Perang Diskon, Masa Depan Uang Elektronik

0
165
Transaksi Digital/Elektronik

Jakarta, NAWACITA – Perkembangan teknologi membuka peluang bisnis bagi industri uang elektronik alias uang digital di Indonesia. Kondisi ini didukung dengan perubahan pola masyarakat yang mulai mengarah kepada transaksi nontunai atau cashless. Terbukti, nilai transaksi uang elektronik pada periode Januari-Mei 2019 tumbuh signifikan. Bank Indonesia (BI) mencatat nilai transaksi uang elektronik tumbuh sebesar 76,46 persen dari Rp543,13 miliar tahun lalu menjadi Rp958,42 miliar periode yang sama tahun ini.

Menariknya, dompet elektronik nonperbankan seperti Gopay, OVO, dan Dompet Digital Indonesia (Dana) cukup mendapatkan tempat di hati masyarakat. Buktinya, bank sentral mencatat rata-rata transaksi pembayaran pengguna uang elektronik nonbank lebih tinggi dari uang elektronik terbitan bank.

Nilainya mencapai Rp33 ribu per transaksi jauh lebih tinggi dari rata-rata transaksi pengguna uang elektronik terbitan bank yang hanya Rp13 ribu per transaksi.

Tak ayal, pasar uang elektronik menjadi lahan menggiurkan bagi perusahaan-perusahaan yang berkecimpung di dalamnya. Berbagai uang elektronik pun lahir meramaikan pasar ini. Bahkan, perusahaan negara tak mau ketinggalan cuan dari uang elektronik.

Lewat bank Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bekerja sama dengan perusahaan pelat merah lainnya, pemerintah membuat layanan pembayaran nontunai LinkAja yang dikelola PT Fintek Karya Nusantara (Finarya).

Chief Marketing Officer (CMO) LinkAja Edward Kilian Suwignyo mengaku perusahaan akan fokus pada kebutuhan sehari-hari konsumen sebagai strategi menghadapi perang di industri uang elektronik. Mereka menyatakan tak akan mengandalkan diskon demi menggaet pasar, seperti yang dilakukan oleh pendahulunya.

“Kenapa kami tidak mau bertarung dengan sistem promo, itu karena kami fokus pada suatu kemudahan bukan kemurahan,” tutur Edward, Kamis (4/7).

Ia mengatakan LinkAja memiliki empat layanan yang terdiri dari transportasi, produk digital, merchant, dan layanan keuangan. Di layanan transportasi, pengguna aplikasi bisa menikmati pembayaran tol dengan teknologi RFID, pembayaran parkir, dan taksi Blue Bird.

Teknologi RFID itulah, kata Edward, yang akan menghubungkannya dengan aplikasi LinkAja. Nantinya, saldo uang elektronik akan otomatis terpotong.

“Jadi kalau sudah ada teknologi RFID ini, bayar tol bisa dilakukan tanpa buka kaca dan bisa melewati gerbang tol tanpa harus berhenti dulu,” ucap Edward.

Tak mau kalah, Direktur OVO Harianto Gunawan mengatakan perseroan akan fokus pada inovasi layanan bagi pengguna. Saat ini, konsumen bisa menggunakan OVO untuk melakukan berbagai pembayaran hingga fasilitas layanan keuangan seperti pinjaman ritel.

Ia bilang OVO dapat digunakan untuk bertransaksi di 500 ribu merchants di lebih dari 300 kota di Indonesia.

“Pasar uang elektronik saat ini masih berkembang pesat dan OVO melihat besarnya potensi uang elektronik untuk mendorong pertumbuhan ekonomi digital serta pemerataan akses layanan keuangan,” katanya kepada CNNIndonesia.com.

Sementara itu, Chief Communication Officer Dana Chrisma Albandjar mengatakan Dana akan fokus pada peningkatan user experience (pengalaman konsumen) khususnya pengalaman bertransaksi digital yang aman, mudah, cepat, dan akurat. Menurutnya, user experience adalah kunci untuk memperkuat kepercayaan pengguna untuk tetap menggunakan Dana.

Hal ini juga menjadi stimulus bagi masyarakat yang masih menggunakan transkasi tunai untuk beralih ke layanan digital.

“Pengalaman, kenyamanan, dan kepercayaan pengguna sangat penting untuk kami,” katanya.

(ANT)