Teknologi Komunikasi Sumbang Defisit Transaksi Berjalan Nyaris Rp 5 Triliun

10
90
Rupiah Akhir Pekan Melemah 64 Poin di 14.180.

Jakarta, NAWACITA – Teknologi informasi dan komunikasi termasuk peralatan elektronik, gim, dan aplikasi ponsel. Komite Ekonomi dan Industri Nasional (Kein) menyatakan sektor Teknologi, Informasi, dan Komunikasi (TIK) turut berkontribusi terhadap besarnya defisit transaksi berjalan. Pada kuartal I 2019, sektor ini menyumbang defisit US$ 339 juta atau sekitar Rp 4,8 triliun.

Kondisi ini seiring besarnya impor di sektor TIK, seperti peralatan elektronik, gim, hingga aplikasi ponsel. “Produk TIK masih banyak impor,” kata Dekan Fakultas Ekonomi dan Manajemen Institut Pertanian Bogor Nunung Nuryartono di Jakarta Kamis, 27/6/2019.

Ia memaparkan, jumlah aplikasi ponsel yang diunduh selama 2018 mencapai 5,08 miliar. Total biaya untuk mengunduh aplikasi tersebut mencapai US$ 313,6 juta. Sedangkan berdasarkan data UN Comtrade, impor mesin dan peralatan elektronik sebesar US$ 21,45 miliar, atau 11,37% terhadap total impor barang pada sebelumnya.

Ia pun mencontohkan Vietnam yang mulai membangun industri TIK. Vietnam membangun jalur telekomunikasi tambahan untuk menjamin semua provinsi terhubung secara digital dengan kota besar. Strategi pemerintah ini berhasil meningkatkan pengguna ponsel Vietnam mencapai 134 juta pada 2012 serta menjadikan Vietnam sebagai pengguna ponsel keenam di dunia.

(Neraca Transaksi belanja dan persentase terhadap PDB; TWI 2014 – TWI 2019). 

(ANT)

Comments are closed.