Jakarta, NAWACITAPOST.COM - Kemarahan Nasdem kepada PDIP dan rupanya menjalar ke Jokowi. Pertama kali muncul saat pelantikan DPR dan DPD periode 2019 -2024, pada Senin 1 Oktober 2019.
Baca Juga : Selamat Jalan Anies Baswedan 2022, Nikmati 280 Miliar Rupiah Tanpa Bekas
Presiden RI ke-5, Megawati Soekarnoputeri ketika hadir di acara pelantikan parlemen Senayan, melakukan salaman tangan tak sampai kepada Ketum Partai Nasdem, Surya Paloh (SP).
Ada sejumlah alasan kuat, yang hanya diketahui Megawati terkait hal tersebut. Tetapi ada dugaan dari sejumlah pengamat dan netizen, yang diakukan Megawati ke SP, ditengarai karena ulah dari SP yang menggembar-gemborkan kemenangan di Pilkada 2017 dan 2018 itu mungkin diumbar ke publik melalui media. Hal itu bisa benar dan juga tidak, alias masih dugaan.
Pasca tangan tak sampai di pelantikan DPR dan DPD itu. SP beralih labuhan hatinya. Pendekatan ke Gubernur Jakarta Anies dilakukan. Anies diundang hadir di HUT Partai Nasdem, dengan mengatakan bahwa Anies adalah pendiri partai Nasdem, dan Anies juga kader Nasdem.
Belum cukup sampai disitu, PKS pun didatangi SP bersama pengurus inti Nasdem. Kerjasama politik pun dibangun dalam berbagai cara.
Wapres RI ke-10 dan ke-12 ditemui SP elit inti Nasdem. Pembicaraan politik bisnis bukan hanya dijajaki. Melainkan mungkin diperluas, bila nanti berkuasa dalam berbagai skala daerah di kabupaten - kota, provinsi, dan nasional (bila jadi).
Kemauan SP, itu bakal terwujud. Adalah anggota DPR plus Bendum Nasdem yang juga Ketua Umum Panitia Formula E, Ahmad Sahroni disruh berlaga di Pilkada Jakarta 2024.
Tak hanya itu, Sahroni pun menantang putra sulung Jokowi, Gibran untuk berlaga juga di Jakarta. Sepertinya, lewat Pilkada Jakarta, Nasdem – SP akan melawan Megawati melalui Gibran.
Nasdem, mungkin berharap partainya akan besar, jika tak berkoalisi dengan Megawati dan Jokowi.
Padahal justru Nasdem bertambah besar. Salah satunya karena faktor Jokowi efek. Itu tak bisa dibantah dan tak bisa dipungkiri.
Terkait Pilkada Jakarta 2024. Sepertinya Nasdem, percaya diri, bahwa Sharoni akan mampu mengalahkan Gibran (seandainya mau) ikut di Pilkada Jakarta 2024. Lalu, apakah strategi kemenangan nanti, akan meniru cara-cara Anies? Yang menggunakan politik identitas. Dengan berbalut keagamaan.
Jika ini dilakukan lagi, maka siap-siap saja terjadi pembelahan sesama anak bangsa bukan dipersempit, malah diperlebar.
Kita berharap, Pilkada Jakarta 2024. Kita tidak merasakan keretakan kebhinekaan terkoyak oleh segelintir orang yang punya kepentingan pribadi dan golongannya.
Belum lagi, Nasdem pasti meminta bantuan JK. Yang kita tahu, JK ini dekat sekali dengan Taliban. Peran besar JK dalam perebutan pemerintah di Afganistan diakui oleh Taliban, Dan, Taliban sangat berterima kasih kepada JK.