Kementerian Perindustrian  Sebut Manufaktur RI Terus Membaik

0
27

Jakarta, NAWACITA –  Kementerian Perindustrian menyebut kondisi bisnis yang dihadapi oleh para pelaku industri manufaktur Indonesia terus membaik pada pertengahan kuartal kedua tahun 2019. Pendorong kenaikan adalah ekspansi yang lebih kuat pada produksi dan pertumbuhan permintaan baru.

Hal tersebut tercemin dari data Purchasing Managers Index(PMI) manufaktur Indonesia yang dirilis oleh Nikkei yang menunjukkan PMI manufaktur Indonesia pada Mei tahun ini sebesar 51,6, atau naik dibanding bulan sebelumnya yang ada di posisi 50,4.

Poin PMI di atas angka 50 menandakan bahwa sektor manufaktur tengah ekspansif. Capaian bulan Mei 2019 merupakan yang tertinggi sejak Agustus 2018. Pada periode bulan Mei memperlihatkan kepercayaan diri pelaku manufaktur Indonesia terus melonjak, perusahaan juga menaikkan jumlah tenaga kerja, dan menaikkan aktivitas pembelian.

“Kami melihat, para pelaku industri manufaktur masih tetap optimistis untuk melakukan ekspansi atau menambah investasi. Hal ini didukung dengan kondisi politik, ekonomi, dan keamanan di Indonesia yang stabil dan kondusif, terutama pascapemilu kemarin,” kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto dikutip dari keterangan resmi, CNN Indonesia Minggu (2/6).

Airlangga optimis kinerja industri manufaktur semakin menggeliat. Apalagi, menurut dia, infrastruktur transportasi kini sudah semakin baik.

Ditambhkan lagi, potensi pengalaman industrialisasi di Indonesia yang lebih dari 30 tahun sehingga telah memiliki sumber daya manusia untuk sektor unggulan. “Guna menggenjot kinerja industri, pemerintah juga memprioritaskan pendidikan vokasi dan politeknik dengan memperkenalkan sistem link and match untuk mereformasi kurikulum,” imbuhnya.

Untuk itu, selain memfasilitasi pembangunan sejumlah politeknik di kawasan industri, ia mengaku pihaknya telah mengusulkan pemberian insentif fiskal. Insentif tersebut berupa super deductible tax untuk industri yang aktif melakukan kegiatan penelitian dan pengembangan untuk menghasilkan inovasi serta industri yang terlibat dalam program pendidikan dan pelatihan vokasi.

Ia pun meyakinkan insentif fiskal tersebut akan mendongkrak daya saing industri.

Ia menambahkan, salah satu sektor manufaktur yang kian agresif berinvestasi di Indonesia, yakni industri elektronika. Ia mencontohkan perusahaan elektronik asal Taiwan, Pegatron menggandeng industri elektronik nasional di Batam untuk memproduksi komponen dan perlengkapan wifi yang telah diekspor ke Amerika Serikat.

“Mereka menyampaikan bahwa akan menaikkan jumlah produksinya dan memproduksi produk elektronika lainnya dalam kapasitas kerja sama dengan Satnusa. Selain itu, mereka juga sedang mencari lokasi baru investasi. Selain di Batam, mereka juga mempertimbangkan Jawa Timur,” jelas dia.

“Saat ini menunjukkan persaingan ketat antara negara Asia yang berlomba-lomba mendapatkan keuntungan dari perang dagang AS-China dengan menjadikan negara-negara mereka menarik bagi investasi asing,” pungkasnya. (ANT)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here