Jakarta, NAWACITA Pemerintah telah memperioritaskan produksi batu bara ‎diserap konsumen dalam negeri. Hal ini untuk menjadikan komoditas tersebut tidak hanya menjadi sumber pendapatan negara, tetapi pertumbuhan ekonomi.

Dilansir Liputan6, Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Bambang Gatot mengatakan, sejak 2011 hingga 2017, penyerapan batu bara di pasar domestik telah meningkat sebesar 27 persen setiap tahun. Pada 2019 diharapkan dapat meningkat sebesar 60 persen dari produksi yang ada.

“Perlahan tapi pasti, kami mulai memprioritaskan kebutuhan domestik,” kata Bambang, saat menghadiri Coaltrans di Nusa Dua Bali, Senin (24/6/2019).

Menurut Bambang, pemerintah memiliki tantangan untuk membenahi pertambangan batubara, sebab cadangan batu bara yang dimiliki tidak basar. Sebab itu perlu ditingkatkan kegiatan pencarian cadangan dengan mengedepankan aspek ramah lingkungan.

“Jadi kita masih dipandang dunia, walaupun memang cadangan kita enggak sebesar negara-negara yang punya cadangan besar seperti China, Itali dan sebagainya dan itu menjadi tantangan pemerintah,” tuturnya.

Ketua Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI) Pandu Sjahrir mengungkapkan, ‎untuk menjaga kelestarian lingkungan dalam penggunaan batu bara membutuhkan biaya tambahan, sebab harus menyiapkan teknologi yang ramah lingkungan. Saat ini pun sudah terapkan pada Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) yang mampu menyerap karbon hasil pembakaran batu bara (carbon capture).

“Jadi bukan hanya ketahanan aja, tapi keberlanjutan dan lingkungan. Jadi lingkugan suda jadi agenda utama, tapi ya efeknya pembangkut costnya harus kita tambah karena kan harus dikelola,” tandasnya.

(ANT)

Baca juga :  Pemerintah Komitmen Perkuat Infrastruktur dan Optimalkan Pemanfaatan Gas Bumi