Jepang Akui Indonesia Mitra Penting di Segala Bidang

54
204
Foto: Ist

Nawacitapost – Director Metal Industries Division Manufacturing Industries Bureau – Ministry of Economy, Trade and Industry (METI) Takanari Yamashita mengatakan, Indonesiamerupakan mitra penting bagi Jepang di segala bidang, khususnya sektor industri.Hal ini ditunjukkan dari kunjungan kenegaraan Perdana Menteri Jepang, Shinzo Abe ke Indonesia Januari lalu yang membawa 30 CEO perusahaan besar asal Negeri Sakura tersebut untuk menjajaki kerja sama dengan pengusaha lokal.

“Menurut JETRO, sebanyak 1.533 perusahaan Jepang sudah berinvestasi di Indonesiadengan nilai mencapai USD26,6 miliar,” ungkapnya. Yamashita memberikan apresiasi kepada pemerintah Indonesia yang terus menciptakan iklim usaha kondusif melalui deregulasi dan paket kebijakan ekonomi sehingga mampu menarik investor luar negeri dan memudahkan dalam menjalankan bisnis. “Perusahaan Jepang sangat memperhatikan pertumbuhan industri di Indonesia, dan ingin agar Indonesia tetap menarik sebagai tujuan investasi,” ujar Takanari Yamashita, di Jakarta, beberapa saat lalu.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Indonesia Iron and Steel Industry Association (IISIA)Hidayat Triseputro memperkirakan pertumbuhan industri baja pada triwulan keduatahun ini akan lebih tinggi, yakni sebesar 6-9 persen daripada triwulan pertama. “Program infrastruktur akan menjadi pendorong permintaan baja pada triwulan kedua. Apalagi, pemerintah juga menargetkan beberapa proyek jalan maupun tol selesai sebelum Lebaran,” ujarnya.

Menurutnya, baja untuk konstruksi berkontribusi 70 persen terhadap permintaan baja domestik. Selain itu, permintaan datang dari industri otomotif sebagai hasil dari kebijakan low cost and green car (LCGC) dan galangan kapal dengan adanya program Tol Laut. “Sektor otomotif juga membantu mendorong permintaan lantaran menjelang Lebaran pasti penjualan kendaraan bermotor mengalami kenaikan,”jelasnya.

Hidayat juga menuturkan, pertumbuhan permintaan baja dapat dinikmati industri lokal jika pemerintah membatasi baja impor terutama dari Tiongkok. Untuk itu,pemerintah perlu tegas menerapkan program P3DN dan tingkat kandungan dalam negeri (TKDN).

Dirjen Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (ILMATE) Kemenperin I Gusti Putu Suryawirawan menyatakan, dalam pengembangan industri baja di dalam negeri, Kemenperin terus berupaya memperkuat struktur industri, menjalin kerja sama untuk penumbuhan industri hulu, meningkatkan kapasitas produksi karena kebutuhan meningkat.

“Tiap tahun, permintaan baja di dalam negeri mencapai 12 juta ton, dan pertumbuhan baja mengikuti pertumbuhan ekonomi. Artinya, kebutuhan baja juga meningkat, untuk selanjutnya harus bisa mengantisipasi pertumbuhan industrinya,” ujar Putu.

Lebih lanjut, kata Putu, pihaknya bersama pemangku kepentingan terkait lainnya juga tengah berupaya untuk mengendalikan impor besi dan baja. Sebab adanya impor di sektor hilir industri besi dan baja membuat spekulan tumbuh subur. “Produk besi dan baja sangat dimungkinkan untuk ditimbun. Hal itulah yang menjadi peluang bagi spekulan untuk melancarkan aksinya,” ujarnya.

Menurut Putu, jika impor besi dan baja tidak dikontrol dan semakin besar, akan membahayakan keberlangsungan industri hulu di dalam negeri. Para investor pun enggan untuk berinvestasi di sektor ini jika harga pasar dikendalikan oleh para spekulan. “Jika di hulu tidak bisa menyuplai, maka industri hilirnya akan lebih banyak mengimpor. Kalau sudah begitu, selain hulunya tidak bisa tumbuh, juga akan membebani neraca perdagangan kita,” imbuhnya. (val)

 

Comments are closed.