PT Kereta Commuter Indonesia : Penumpang KRL Merosot 80 Persen

6
357
PT Kereta Commuter Indonesia : Penumpang KRL Merosot 80 Persen

Jakarta, NAWACITAPOST – PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) mencatat penumpang harian Kereta Rel Listrik (KRL) merosot sekitar 80 persen di tengah pandemi virus corona. Artinya, jumlah penumpang yang naik KRL tinggal seperlima dari hari biasa.

“Kalau dilihat dari sisi kerugian, ya pasti (rugi). Kami biasa mengangkut satu juta penumpang per hari. Sekarang angkut 200 ribu-an (penumpang) per hari,” tuturnya melalui konferensi video, Sabtu (13/6).

Dari penurunan penumpang yang drastis itu, katanya, tentu pendapatan dari penjualan tiket maupun kewajiban pelayanan publik atau PSO merosot. Namun, ia tak merinci berapa jumlah kerugiannya.

Perusahaan pun menyiasati kendala ini dengan melakukan efisiensi anggaran yang bisa dipangkas.

Baca Juga : Penegakan Hukum di Papua, Paulus Waterpauw : Dianggap Persoalan Politik

Kendati demikian, pihaknya berharap pemerintah dapat memberikan kebijakan penyesuaian tarif maupun PSO selama pandemi agar PT KCI bisa berjalan dengan baik.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan Zulfikri mengatakan tidak akan ada kenaikan tarif selama pandemi corona untuk KRL.

Salah satu alasannya adalah kondisi perekonomian masyarakat, katanya, juga sedang tidak baik. Karenanya, ia menekankan tarif kereta tidak bisa dinaikkan.

“Tarif kereta (KRL), PSO, pemerintah yang tetapkan. Jadi tidak akan naik. Tapi (kalau tarif kereta) komersil diserahkan ke operator,” ujarnya.

Selain itu, upaya peningkatan kapasitas di KRL sudah dilakukan bersamaan dengan pelonggaran pembatasan aktivitas masyarakat.

Melalui SE Kemenhub No. 14 Tahun 2020, Zulfikri menaikan kapasitas penumpang KRL dari 65 persen jadi 80 persen mulai 9 Juni sampai 30 Juni.

Menurut Zulfikri, angka tersebut untuk saat ini tak bisa ditambah lagi. Pasalnya, pemerintah sudah memperhitungkan jumlah kapasitas dengan kemungkinan meminimalisir penyebaran virus corona.

Ia pun menekankan pihaknya bakal terus mengevaluasi efektifitas aturan kapasitas dan implementasinya di lapangan selama diterapkan.

Sebelumnya, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi menghapus aturan pembatasan kapasitas 50 persen secara serentak untuk semua angkutan. Kini kapasitas penumpang diatur berbeda-berbeda tergantung jenis angkutan.

Comments are closed.