Kiat Investasi Bagi Generasi Milenial di Periode Kedua Jokowi

0
10
Kiat Investasi Bagi Generasi Milenial di Periode Kedua Jokowi

Jakarta, NAWACITA – Joko Widodo akan dilantik sebagai presiden untuk periode ke-2 pada Minggu (20/10) besok. Ia akan menjadi presiden untuk lima tahun ke depan.

Berkaitan dengan itu, generasi milenial bisa memanfaatkan masa lima tahun itu untuk mencari untung. Caranya dengan berinvestasi.

Namun, ada beberapa rambu yang perlu diperhatikan sebelum milenial menentukan investasi yang akan dipilih selama periode tersebut.

Baca Juga: Piter Abdullah: Sri Mulyani Cocok Menko Perekonomian

Perencana keuangan Mitra Rencana Edukasi (MRE) Andy Nugroho mengungkapkan sebelum berinvestasi milenial harus memperhatikan lima hal utama.

Pertama, kenali psikologis kemampuan diri kita dalam menerima risiko karena akan berpengaruh terhadap instrumen yang akan dipilih. Karakteristik tersebut menjadi tiga kelompok yaitu konservatif, moderat dan agresif.

Orang yang konservatif tidak bisa menerima risiko. Sebaliknya, orang yang agresif menyukai risiko sehingga bisa tetap tenang jika menghadapi risiko tinggi. Sementara, orang moderat berada di tengah-tengah.

“Parameter saya untuk mengetahui sebuah investasi yang dimasuki cocok bagi kita adalah kita tetap enak makan dan enak tidur apapun yang terjadi,” ujar Andy, Jumat (18/10).

Kedua, prediksi lamanya waktu berinvestasi, apakah untuk jangka pendek atau kurang dari 1 tahun, jangka menengah 1-3 tahun, atau jangka panjang lebih dari 3 tahun.

Baca Juga: Ekonomi AS Loyo, Rupiah Perkasa di Rp14.155 per Dolar AS

Ketiga, pertimbangkan kemudahan untuk dijual atau dijadikan uang lagi (likuiditas). Produk-produk keuangan seperti reksadana dan obligasi kebanyakan sangat mudah dicairkan.

“Properti meskipun potensi cuannya tinggi namun termasuk yang kurang likuid,” ucapnya.

Keempat, pahami tujuan investasi apakah untuk biaya menikah, beli rumah atau pensiun.

Kelima, pelajari skema pajak yang harus dibayarkan apabila menjual investasi yang dipilih.

“Ada beberapa yang pajaknya sudah final dan ada yang belum sehingga pajaknya harus ditanggung sendiri, yang tentunya akan mengurangi laba kita,” katanya.

Setelah mempertimbangkan kelima hal tersebut, milenial bisa memilih berbagai instrumen yang masing-masing memiliki kekurangan dan kelebihannya.

Baca Juga: Amerika Serikat Sanksi Ekonomi Baru Bagi Turki?

Instrumen pasar saham, misalnya, berisiko tinggi namun untuk jangka panjang bisa mendapat keuntungan baik dari proses perdagangan maupun dividen perusahaan.

Untuk menekan risiko, milenial bisa memilih saham papan atas (blue chip) yang volatilitasnya tidak ekstrem.

Berikutnya, sambung ia, reksa dana berbasis saham atau campuran.

“Karena jangka waktu 5 tahun kemungkinan pertumbuhan nilai aktiva bersih akan berasa,” jelasnya.

Alternatif lainnya adalah logam mulia yang memiliki potensi pertumbuhan nilai yang baik dan properti yang membutuhkan modal besar tapi potensi labanya juga besar.

Selain itu, dalam tempo 5 tahun, milenial juga bisa bergabung menjadi pemodal suatu bisnis. Bisa bisnis yang dirintis oleh seseorang maupun investasi fintech yang saat ini marak.

Andy mengingatkan investasi yang dilakukan secara berkala sebaiknya disisihkan dari 10 persen penghasilan yang diterima setiap bulan. Namun, jika mampu menyisihkan porsi lebih besar tanpa mengganggu kebutuhan lain akan lebih baik.

Baca Juga: TNI, Menjaga Keamanan Negara dan Mengembangkan Ekonomi Kerakyatan

Perencana keuangan Finansia Consulting Eko Endarto menambahkan pertimbangan sebelum melakukan investasi perlu dilakukan agar bisa terhindar dari kesalahan-kesalahan yang kerap dilakukan investor pemula.

Beberapa contoh kesalahan yang kerap dilakukan adalah salah memilih produk investasi; tujuan jangka panjang memakai produk jangka pendek; dan, sebaliknya, panik dengan kondisi jangka pendek padahal tujuan jangka panjang.

Kesalahan lain yang juga kerap dilakukan adalah tidak melakukan evaluasi berkala. Terkait jenis investasi yang cocok selama lima tahun ke depan, Eko menilai produk yang memberi hasil tinggi dengan risiko tinggi bisa menjadi pilihan seperti saham dan reksa dana saham. Selain itu, instrumen lain seperti properti dan emas juga bisa menjadi alternatif.

“Jangka waktu (yang panjang) bisa mengurangi risiko,” jelasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here