Jumat, 5 Juni 2026

Mau Juara di Nias atau Dimana Saja, Pemerhati Sosial Kepni Barugamuri Dachi : Harus Berdampak

Photo Author
Ronaldy, Nawacita Post
- Minggu, 22 Januari 2023 | 14:16 WIB
Pemerhati Sosial Kepni Barugamuri Dachi. Foto Ist.
Pemerhati Sosial Kepni Barugamuri Dachi. Foto Ist.

Jakarta, NAWACITAPOST.COM – Tulisan yang berjudul “Pemerhati Politik Nusantara Faigiziduhu Ndruru : Orang Nias Jangan Bangga Juara di Kampung Sendiri,” yang ditayangkan di media nawacitapost.com, pada Rabu (18/1/2022), berdasarkan wawancara nawacitapost.com dengan pemerhati politik nusantara, Faigiziduhu Ndruru. Pemerhati sosial Kepni yang telah suskes merantau, Barugamuri Dachi angkat suara, ditemui nawacitapost.com melalui aplikasi WhatsApp, Sabtu siang (22/1/2023).


Baca Judulnya,  sudah menggelitik, karena disana ada kata jangan bangga dan ada kata juara, jadi ketika kita juara di kampung sendiri seolah-olah kita tidak boleh bangga. Tapi ini menarik, ini pemikiran yang menurut saya, perlu dieksplor oleh kita, oleh masyarakat Nias lah maupun orang-orang Nias yang berada di perantauan atau orang yang berada di kampung sendiri (Nias), tutur dosen di Universitas Trisakti dan Institut Bisnis Nusantara.

Masih menurut Barugamuri Dachi. Sebenarnya urusan kita berkarya, berprestasi seharusnya itu bukan dari tempatnya, karena yang perlu digarisbawahi adalah dampaknya. Ketika kita berkarya, sekalipun misalnya di luar daerah atau di dalam daerah (kampung sendiri) yang perlu digarisbawashi adalah tujuannya.

Sehingga, kalau ada tujuannya bagaimana dampaknya. Tapi memang menarik, ketika kita ngomong dari sisi daerah (misalnya Nias). Kenapa Nias, terutama SDM-nya itu diharapkan, lebih bisa mengeksplor dirinya untuk menunjukan kemampuan dan kualitas sebagai orang Nias sendiri. Karena, kalau dilihat daripada sejarahnya kepulauan Nias itu, kalau dilihat dari bangsa Indonesia ini, mungkin masih  butuh sentuhan pembangunan, butuh perhatian. Sehingga siapapun yang datang ke sana (Kepni) sekalipun bukan orang Nias, bahkan sekalipun orang Nias, tidak ada pilihan selain harus berdampak, jelasnya.

“Sehingga mau menjadi pemimpin disana, mau jadi pengusaha disana, Anda harus punya dampak. Karena itu yang diharapkan disana (di Nias). tetapi, ketika kita orang Nias, keluar Nias, merantau  segala macam, apakah kita punya tanggungjawab untuk berdampak? Tentu saja, tetap harus berdampak. Tetapi rasanya, menjadi berbeda kemudian, ketika saya mengatakan, oh saya mau pulang ke Nias, melakukan sesuatu atau saya mau keluar Nias melakukan sesuatu. Sebenarnya, dua hal ini, mau berkarya di Nias sendiri sebagai orang Nias atau berkarya di luar Nias, sebenarnya sama-sama punya nilai dan tentu saja tujuan siapa yang melakukannya,” ujarnya.

Lebih kanjut Barugamuri Dachi. “Ketika ada orang yang berdampak kepada masyarakat, tentu itu jadi inspirasi. Ada beberapa oran Nias yang saya kenal, dia berasal dari kampung, desa, ketika merantau ke luar Nias. Sekarang mereka sudah senior-senior. Mereka itu  menjadi tokoh nasional saat ini di Indonesia. Dan itu menjadi inspirasi kepada generasi muda saat ini, dan kepada kita-kita. Dan, apakah mereka itu sudah menjadi juara di kampung orang lain? Saya juga kurang tahu ya, mungkin itu perlu ditanyakan kepada mereka.”

Tetapi ada juga orang-orang Nias yang sudah berhasil di perantauan, tetapi mencoba datang ke Nias, menawarkan diri untuk membuat perubahan, yang paling mudah mungkin melalui jalur politik (baca “Pilkada dan Pileg), tetapi ada juga yang kemudian tidak berhasil, tidak diterima oleh masyarakat Nias di sana (kampung sendiri). Ya, mungkin ada asumsi di Nias terutama, ketika berhasil tidak pernah melihat Nias, tetapi ketika sampai dititik puncak karier, baru melirik Nias. padahal, gak seperti itu juga, menurut saya. Karena masyarakat kita ini, masih belajar,terutama dalam  perspektif demokrasi, ya kita tahulah kualitas demokrasi di Indonesia dan lebih spesifik lagi di Nias, hal ini menjadi sangat subjektif sebenarnya, itu menurut saya. Tetapi intinya, balik lagi ke dampak. Ketika kita melakukan sesuatu di kampung. Ok saya mungkin menarik, siapa sih orang dari Nias, yang dulu ada diperantauan sekarang sudah  berhasil, kemudian datang ke Nias dan memberi dampak.

Mungkin, bisa di cek lah, misal datang ke Nias Selatan, yaitu tokoh Pendidikan yang mendirikan Universitas Nias (Unias), itu orang hebat yang suskes di Jakarta ini, dan bekerja di lembaga internasional, dan pulang ke Nias, kemudian mendirikan Unias hingga saat ini, itu menurut saya sangat berdampak. Karena, ketika kita ngomong berdampak, ya kita butuh waktu juga. Tidak ujug-ujug datang ke Nias, satu, dua tahun sudah langsung berdampak, gak seperti itu kita butuh waktu (proses) untuk sampai pada titik berdampak. Dan, yang lain yang ada di Nias kemudian berdampak, ya jarang dieksplor menurut saya, itu founder yang di Gunungsitoli, yaitu museum Nias, Pastor Yohanes (padahal itu bukan orang Nias, dan dia lebih dari orang Nias). dia melakukan sesuatu di Nias itu prosesnya panjang sekali, dan dia sangat berdampak sampai saat ini.

Dan, dua tokoh ini, menurut saya, Pertama  Universitas Nias Raya (UNIRAYA) di Nias Selatan dan Kedua Pastor Yohanes di Gunungsitoli, yang menurut saya, sebelum mereka datang ke  Nias, mereka dua  telah menjadi seseorang yang hebat dan sukses. Mungkin, perlu juga dieksplor oleh media, orang-orang seperti ini, sehingga menjadi inspirasi kepada generasi sekarang, pungkasnya

Editor: Ronaldy

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Terkini

Musancab PDIP, Target Kembalikan 15 Kursi Dewan

Minggu, 10 Mei 2026 | 18:39 WIB