Kasus Jiwasraya, Culas tanpa merasa Berdosa

5
262
Jakarta, NAWACITA - OJK mengusulkan rencana restruktur Jiwasraya (JS) dengan dua skenario yakni pertama, dalam jangka menengah, Jiwasraya sudah membentuk anak perusahaan, PT Jiwasraya Putra yang sudah diberikan konsesi untuk menangani (cover) asuransi-asuransi beberapa BUMN. Jadi JS dapat captive market.
Kasus Jiwasraya, Culas tanpa merasa Berdosa

Jakarta, NAWACITA – OJK mengusulkan rencana restruktur Jiwasraya (JS) dengan dua skenario yakni pertama, dalam jangka menengah, Jiwasraya sudah membentuk anak perusahaan, PT Jiwasraya Putra yang sudah diberikan konsesi untuk menangani (cover) asuransi-asuransi beberapa BUMN. Jadi JS dapat captive market. Skenario kedua adalah skenario jangka panjang, yang melibatkan pemerintah, pemilik, dan BUMN. Yang jelas dalam jangka pendek skenario pertama itu bisa mengatasi persoalan cash flow dan membayar klaim-klaim para nasabah yang jatuh tempo. Indah sekali skenario itu dan sangat brilian. Negara tanpa keluar uang, masalah selesai dengan mudah. Benarkah. Mari kita bahas secara detail skenario itu.

Baca Juga: Membongkar Jiwasraya

PT Jiwasraya Putra itu anak perusahaan dari Jiwasraya. Ingat loh ya. Secara hukum Anak perusahaan BUMN itu bukan BUMN. Ini perusahaan sama dengan swasta. Hebatnya perusahaan baru berdiri dan langsung mendapat izin dari OJK untuk menjalankan bisnis Asuransi. Yang hebatnya lagi, berkat kekuasaan, semua BUMN diwajibkan menjadi nasabah PT Jiwasraya Putra. Jadi future perusahaan bagus banget. Karena ada off taker market, dari adanya keistimewaan yang diberikan pemerintah. Dari skeman off take market inilah , value dihitung untuk menentukan harga saham yang akan dijual secara private placement. Siapa investornya? siapa saja.Tetapi lagi lagi yang didorong OJK adalah BUMN perbankan juga.

Apa artinya ? off taker market dari investor (BUMN) , modal dari investor (BUMN). Nah, hasil penjualan saham ini dipakai untuk membayar kerugian Jiwasraya. Tanpa dana APBN, masalah JS bisa selesai. Para nasabah saving plan JS bisa tersenyum bahagia. Karena negara berbaik hati menyelesaikan masalah tanpa menimbulkan masalah. Keren kan. Ya keren banget. Kalau anda dapat bisnis seperti itu tentu langsung kaya raya. Orang semacam ABAS pun yang pimpin pasti untung. Tapi anda bukan negara. Anda swasta. Engga bisa seenaknya melakukan bisnis rente.

Baca Juga: Dampak Perang Iran-AS untuk Indonesia

Pertanyaan nya adalah, pertama, apakah dengan bisnis konsesi yang diberikan pemerintah kepada PT Jiwasraya Putra itu bukan praktek bisnis rente yang bersifat kartel?. Apakah tidak melanggar UU Persaingan Usaha. Kalau melanggar, apakah UU itu tidak berlaku kepada BUMN ( atau anak perusahaan BUMN)?. Kedua, apakah skenario ini bukan termasuk kesepakatan jahat untuk mengambil uang negara lewat jalur non APBN? dengan tujuan untuk melaksanakan bailout akibat kesalahan yang disengaja lewat awan konspirasi. Saya berharap OJK menjawab itu. Jawab dengan jujur, bukan dengan retorika seperti ngomong di ILC.

Sebelum OJK menjawab, izinkan saya berprasangka ( moga salah). Skenario ini dibuat karena ada pihak tertentu dan OJK yang terlibat dan ingin menyelesaikan masalah JS dengan skenario ponzy lagi, namun kali ini yang jadi korban ponzy bukan publik tapi investor yang sebagian besar adalah BUMN. Memang smart namun tetap aja culas. Tapi karena dilakukan dengan skema formal, jadi bukan dosa, dan tidak perlu merasa berdosa. Saya berharap tulisan saya ini dibaca oleh Pak Jokowi agar hati hati dengan segala usulan yang ujungnya adalah bailout. Jangan karena segelintir orang lantas rakyat banyak dikorbankan. Bayangkan, uang bailout sebanyak itu lebih dari cukup menjamin makan dan masa depan 4,2 juta anak terlantar di jalanan.. Pikirkan itu Pak.

Erizeli JB (Pecinta Kebijaksanan)

Comments are closed.