Akademisi UJSP Keberlanjutan Start Up memerlukan Ekosistem

0
247
Akademisi UJSP Keberlanjutan Start Up memerlukan Ekosistem
Akademisi UJSP Keberlanjutan Start Up memerlukan Ekosistem

Purwokerto, NAWACITA – Akademisi dari Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto (UJSP), Jawa Tengah, Edi Santoso mengingatkan bahwa keberlanjutan perusahaan rintisan atau start up memerlukan ekosistem yang mendukung.

“Salah satu PR saat ini adalah menciptakan ekosistem agar start up bertumbuh sehingga tidak sekadar berdiri terus hilang, tetapi dapat terus muncul, berkembang, dan eksis,” katanya di Purwokerto, Kamis.

Ekosistem yang mendukung pertumbuhan start up itu, kata dia, menyangkut infrastruktur, budaya, literasi, regulasi, dan lain sebagainya.

Edi yang merupakan Koordinator Program Studi Magister Ilmu Komunikasi Unsoed itu mencontohkan, dari sisi regulasi terkait dengan sejauh mana pemerintah memberi kepastian hukum mengenai operasional sebuah start up.

“Terkait pajak misalnya, belum lama ini sempat jadi pembicaraan hangat soal pajak khusus para pelapak online,” katanya.

Selain itu, kata dia, ekosistem pendukung berikutnya adalah terkait dengan sisi budaya. “Tantangan perusahaan rintisan adalah terkait dengan budaya, bahwa tren dan zaman terus mengalami perubahan,” katanya.

Selain itu, tantangan berikutnya, kata dia, adalah dari sisi literasi digital yang perlu terus ditumbuhkan. “Literasi digital perlu terus ditumbuhkan, agar kita tak semata berperan sebagai user, tetapi juga produser,” katanya.

Dia mencontohkan, dunia game pada saat ini sedang naik daun lewat berbagai kompetisi bernama “e-sport”. Hal itu juga perlu dipikirkan, agar Indonesia ikut ambil bagian sebagai pengembang game, bukan semata pengguna.

Baca Juga : IHSG Dibuka menguat

“Harus ada transformasi, dari user ke produser dalam industri digital ini, karena PR kita sebetulnya masih banyak dalam mengembangkan start up ini,” katanya.
Dia mengakui, meningkatnya jumlah perusahaan rintisan pada saat ini perlu mendapat apresiasi.

“Meningkatnya jumlah start up tentu saja pertanda baik, bahwa semakin banyak orang yang ambil bagian dalam masyarakat 4.0 ini. Tapi kita tak semata melihat data kuantitatifnya, seberapa mampu start up itu untuk terus berlanjut, itu juga layak untuk diperhatikan,” katanya.