Donald Trump dan Xi Jinping, Kembali Negosiasi Perdagangan

1
113

Osaka Jepang, NAWACITA- Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping sepakat untuk gencatan senjata dan memulai kembali negosiasi perdagangan yang macet pada bulan lalu. Hal ini dinilai berdampak positif untuk ekonomi global dan Indonesia.

“Ini sinyal positif dari G20 dengan renegosiasi terkait kebijakan tarif. Artinya besar kemungkinan perang dagag bisa sedikit mereda. Setidaknya tidak ada kenaikan tarif bea masuk yang baru,” ujar Ekonom Indef Bhima Yudhistira, Sabtu (29/6).

Ia menuturkan, sentimen tersebut dapat menjadi kesempatan bagi eksportir Indonesia untuk meyakinkan calon pembeli di tujuan ekspor Amerika Serikat (AS) dan China untuk menjalankan kontrak pembelian jangka panjang.

“Kemarin sempat tertunda karena wait and see pertemuan Trump dengan Xi Jinping, sekarang saatnya genjot ekspor lagi,” kata dia.

Ia menambahkan, kalau ekspor Indonesia mulai membaik tentu berdampak berkurangnya defisit neraca dagang.

Ditambah efek positif renegosiasi dagang tersebut dapat mendorong perbaikan pertumbuhan ekonomi, stabilitas kurs rupiah, dan pendapatan masyarakat di sektor komoditas.

Meski demikian, Bhima menegaskan kalau renegosiasi dagang tersebut bukan berarti perang dagang selesai.Oleh karena itu, masih ada ketidakpastian di global. “Cuma negosiasi baru. Yang penting tidak ada pemberlakuan tarif baru,” tutur dia.

Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping sepakat untuk gencatan senjata lain dalam perang dagang yang menghilangkan ancaman langsung yang membayangi ekonomi global.

Donald Trump dan Xi Jinping sepakat untuk memulai kembali negosiasi perdagangan yang macet bulan lalu. Selain itu, AS sepakat tidak mengenakan tarif baru pada barang-barang China. Trump menuturkan, AS akan merilis pernyataan sekitar pukul 3.30 malam waktu setempat.

“Kami memiliki pertemuan yang sangat baik dengan Presiden China Xi Jinping. Bagus sekali. Saya mengatakan sangat baik. Sebagus yang akan terjadi.Kami membahas banyak hal dan kami segera kembali ke jalur semula,” ujar Trump kepada wartawan di sela-sela pertemuan KTT G20 di Osaka, Jepang, seperti dikutip dari laman yahoofinance, Sabtu, 29 Juni 2019.

Kembalinya ke meja perundingan mengakhiri kebuntuan dalam enam minggu ini telah membuat perusahaan dan investor gelisah. Dengan kembalinya perundingan sementara waktu mengurangi kekhawatiran kalau dua ekonomi terbesar di dunia itu menuju perang dingin baru.

Akan tetapi, tidak jelas apakah kedua negara tersebut dapat mengatasi perbedaan yang sebabkan runtuhnya gencatan sebelumnya yang dicapai pada G20 tahun lalu.

Kekhawatiran buntunya negosiasi perdagangan telah mendorong investor untuk bertaruh pada pelonggaran bank sentral dan mendorong aset ke investasi safe haven. Imbal hasil surat berharga jatuh ke level terendah dan yen Jepang menguat. Sementara itu, dolar AS tergelincir termasuk terhadap yuan, mata uang China.

Sejak pembicaraan gagal pada 10 Mei, Trump telah menaikkan tarif USD 200 miliar barang China menjadi 25 persen dari 10 persen. Akhir-akhir ini, ia mengindikasikan pengenaan tarif 10 persen untuk barang impor dari China senilai USD 300 miliar termasuk telepon pintar dan pakaian anak-anak.

Kendala besar lainnya pemerintahan AS yang rilis daftar hitam Huawei Technologies pada bulan lalu atas keamanan nasional yang mengancam memutus akses perusahaan tersebut ke teknologi AS. Pemerintah AS telah melobi sekutu di seluruh dunia untuk tidak membeli peralatan Huawei yang menurut AS dapat digunakan untuk mata-mata China.

Sementara itu, Xi menghabiskan banyak dari pertemuan puncak untuk menjanjikan membuka ekonomi China dan mengecam meski tidak menyebut AS karena serangan terhadap sistem perdagangan global.

Dalam sambutannya kepada para pemimpin Afrika, Xi mengambil langkah tidak begitu halus pada kebijakan perdagangan Trump dan memperingatkan terhadap praktik intimidasi. Ia juga menambahkan kalau setiap upaya untuk menempatkan kepentingan diri sendiri terlebih dahulu dan melemahkan orang tidak akan memenangkan popularitas apa pun.

Xi juga mengatakan, kalau G20 harus menjunjung tinggi kelengkapan dan vitalitas rantai pasokan global. China bersikeras kalau Huawei harus dihapus dari daftar hitam berdasarkan kesepakatan apapu.

Sedangkan Donald Trump menegaskan mengenai pengurangan defisit perdagangan AS dan China yang mencapai rekor USD 419 miliar pada tahun lalu. Akan tetapi, fokus pemerintahannya telah bergeser untuk membatasi akses China ke inovasi AS. Pemerintah China pun menanggapi dengan retorika yang semakin keras.

 

Comments are closed.