Jokowi Benahi BUMN

3
210
Jakarta, NAWACITA - Dari data BPK hasil audit 2014 yang di release tahun 2015 , ada 146 BUMN yang menderita kerugian. Dari sejumlah itu ada enam besar langganan rugi yaitu Perum Bulog, PT. Perusahaan Gas Negara ,PT.PLN. PT. PAL, PT. Garuda Indonesia, PT.Pertamina tapi potensi rugi akibat PT.Petral, dimasukkan maka PERTAMINA mempati urutan nomor 1 dalam daftar kerugian BUMN. Ini warisan yang diterima oleh Jokowi dari SBY.
Jokowi Benahi BUMN

Jakarta, NAWACITA – Dari data BPK hasil audit 2014 yang di release tahun 2015 , ada 146 BUMN yang menderita kerugian. Dari sejumlah itu ada enam besar langganan rugi yaitu Perum Bulog, PT. Perusahaan Gas Negara ,PT.PLN. PT. PAL, PT. Garuda Indonesia, PT.Pertamina tapi potensi rugi akibat PT.Petral, dimasukkan maka PERTAMINA mempati urutan nomor 1 dalam daftar kerugian BUMN. Ini warisan yang diterima oleh Jokowi dari SBY.

Upaya perbaikan BUMN sejak Era Jokowi memang sangat rumit. Karena melibatkan bukan hanya satu perusahaan tapi ratusan. Belum lagi selama ini BUMN sebagai sapi perahan para elite politik, dengan praktek KKN yang kental. Tapi Jokowi terus melakukan terobosan, bahkan khusus untuk Pertamina dan PLN Pemerintah terpaksa melakukan akrobat politik yang berdampak kegaduhan di Senayan dari koalisi oposisi.

Baca Juga: Garuda Indonesia Merugi, Utang 49 Triliun

Era Jokowi sejak 2015-2016, terdapat 8 BUMN yang merugi. Kemudian pada 2016-2017 menurun menjadi 3 BUMN yang merugi, dan terakhir pada 2018 tercatat ada 8 BUMN yang merugi, yaitu PT Dok Kodja Bahari, PT Sang Hyang Seri, PT PAL, PT Dirgantara Indonesia, PT Pertani, Perum Bulog, dan PT Krakatau Steel dan Garuda Indonesia. Prestasi terbaik dari pemerintah Jokowi adalah mengeluarkan PERTAMINA, PLN, PT. GAS NEGARA dari daftar rugi. Maklum ketiga BUMN ini nilai kerugiannya mencapai 60 % dari total kerugian dari 146 BUMN.

Bahkan kini ketiga perusahaan itu mencatat laba significant yang sebelumnya tidak pernah terjadi. Pertamina dan PLN bisa untung besar. Tahun 2016 keuntungan PERTAMINA tembus Rp. 40 triliun dan PLN tahun 2015 untung sebesar Rp 15,6 triliun dan tahun 2016 sebesar Rp 10,5 triliun dimana penurunan terjadi sebagai konpensasi tarif bagi dunia usaha. Secara keseluruhan Laba bersih BUMN di 2017, menunjukkan peningkatan yang signifikan. Pada 2016, laba bersih yang tercatat sekitar Rp167 triliun dan tahun 2018 telah mencapai lebih dari Rp. 200 triliun.

Memang masih ada yang belum menguntungkan atau merugi. Tapi penyelesaiannya tidak terlalu rumit. Karena tidak menyangkut soal kebijakan politik. Seperti halnya Garuda merugi bukan karena business nya buruk tapi karena struktur permodalannya tidak sehat dan ini harus di perbaiki. PERUM BULOG , PT. BERDIKARI, PT. RNI yang masih merugi karena beban Public Service Obligation sangat besar, karenanya pemerintah harus memberikan subsidi dan fasilitas agar tidak merugi. Yang lain seperti ANTAM itu karena faktor harga nikel yang jatuh dipasar namun sekarang sudah membaik.

Baca Juga: Jokowi: Revaluasi Asset BUMN, Intinya ROMBAK!

Hampir semua Industri strategis seperti PT PAL Indonesia (Persero), PT Dok dan Perkapalan Surabaya (Persero), PT Krakatau Steel (Persero) Tbk, PT Boma Bisma Indra (Persero), PT INTI (Persero) dalam keadaan merugi. Ini penyebabnya dari awal pendirian memang tidak efisien dari sisi permodalan dan investasi. Dulu target pak Harto membangun industri tersebut lebih karena faktor politik , sementara unsur bisnis tidak begitu diperhatikan. Di era SBY ketika ekonomi lagi booming perbaikan struktur permodalan tidak dilakukan dan reorientasi bisnis ke pasar tidak diterapkan. Dampaknya kerugian semakin besar akibat kalah kompetisi. Ini PR Erick untuk beresin.

Ada juga BUMN yang secara bisnis engga bisa lagi dipertahankan karena faktor kompetisi akibat adanya perubahan tekhnologi dan pasar. Itu terjadi pada PT Pos Indonesia (Persero), PT Balai Pustaka (Persero). Untuk kedua perusahaan ini sebaiknya pemerintah merestruktur bisnisnya sesuai tuntutan pasar dan zaman. Tentu SDM juga harus diperbaiki agar sesuai dengan perubahan bisnis. Erick harus selesaikan ini. Engga sulit kok.

PT Hotel Indonesia Natour (Persero) sebaiknya di jual saja. Karena nilai PSO nya rendah sekali. Dalam hal PT Indofarma (Persero) Tbk yang merugi. Secara bisnis dan management tida ada yang salah. Yang salah karena perusahaan bekerja dibawah kapasitas. Pemerintah harus mendukung ekspansi perusahaan agar leading dalam bisnis Farmasi dan mencetak laba. INi harus jadi PR besar Erick agar kita mandiri dalam hal Pharmasi.

Jadi sebetulnya periode pertama Jokowi , BUMN sudah dibenahi. Dari 146 yang rugi, tinggal 8 saja yang rugi. Hanya permasalahannya, rasio laba terhadap aset, rasio aset terhadap deviden, rendah sekali.Belum mencerminkan efisiensi dan efektifitas perusahaan secara normal. Bagaimanapun itu harus diakui prestasi Jokowi dan kehebatan Ibu Rini. Nah tugas Jokowi pada periode ke dua ini dan tanggung jawab Erick adalah bagaimana caranya, BUMN harus lebih baik dari swasta dalam hal membayar pajak dan memberikan manfaat kepada rakyat banyak.

Erizeli JB (Pecinta Kebijaksanaan)

Comments are closed.