Menteri Keuangan : Transparansi Data Adalah Kunci Utama Dimasa Covid-19

0
74

Jakarta, Nawacitapost.com- Menteri Keuangan Sri Mulyani menyatakan transparansi data adalah kunci utama agar masyarakat tetap percaya dengan kinerja pemerintah di masa pandemi virus corona. Data yang dimaksud salah satunya adalah jumlah masyarakat tertular virus corona. Dia mengatakan pada acara Pertemuan Tahunan Bank Pembangunan Asia (Asian Development Bank/ADB) ke-53 yang diselenggarakan secara virtual, Jumat (18/9) . Untuk bisa publik percaya adalah transparansi data. Berapa banyak yang positif, di mana mereka, bagaimana memperlakukan mereka. Ini sangat penting.

Baca Juga : Jokowi Ajak Masyarakat Berikhtiar Secara Lahir Batin Lawan Corona

Berdasarkan data pemerintah, kasus penularan virus corona di Indonesia pada hari ini bertambah 3.891 orang. Dengan demikian, total masyarakat yang terinfeksi corona mencapai 236.519 kasus. Maka dari jumlah itu 170.774 dinyatakan sembuh dan 9.336 meninggal dunia. Penambahan kasus positif hari ini berdasarkan pemeriksaan 44.428 spesimen. Selain soal data kasus penularan virus corona, transparansi data juga harus dilakukan terkait dengan penggunaan uang negara yang ada dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Sebagai contoh, berapa jumlah dana yang dikeluarkan untuk sektor kesehatan dan bantuan sosial (bansos). Lalu tantangan bertanggung jawab. Dengan harus mengumumkan dan habiskan uang sebanyak- banyaknya untuk apa. Misalnya kesehatan, perlindungan sosial, dan mendukung dunia usaha.

Dalam penyaluran bansos, Sri Mulyani menyatakan pemerintah menggunakan sistem data. Namun, ia menyadari sistem data yang dimiliki Indonesia belum sempurna. Kendati penularan virus corona masih terjadi, Sri Mulyani optimistis persoalan ini akan selesai. Terlebih, masalah ini menjadi persoalan global. Untuk itu, ia berharap semua negara saling membantu satu sama lain. Dalam memulihkan ekonomi, ia meyakini negara tak bisa bangkit sendiri. Akan terus bekerja sama. Pemerintah tidak bisa sendirian. Jadi meski ada negara besar, negara itu tetap butuh kerja sama global. Berharap ada globalisasi yang lebih masif setelah persoalan pandemi berakhir. Ia juga menginginkan agar semua negara lebih peduli dengan negara lainnya.