Kebut Percepatan Pembangunan dan Pengembangan Desa

Palembang NAWACITA – Pemerintah semakin meminimilisir keberadaan desa tertinggal di negeri ini, dengan mengebut percepatan pembangunan dan pengembangan desa. Dalam rangka upaya untuk itu, para kepala desa dan pendamping desa akan diseleksi untuk dikirim studi ke luar negeri.

Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, Eko Putro Sandjojo, Kementerian Desa dan PDTT memprogramkan pengiriman kepala desa dan pendamping desa studi ke luar negeri untuk percepatan pembangunan dan pengembangan desa tahun 2019 ini.

“Pada tahun ini kami memprogramkan pengiriman kepala desa dan pendamping desa belajar atau studi ke luar negeri yang materi pendidikannya disesuaikam dengan kebutuhan desa masing-masing,” kata Eko ketika menjadi pembicara Seminar Nasional Tata Kelola Pemerintah Desa, di Palembang, Rabu.

Ia menyebut negara tujuan tempat belajar kades dan pendamping desa itu antara lain China, Jepang, Korea, dan Thailand.

Menurut Eko, kepala desa dan pendamping desa yang akan dikirim studi ke luar negeri akan diseleksi secara ketat oleh tim khusus Kemdes PDTT.

Dia menjelaskan, pengiriman kepala desa dan pendamping desa ke luar negeri bertujuan untuk mempercepat program pembangunan dan pengembangan desa sehingga ke depan tidak ada lagi desa tertinggal.

Melalui program dana desa yang digulirkan sejak 2015, jumlah desa tertinggal di Tanah Air dalam beberapa tahun terakhir bisa diminimalkan.

“Dalam beberapa tahun terakhir jumlah desa tertinggal berkurang hingga 50 persen, berdasarkan data saat ini masih ada 20 ribu desa tertinggal dan secara bertahap bisa dientaskan dengan program pembangunan yang didukung dana desa,” ujarnya.

Eko menjelaskan, sesuai Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) tahun 2015-2019, 5.000 desa tertinggal menjadi target untuk menjadi desa berkembang, dan 2.000 desa berkembang meningkat derajadnya menjadi desa mandiri.

Baca juga :  Pemindahan Ibu kota, Menteri PPN/Bappenas : Kita Ingin Jadi yang Terbaik di Muka Bumi

Target tersebut terpenuhi pada 2018 bahkan melampaui angka yang ditetapkan dalam RPJMN yakni mencapai 6.518 desa tertinggal terentaskan menjadi desa berkembang dan 2.665 desa berkembang meningkat menjadi desa mandiri.

“Dengan didukung program baru pengiriman kepala desa dan pendamping desa studi ke luar negeri, diharapkan bisa mendorong kemajuan desa lebih pesat lagi,” tutup Eko.