Toyama Chemical. Mereka mulai melakukan uji coba penggunaan obat flu Avigan untuk diberikan kepada pasien COVID-19. Rupanya penggunaan Avigan di China menunjukkan bahwa Avigan bisa mengobati pasien yang mengalami gejala COVID-19 sedang hingga ringan. Uji coba akan dilakukan pada 100 pasien sampai akhir Juni. mengumpulkan data, menganalisis, dan mengajukan izin setelah ini.