Foto: Gaikindo

Nawacitapost – Kemenperin mencatat, selama tahun 2016, Jepang merupakan investor terbesar kedua di Indonesia dengan nilai mencapai USD5,4 miliar, namun penanaman modal tersebut lebih banyak di sektor infrastruktur seperti pembangkit listrik dan alat transportasi massal.

Terkait investasi Jepang di Indonesia, Kemenperin  meminta Jepang lebih meningkatkan investasi di sektor industri baja hulu, seperti produk crude steel (baja kasar) baik dalam bentuk slab (lembaran) maupun billet (batangan). Bahan baku tersebut banyak dibutuhkan dalam proyek infrastruktur di dalam negeri dan menunjang sektor industi lainnya.

“Apalagi, Kementerian Perindustrian tengah memacu program industri prioritas nasional, antara lain sektor ship building, otomotif, permesinan, dan logam dasar sehingga kebutuhan besi baja dalam negeri meningkat seiring juga dengan pembangunan infrastruktur,” kata Direktur Industri Logam Kemenperin Doddy Rahadi pada acara Indonesia-Japan 7th Steel Dialogue di Yogyakarta, beberapa waktu lalu.

 

Doddy berharap, investasi baru dari Iepang bisa menjadikan Indonesia sebagai basis manufaktur yang siap memasuki pasar domestik, ASEAN dan dunia.“Maka, kami memberikan apresiasi kepada PT. Krakatau Nippon Steel Sumikin, PT. Krakatau Osaka Steel, dan PT. JFE Steel Galvanizing Indonesia yang telah berinvestasi di sektor industri baja hulu terutama untuk memenuhi pasar domestik,” paparnya.

Terkait investasi, pemerintah Indonesia memberikan kemudahan bagi para investor yang menanamkan modalnya di Indonesia, antara lain dalam bentuk keringanan pajak berupa tax holiday dan tax allowance serta bea masuk untuk mesin produksi danbahan baku. “Selain itu, kami juga berusaha untuk memberikan fasilitas user specific duty free scheme (USDFS) kepada PT. Krakatau Nippon Steel Sumikin dan PT. JFE Steel Galvanizing Indonesia,” ungkap Doddy.

Dengan kemitraan Indonesia dan Jepang semakin kuat dalam membangun industri baja, diharapkan dapat mengambil manfaat pasar regional yang sejalan dengan pemberlakuan Masyarakat Ekonomi ASEAN. “Berdasarkan data kami, sampai dengan tahun 2019, secara total negara ASEAN membutuhkan lebih dari USD1 triliun untuk membangun infrastruktur,” papar Doddy.

Baca juga :  Pertemuan Tahunan 2021, Optimisme Jatim Bangkit: Sinergi dan Inovasi untuk Mempercepat Pemulihan Ekonomi Jawa Timur

Selain potensi pasar ASEAN tersebut, Indonesia juga membutuhkan sekitar USD235 miliar untuk pembangunan infrastruktur dan perumahan sehingga membuat kebutuhan besi dan baja konstruksi meningkat sebesar 8,5 persen per tahun.

Untuk itu, dalam upaya menambah investasi di sektor industri baja, Kemenperin mendorong program pengembangan klaster industri baja di Cilegon, Banten agar mampu memproduksi 10 juta ton baja pada tahun 2025. Selain itu, Kemenperin menargetkan dalam waktu lima tahun ke depan, telah tersedia empat juta ton bajastainless dari kawasan industri Morowali, Sulawesi Tengah.

Sebelumnya, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengatakan, industri logam disebut sebagai mother of industry karena produk logam dasar merupakan bahan baku utama bagi kegiatan sektor industri lain, diantaranya industri otomotif, maritim, elektronika, serta permesinan dan peralatan pabrik.

“Penggunaan bahan baku logam domestik terus ditingkatkan untuk pemanfaatan secara optimal di industri hilir,” ujarnya. Untuk itu, Kemenperin memacu pengembangan dan daya saing industri logam berbasis sumber daya lokal karena prospek sektor induk ini di masa mendatang masih cukup potensial.

Dalam upaya melindungi dan mendorong pertumbuhan industri logam nasional,Kemenperin juga telah mendorong pemberlakuan SNI wajib. Selain itu,pelaksanaan program Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri (P3DN). Upaya-upaya tersebut sekaligus untuk pengamanan pasar domestik, mengurangi ketergantungan produk impor, serta meningkatkan nilai tambah produk dalam negeri.

Selain peningkatan investasi Indonesia-Jepang di sektor industri, diharapkanjuga terjalin kerja sama di bidang pendidikan vokasi industri. Upaya ini untuk meningkatkan kompetensi sumber daya manusia di Indonesia sehingga siap kerja sesuai kebutuhan di lapangan. “Seperti perusahaan otomotif Jepang yang memberikan pelatihan kepada para tenaga kerja lokal. Ini juga bisa dilakukan di sektor lainnya,” tegas Airlangga. (rian)

Baca juga :  Pemda Se Kepulauan Nias Perlu Membentuk Komite Khusus, Beesokhi Ndruru : Hemat Anggaran dan Target Tercapai

Comments are closed.